
Sebuah mobil hitam meluncur dengan cepat ditengah guyuran hujan.Seorang pria di dalam mobil sedang membaca sebuah dokumen dengan serius.’’Sepertinya hari cuaca sangat buruk. Seharusnya kita tadi kembali ke kantor saja setelah rapat dengan Mr. Harding tadi.”
“Tidak Carrie. Aku ingin mengunjungi seseorang dan terima kasih kamu sudah mengosongkan sedikit jadwalku.”
Tidak jauh dari Kiana berada sebuah mobil hitam berhenti di depan gereja.’’Tuan MacAllister sepertinya hujan masih turun, apa Anda akan berteduh dulu di gereja?’’
“Tidak Carrie. Berikan payungnya!’’
Theoden keluar dari mobil begitu pun juga Carrie. Mereka berdua telah berada di depan makam ibu Theoden dan Theoden terkejut melihat bunga yang masih segar tersimpan di sana.’’Sepertinya baru ada orang yang datang kemari,”kata Theoden.
“Menurut Anda siapa?’’
“Aku tidak tahu mungkin saja kenalan ibuku.”
Tatapan Theoden terlihat sendu. Buket bunga mawar merah, ia letakan di atas nisan ibunya. Kiana yang sedang menikmati teh hijau panasnya di dalam gereja tiba-tiba tubuhnya limbung hendak jatuh jika saja ia tidak berpegangan di meja ‘’Nona ada apa?’’
“Saya merasa pusing mungkin, karena kelelahan,’’keluhnya. Bercak-bercak keringat mulai bermunculan di keningnya.
“Apa perlu saya panggilkan dokter?’’
“Tidak perlu. Saya sudah tidak apa-apa,’’jawab Kiana.
“Tapi wajah Anda terlihat pucat.”
“Sekarang saya baik-baik saja.”
Kiana kemudian duduk kembali di kursi.
“Baiklah, kalau Anda bilang sudah merasa baikan. Sebaiknya Anda beristirahat di sini saja dulu. Apa nanti akan ada orang yang menjemput Anda di sini?’’
“Tidak ada. Saya datang ke sini sendirian.”
“Hati-hatilah di jalan kalau pulang nanti!’’
“Tentu. Maaf sudah membuat Anda cemas tadi.”
Theoden dan Carrie menuruni tangga, hujan masih turun meskipun tidak sederas tadi. ‘’Bukankah Anda Tuan MacAllister?’’tanya pendeta.
“Benar.”
“Sekarang Anda datang lagi rupanya. Anda selalu datang kemari setiap bulannya. Saya pikir kali ini Anda tidak datang.”
“Pasti saya akan datang meskipun saya sibuk dengan pekerjaan.”
“Sebaiknya Anda dan nona ini berteduh dulu di gereja. Akan saya ambilkan handuk untuk kalian berdua.”
“Terima kasih.” Theoden melirik Carrie supaya ia mengikutinya.
“Silahkan duduk! Ah kemana gadis itu?’’
“Siapa?’’tanya Theoden.
“Tadi ada seorang gadis disini, tapi sekarang dia sudah tidak ada mungkin sudah pulang. Saya akan segera kembali membawakan handuk untuk kalian.”
Pendeta itu menghilang di balik dinding.
“Rupanya Anda sering datang ke sini untuk mengunjungi makam Ibu Anda.”
Wajah tampannya kembali terlihat sedih seakan-akan ia dapat kembali merasakan luka dihatinya yang masih belum sembuh benar. Hatinya masih merasakan sakit mengingat kematian tragis ibunya.
“Ini handuknya dan kalian bisa meminum teh hangat yang ada di meja sana,”
“Terima kasih.”
Theoden dan Carrie sibuk mengerikan badan mereka yang terguyur hujan tadi meskipun mereka telah memakai payung. Tanpa mereka sadari Kiana telah berdiri di depan mereka dengan wajah terkejut.
“Theoden,”panggil Kiana.
Spontan Theoden berhenti mengerikan tubuhnya dan menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Suara yang selama ini ia rindukan.
“Kiana.”
Carrie juga tidak kalah terkejutnya dengan kehadiran Kiana di sini. Selama beberapa detik mereka berdua saling memandang dan tidak berbicara seolah-olah waktu berhenti begitu saja. Tatapan keduanya saling memencarkan rasa rindu. Theoden segera mendekati Kiana.
’’Apa yang sedang kamu lakukan di sini?’’
“Aku baru saja mengunjungi makam sahabatku dan ibumu.”
“Aku juga baru mengunjungi makam ibumu.”
“Kamu datang sendirian ke sini?’’
“Iya.”
“Seharusnya kamu tidak datang ke sini sendrian.”
Suasana kembali hening. Theoden masih menatap Kiana dengan tatapan penuh cinta dan tanpa sadar ia menyentuh wajah Kiana dengan sebelah tangannya. Theoden semaki mencintai Kiana saat ia tahu bahwa Kiana adalah gadis kecil yang ia temui fi Yunani. Ia mengetahuinya sejak satu hari setelah mereka menikah.
Saat itu Kiana sedang membaca buku setelah membuatkan the untuknya.“Buku apa yang kamu baca?”
“Apa kamu menyukai ceritanya?’’
“Aku menyukainya.”
“Aku jadi teringat seseorang yang menyukai cerita ini.”
“Siapa?”
“Seorang gadis kecil yang aku temui ketika aku masih muda. Mungkin sekarang dia sudah tumbuh dewasa.”
“Apa dia cantik?’’
“Iya, dia memang anak dan aku masih ada hutang janji kepadanya.”
“Lalu kenapa kamu tidak menepati kepadanya?’’
“Karena aku tidak tahu dia ada di mana sekarang. Aku berharap suatu saat nanti akan bertemu dengannya dan segera memenuhi janjiku kepadanya.”
“Anda janji apa kepadanya?’’tanya Kiana dengan penuh rasa ingin tahu.
“Hanya janji di masa remajaku.”
Kiana jadi teringat masa kecilnya . Dulu ia pernah ada seseorang yang berjanji kepadanya untuk datang ke acara ulang tahunnya tapi orang itu tidak datang. Kiana menatap Theoden.
“Kamu kenapa? Apa ada yang ingin kamu katakan padaku?”tanya Theoden.
“Dulu ketika aku masih kecil ada seorang pria yang berjanji untuk datang ke acara ulang tahunku, tapi dia tidak datang. Dia adalah teman pertamaku di tempat tinggalku yang baru. Meskipun aku baru mengenal sehari, tapi dia orang yang menyenangkan dan juga baik. Dia sudah seperti menjadi kakakku sendiri.Dia hanya meninggalkan sebuah surat dan Teddy bear sebagai hadiah ulang tahunku.”
“Teddy bear. Hadiah ulang tahunmu?’’
Kiana menganggukkan kepalanya. Tubuh Theoden menegang.
__ADS_1
“Apa boneka itu masih ada?’’
“Aku merawatnya dengan baik dan selama ini telah menjadi teman tidurku.”
“Boleh aku melihatnya?’’
Kiana membuka kardus yang menyimpan Teddy Bearnya dan memberikannya pada Theoden.
“Ini,”kata Theoden dengan raut wajah terkejut.“Waktu itu kamu itu tinggal di mana?’’
“Santorini. Ayahku ditugaskan kerja di sana.”
“Santorini?’’katanya sambil menatap Kiana tidak percaya.
“Apa ada yang salah dengan itu?’’
“Tidak ada yang salah.”
Theoden langsung memeluknya. Kiana terkejut, Theoden tiba-tiba memeluknya. Theoden hanya diam dan sibuk membelai kening Kiana, lalu ia tersenyum lembut dan menenangkan. “Ternyata kamu adalah gadis kecil itu ,”bisik hati Theoden.
Theoden cepat melepaskan pelukanya . Ia tidak ingin berpisah dengan Kiana . Gadis itu telah menjadi miliknya selamanya. Theoden sudah memutuskan dan bertekad akan berusaha membuat Kiana jatuh cinta kepadanya. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Kiana adalah gadis kecil itu dan telah menjadi istrinya. Hatinya bersorak gembira.
“Kiana,sayangku,’’bisik hati Theoden.
Sentuhannya membuat Kiana sedikit terkejut dan seketika kahangatan itu menjalar keseluruh tubuhnya. Ia merasa senang bertemu Kiana di sini. Selama di kantor, ia sangat merindukan istrinya. Selama satu tahun pernikahannya, ia merasa frustasi tidak bisa menyentuh istrinya sama sekali dan tidak bisa mencurahkan rasa sayang dan cintanya, karena perjanjian yang telah ia buat dengan Kiana. Theoden mengerag frustasi.
“Ehmm....ehmmm....’’
Suara Carrie mengejutkan mereka berdua yang sejak tadi berdiri memperhatikan mereka. Theoden segera melepaskan tangannya dari wajah Kiana dan keduanya menjadi salah tingkah. Theoden kembali mendapatkan ketenangannya kembali.
’’Ini bukan saatnya kalian untuk bermesraan. Di luar hujan sudah reda.”
Kiana menundukkan kepalanya karena malu. Rona-rona merah telah memenuhi seluruh wajahnya.
“Siapa yang bermesraan? Kami tidak bermesraan seperti yang kamu kira,’’sangkal Theoden.
“Itu terserah Anda saja, karena saat ini saya sedang tidak ada minat untuk berdebat dengan Anda. Sebaiknya sekarang kita kembali ke hotel karena dua jam lagi kita masih ada pertemuan dengan Mr. Harding di hotel. Kita jangan sampai terlambat menemuinya, karena dia adalah salah satu investor kita yang penting.”
“Aku tahu.”
Theoden kemudian melirik Kiana yang sejak dari tadi menundukkan kepalanya.
“Kiana, apa kamu baik-baik saja?’’
Kiana mengangkat wajahnya dan matanya kembali bertemu dengan Theoden.Ia menangguk pelan.
‘’Sebaiknya aku segera pulang sekarang. Aku tidak ingin kemalaman di jalan.”
“Kiana, ikutlah denganku ke hotel!’’
“Eh...’’
Kiana terkejut.
“Kamu pulang besok bersamaku. Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian saat ini dengan cuaca seperti ini. Aku rasa sebentar lagi hujan akan turun kembali. Kamu tidak berkeberatan kan?’’
“Apa…apa nanti aku akan menganggumu?’’
“Tentu saja tidak. Kamu sama sekali tidak menganggu malah sebaliknya, aku sangat senang bisa ada bersamamu.”
Suaranya melembut. Kiana merasa senang mendengar perkataannya. Hatinya terasa hangat dan bersorak gembira. Kiana mengangguk pelan. Theoden tersenyum senang, lalu diraihnya tangan Kiana dan digenggamnya dengan erat. Tangan yang besar dan juga hangat. Carrie telah berada di kursi pengemudi disusul Kiana dan Theoden. Mobil pun melaju meninggalkan gereja di belakangnya.
Theoden meremas tangan Kiana dengan lembut.
Carrie melihat mereka berdua dari kaca spion dan menghela nafas. Kadang-kadang Carrie merasa kesal sekaligus gemas dengan sikap Theoden yang tidak kunjung mau mengungkapkan perasaanya kepada istrinya itu.
Sebelum menuju hotel mereka mengunjungi sebuah butik untuk membeli beberapa pakaian untuk Kiana. Mobil memasuki pintu depan hotel. Seorang pelayan membukakan pintu mobil. Theoden dan Kiana keluar masih mengenggam tangan Kiana. Ia tidak ingin kehilangan Kiana dan tidak tahan lagi, jika ada pria yang mencoba mendekatinya.
Mereka bertiga memasuki lift menuju lantai 20.
“Ini Kamar kita,”kata Theoden. ‘’Sebaiknya sekarang kamu istirahat dan ganti pakaianmu. Aku tidak ingin kamu masuk angin. Nanti kita akan makan malam bersama.”
“Baik. Aku mau istirahat dulu.”
Theoden tidak kunjung melepaskan tangannya.”Theo bisakah kamu melepaskan tanganku?’’
“Ah maaf.”
“Tidak apa-apa.”
Wajah keduanya merona merah. Kiana masuk ke kamar mandi dan melepaskan pakaian yang terasa sudah lembab, lalu membongkar kantong belanjaanya yang bersi pakaiannya yang baru Theoden belikan untuknya.
Kiana membuka pintu jendela dan keluar menuju balkon kamar. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Hari sudah mulai beranjak sore, langit masih terlihat kelabu dan rintik-rintik hujan kembali membasahi bumi. Gemerlapnya kota sudah mulai terlihat. Terdengar suara pintu kamar mandi dibuka dan dilihatnya Theoden keluar dengan pakaian yang sudah diganti.
Rambutnya tampak basah dan berkilau karena air.Kini dimata Kiana, pria dihadapannya terlihat benar-benar tampan, tiba-tiba saja wajahnya merona merah. Kenapa dia baru menyadarinya beberapa hari belakangan ini pikirnya. Pantas saja banyak wanita yang menyukainya.
“Kamu terlihat rapih, apakah akan pergi lagi?’’
“Setengah jam lagi aku ada pertemuan penting dengan rekan bisnis. Nanti aku akan menunggumu di bawah untuk makan malam bersama. Carrie nanti yang akan menjemputmu.”
“Baiklah.”
“Pemandangannya sangat indah.”
“Benar. Pemandangan di sini sangat indah. Aku bisa melihat kota Brimingham dari sini.”
Theoden berdehem.’’Maksudku bukan itu.”
Theoden menunjuk ke arah bra Kiana yang menyembul keluar dari kaos dalamnya. Langsung saja wajah Kiana memerah.
“Kyaaaaaa.....’’
Kiana langsung menutupinya dengan kedua tangannya, lalu berlari masuk kamar mandi. Theoden memasang wajah jahil dan tersenyum dikulum. Sementara itu Kiana masih belum tenang dengan keterkejutannya. Ia sama sekali tidak menyadari kalau ia belum memakai pakaian dengan benar. Rasa malu menghinggapi dirinya.’’Bagaimana ini? Kalau begini aku malu bertemu dengan Theoden lagi.”
Kiana menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, lalu ia teringat lagi dengan kejadian tadi. Wajahnya semakin memerah seperti kepiting rebus.
🥀🥀🥀
Ketukan di pintu mengejutkan Kiana yang sejak tadi termangu di sofa. Ia membukakan pintu .’’Malam Nyonya! Sudah siap? Tuan Theoden sudah menunggu di bawah.”
“Sebaiknya malam ini aku tidak makan malam bersamanya.”
“Memangnya kenapa? Jangan bicara seperti itu. Semuanya sudah siap kalau kamu tiba-tiba membatalkannya Tuan Theoden bisa marah dan aku juga akan kena marahnya. Apa telah terjadi sesuatu?’’
Wajah Kiana kembali merona merah setiap kali mengingat kejadian tadi.”Ada apa sebenarnya?’’
“Sebenarnya aku malu bertemu dengannya,’’jawab Kiana pelan dan malu-malu.
“Malu kenapa?’’
“Jangan menyuruhku untuk mengingatnya lagi. Katakan saja padanya kalau aku sudah tidur.”
__ADS_1
“Nyonya Kiana, jangan bersikap seperti ini. Tuan Theoden sudah menunggumu di restoran kalau Anda tidak segera datang ke sana mungkin dia yang akan menyeret Anda.”
Tanpa buang-buang waktu lagi Carrie segera menyeret Kiana.
’’Lepaskan tanganku!’’
Carrie tidak mendengarkan Kiana dan terus saja menyeretnya pergi.
“Saya benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi antara Anda dengan Tuan Theoden sampai membuat Anda malu bertemu dengannya, tapi kali ini saya rasa Tu Theoden akan mengatakan sesuatu yang penting pada Anda.”
“Memangnya Theoden akan mengatakan apa?’’
“Entalah saya tidak tahu, tapi saya punya perasaan kuat kalau kali ini bukanlah makan malam biasa.”
Kiana memandang Carrie dengan wajah heran. Pintu lift terbuka. Kiana keluar dengan langkah pelan-pelan.’’Cepatlah sedikit Tuan Theoden sudah terlalu lama menunggu.”
Kiana mempercepat langkahnya dan berjalan di belakang Carrie.
“Tuan Theoden, istri Anda sudah datang.”
Kiana muncul di belakang Carrie dengan kepala menunduk. Theoden melihatnya dengan heran.’’Duduklah!’’
Pelan-pelan Kiana duduk dikursinya.
“Kamu boleh pergi, Carrie.”
“Permisi!’’
Theoden menatap Kiana yang masih saja menunduk.’’Kamu kenapa?’’
“Tidak...tidak ada apa-apa,’’jawabnya sedikit gugup.
Theoden akhirnya menyadarinya dan tersenyum jahil.’’Kamu tidak perlu memikirkan kejadian di balkon tadi,’’katanya cuek.
Kiana menudukkan kepalanya semakin dalam dan ia merasa kalau wajahnya sekarang semakin memerah. Ia tidak ingin Theoden melihat wajahnya sekarang, tapi tangan Theoden telah meraih dagunya dan membuat Kiana untuk melihat ke arah Theoden.
’’Lihat aku! Kamu tidak perlu malu padaku.” Theoden tersenyum.’’Sekarang pesan makananmu.”
Kiana cepat-cepat meraih daftar menu dan berkali-kali ia mengerutkan kening terlalu banyak menu makanan yang disediakan.
“ Aku sama sekali tidak tahu makanan mana yang harus aku pesan.”
“Biar aku pilihkan saja untukmu.”
Theoden mengangkat tangan, lalu seorang pelayan datang dan segera memasan makanan untuk dirinya dan juga Kiana. Theoden merasa gemas melihat Kiana dengan wajah yang merona merah, lalu senyuman jahil menghiasi wajahnya kembali.
’’Waktu di balkon tadi kamu terlihat sangat seksi,’’godanya. Spontan wajah Kiana kembali memerah.”Tapi aku suka,’’kata Theoden kemudian.
“Jangan bicarakan itu lagi. Aku benar-benar sangat malu.”
“Kamu tidak perlu malu padaku. Lain kali kamu harus hati-hati berpakaian jangan sampai ada pria lain yang melihatnya selain aku. Kamu mengerti.”
Kiana mengangguk pelan, lalu Theoden tersenyum.
“Anak baik,”kata Theoden sambil mengelus kepala Kiana, kemudian makanan datang. “Sekarang makanlah pasti kamu sudah sangat lapar.”
Kiana mulai makan dengan lahap.’’ Apa kamu suka dengan makanannya?’’
“Aku suka.”
“Syukurlah. Aku mengira tadi kamu tidak akan suka dengan makanan yang aku pilihkan.”
“Theo, siapa wanita yang kamu cintai?”
Kiana merasa berdebar-debar mendengar jawaban yang akan di berikan Theoden.’’
Kiana sudah tidak tahan lagi untuk menanyakan itu. Ia ingin tahu siapa cinta pertama Theoden.
Theoden merasa ini sudah saatnya mengatakan perasaan yang sebenarnya pada Kiana. Ia tidak ingin kehilangan Kiana.
“Wanita itu adalah....’’
Theoden menelan ludah dan menatap Kiana tajam yang sedang menyuapkan irisan daging ke mulutnya.
“Wanita itu dalah kamu, Kiana. Aku mencintaimu. Kamulah yang aku inginkan berada disisiku sampai aku mati nanti.”
Theoden merasa lega setelah mengatakannya setelah satu tahun memendam perasaannya pada Kiana. Ia sendiri tidak tahu dari mana ia mendapatkan keberanian untuk mengatakan perasaannya pada Kiana.
Kiana yang mendengar pengakuan Theoden terkejut dan hampir tidak mempercayainya.’’Uhuk...uhuk...uhuk....’’
Kiana tersedak.
“Kiana, kamu tidak apa-apa?’’tanya Theoden cemas.
Kiana masih saja terbatuk-batuk, lalu Theoden mendekatinya menepuk-nepuk punggung Kiana.’’Minumlah ini!’’
Dengan cepat Kiana meminumnya.’’ Sudah lebih baik?’’
Kiana mengangguk. Wajah Theoden terlihat lega.
“Tadi Anda bilang apa?’’
“Kiana, apa tadi kamu tidak dengar apa yang aku katakan? Aku butuh banyak keberanian untuk mengatakannya, jadi jangan suruh aku untuk mengatakannya lagi.”
“Aku dengar, tapi tidak terdengar dengan jelas. Aku ingin mendengarnya sekali lagi.”
“Tidak mau,’’jawag Theoden ketus.
“Ayolah Theo! Katakan sekali lagi!’’
Theoden menghela nafas panjang.’’Baiklah! Pasang telingamu baik-baik.”
Theoden mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Kiana.”Aku mencintaimu....mencintaimu....mencintaimu....mencintaimu.”
Kiana merasa senang mendengarnya dan wajahnya kembali merona merah. Ia begitu bahagia saat Theoden mengatakan cinta padanya. Ia sama sekali tidak menyangka cintanya akan bersambut.Rasanya sedang berada dalam mimpi yang indah, jika sekarang ia sedang berada dalam mimpi, ia tidak ingin terbangun.
“Apa sekarang sudah terdengar jelas?’’tanya Theoden dengan wajah yang merona merah.
“Aku mendengarnya sangat jelas sekali,’’jawab Kiana sambil tersenyum lebar.
“Jadi apa jawabanmu?’’
Kiana membisikkan sesuatu kepadanya.’’Aku juga mencintaimu, Theoden,’kata Kiana malu-malu dan wajahya mulai memanas.
Theoden tersenyum senang mendengarnya, lalu langsung memeluk Kiana dengan erat. “Terima kasih. Aku sangat senang.”
“Theo, banyak orang yang melihat kita.”
“Tidak perlu mempedulikan mereka,’’katanya sambil terus memeluk erat Maya.
Carrie yang sejak dari tadi memperhatikan mereka di kejauhan tersenyum lebar.’’Aku rasa perasaan mereka sudah saling bersambut,’’gumamnya. [ ]
__ADS_1