
Suara dering telepon mengejutkan Roland yang sedang mengetik di depan komputernya.
"Iya ada apa, Ines?"
"Maaf pak. Ada yang ingin bertemu dengan Anda?"
"Siapa?"
"Nona Nicole Bellamare."
"Suruh dia pergi! Aku tidak ingin diganggu."
"Tapi dia memaksa untuk bertemu dengan Anda."
"Usir saja."
"Baik."
Tidak lama kemudian terjadi keributan di depan kantornya dan Nicole memaksa masuk.
"Hai Roland!" sapa Nicole dengan wajah berseri.
"Maaf Pak. Dia memaksa masuk. Apa perlu saya panggilkan penjaga keamanan?"
"Tidak perlu dan tinggalkan kami berdua."
"Baik."
Setelah pintu ruangan tertutup Nicole mendekati Roland dengan wajah tidak suka.
" Apa maumu?"tanya Roland tanpa basa basi lagi.
"Aku terpaksa menemuimu dikantor, karena kamu selalu menghindar dariku. Telepon dan semua pesan tidak kamu jawab."
__ADS_1
"Aku sedang sibuk."
"Aku tahu kamu sedang menghindar dariku."
Rolanda menatap Nicole dengan wajah kesal." Jadi katakan saja apa maumu sekarang?"
"Aku ingin kamu memberikan sejumlah uang kepadaku."
"Apa? Memberimu uang?"
"Benar,"kata Nicole sambil memeriksa kuku-kukunya yang baru dicat warna pink.
"Memangnya aku mesin uang."
"Aku juga terpaksa. Uang warisan orangtuaku sudah habis dan aku tidak bisa mengambil harta kakakku."
"Seharusnya kamu mengelola uangmu dengan baik, tapi kamu hidup berfoya-foya dan boros."
"Tidak banyak hanya 100.000 dollar."
"Sudah aku katakan, aku tidak bisa memakai uang kakakku. Semua hartanya telah dibekukan sampai Phillippa ditemukan. Anak itu ahli warisnya Valentine."
"Jadi dia masih belum ditemukan?"
"Belum. Mungkin saja dia sudah meninggal."
Roland memicingkan mata dan menatap curiga Nicole."Apa kamu tahu sesuatu tentang anak itu?"
Nicole nampak gugup dan tidak ingin Roland tahu perbuatan kejamnya kepada Phillippa. Ia berharap anak itu sudah meninggal dan jasadnya telah dimakan oleh hewan buas.
"Te...tentu saja aku tidak tahu. Ini kan hanya pemikiranku saja, karena sudah 8 tahun tidak ada kabar tentang anak itu. Jadi apakah kamu akan memberikanku uang atau tidak?"
"Tidak."
__ADS_1
"Aku akan memberitahu semua orang tentang perbuatan jahatmu pada Genevieve bahwa kamu sudah memperkosanya sampai dia bunuh diri."
"Apa kamu sedang mengancamku?"tanya Roand kesal.
"Anggap saja begitu. Aku punya buktinya. Sebuah video."
"Kauuu..."serunya kesal.
"Itu semua karena rencanamu untuk menjauhkan Genevieve dari suaminya."
"Tapi aku tidak menyuruhmu untuk memperkosanya. Aku hanya ingin kamu membawanya pergi jauh. Jika video itu sampai tersebar. Riwayatmu akan tamat."
"Sial kau Nicole!"
Roland menuliskan beberapa angka dicek dan merobeknya dengan marah, lalu menyerahkannya kepada Nicole yang ia terima dengan wajah senang.
"Itu yang terakhir dan jangan pernah memintanya lagi. Aku sengaja melebihkannya sedikit."
Nicole mencium cek itu."Terima kasih."
"Aku ingin kamu memberikan video itu kepadaku."
"Tidak. Video ini akan menjadi penjaminku, jika aku membutuhkan bantuanmu lagi. Bye."
Nicole keluar ruangan dengan hati senang sedangkan Roland merasa dongkol telah diperas olehnya. Ia menyesal telah bertemu dan berkenalan dengan wanita iblis itu dan mengebrak meja dengan keras.
🌷🌷🌷🌷
Joshua meletakkan satu buket bunga carnation di makam ibunya. Bunga kesukaannya. Setetes air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya. "Maafkan aku ibu. Maaf." Joshua cepat-cepat menghapus air matanya dan dalam pikirannya terlintas kembali masa lalunya yang sangat suram dengan ibunya. Joshua hendak meninggalkan makam , ketika ia melihat Nicole Bellamare meletakkan setangkai bunga matahari dimakam yang tidak jauh darinya. Ia mengenalinya, karena ia melihat foto Nicole saat berkunjung ke rumah Bellamare ketika Rosalind memberitahunya tentang kematian Genevieve.
Pelan-pelan Joshua mendekatinya dan berpura-pura tidak mengenalinya. Ia sempat sekilas menangkap pembicaraanya.
"Maafkan ibu, karena tidak dapat melahirkanmu ke dunia ini dengan selamat."
__ADS_1
Joshua terkejut. Nicole Bellamare pernah melahirkan seorang bayi bukannya ia belum menikah dan mungkin hamil di luar nikah. Ini sungguh menarik pikir Joshua. Ia kemudian masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu masih memandangi yang mungkin makam anaknya. [ ]