Knight in Shinning Suit

Knight in Shinning Suit
(S2): Kana


__ADS_3

“Apaaa? Jadi Nicole yang sudah mendonorkan sumsum tulang belakang untukku?”


Joshua mengangguk.”Benar.”


Phillippa melirik ke arah Nicole. Rasa tidak percaya kembali menghinggapi dirinya. Wanita yang selama ini ia benci ternyata adalah ibunya yang sebenarnya dan yang sudah menyelamatkan hidupnya.


“Andai Nicole tidak menolongmu mungkin kamu sudah meninggal,”kata Joshua.


Phillippa menangis dalam pelukan Joshua.


“Aku tahu ini sangat berat untukmu.”


“Aku perlu menanagkan diri dan memikirkan semua ini. Aku butuh waktu.”


“Tentu, jika itu yang kamu inginkan.”


Nicole beranjak dari kursi, lalu berkata,” Aku akan pulang. Sepertinya Phillippa harus menenangkan diri dulu. Ia sudah terlalu banyak menerima kebenaran yang sangat mengejutkan hari ini. Ini adalah alamat rumahku yang baru. Kalian bisa datang kapan saja.”


Nicole menyerahkan secarik kertas kepada Joshua.


“Sampai jumpa!”


Nicole berjalan pergi, tapi Joshua menghentikannya. Ia teringat sesuatu.


“Apa dia sudah bebas?”


“Siapa?”


“Roland Rosseau.”


“Dia masih di penjara.”


“Hanya itu saja yang ingin aku tahu.”


🥀🥀🥀


 


Suara langkah kaki dilorong rumah bergema diseluruh ruangan lantai atas. Seorang wanita berjalan dengan terburu-buru dan diwajahnya sudah tersirat rasa marah yang sudah membuncah , kedua tangannya dikepalkan dengan erat dan akhirnya dia berhenti di ujung lorong di depan sebuah pintu kamar.


 


Pintu yang terbuat dari kayu ek yang menjulang tinggi dan begitu kokoh. Pintu berderit ketika pintu itu dibuka. Seorang gadis kecil berumur 7 tahun tengah meringkuk di sudut ruangan , merasa ketakutaan ketika wanita itu mendekatinya. Tangannya meraih tangan mungil anak itu dengan kasar.


“Jangan bermalas-malasan, kamu harus menyiapkan makan pagi untukku dan juga membersihkan rumah,’’bentaknya.Anak itu tetap tidak mau beranjak.


“Aku tidak mau menuruti keinginan bibi Laurel lagi.”


“Apa kamu bilang? Aku sudah mengurusmu sejak kamu masih bayi, jadi sekarang kamu harus menuruti apa yang aku perintahkan,’’teriaknya.


“Aku tidak menyuruh bibi untuk membesarkanku dan aku juga tidak mau menuruti perintah bibi lagi.”


PLAK!


Wajah anak itu langsung memerah, karena tamparan wanita itu, lalu tangisan anak itu pecah.’’Kamu sekarang sudah berani tidak mau menurutiku. Kamu memang sangat menyebalkan seperti ibumu.”


“Apa bibi kenal dengan ibuku?’’tanya anak itu dengan terisak-isak.


“Aku sangat kenal ibumu dan sangat benci kepadanya, karena ibumu telah merebut pria yang aku cintai yang tidak lain adalah ayahmu.”


“Di mana mereka? Aku ingin bertemu dengan mereka?’’


“Mereka berdua sudah meninggal.”


Anak itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis.’’Tidak...tidak. Ayah dan Ibu pasti belum meninggal. Bibi Laurel , antarkan aku menemui mereka, Kana ingin menemui mereka.”


“Tapi mereka sudah meninggal.”


“Bibi Bohooongg,”teriak Kana.


“Terserah kamu mau percaya atau tidak sekarang kamu sudah tidak memiliki orang tua lagi yang kamu miliki sekarang hanya aku, jadi kamu harus menuruti perintahku atau tidak aku akan membuangmu ke jalanan.”


“Aku lebih baik di buang saja ke jalan, Kana tidak ingin lagi tinggal dengan Bibi Laurel yang jahat.”


“Kanaaaaa....’’teriak Laurel.Tangisan Kana semakin keras.’’Hari ini kamu tetap berada di kamarmu.”


Laurel keluar dan mengunci kamar Kana.


Laurel menuruni tangga dengan langkah cepat.Dia terpaku di depan tangga melihat kedatangan kakak perempuannya dengan pandangan marah.’’Apa yang kakak lakukan di sini?’’


“Aku ke sini, karena aku mencemaskan Kana.”


“Kana baik-baik saja.”


“Kakak tidak percaya. Aku yakin kamu habis memarahinya. Mau sampai kapan kamu akan terus menyiksanya seperti ini. Dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa tentang masalahmu dengan orang tuanya, kalau kamu terus menyiksanya aku akan membawanya pergi dari sini,’’katanya dengan nada tinggi.


“Kakak jangan coba-coba untuk membawanya pergi dariku. Anak itu sekarang milikku.”


“Aku akan tetap membawanya sekarang dan aku tidak ingin melihatmu melampiaskan kemarahanmu dan kebencianmu pada orang tuanya kepada Kana.”


Kakaknya mulai menaiki tangga diikuti oleh Laurel dari belakang.


’’Kakak..kakak....aku mohon jangan bawa anak itu,’’teriaknya sambil memohon dan tidak mempedulikan teriakan adiknya. Ia sudah merasa kesal dan marah atas perlakukan adiknya kepada Kana.


“Kana... kamu ada di dalam?’’


“Tante Hera, keluarkan aku dari sini.” Kana menangis dengan sangat sedih.


’’Laurel, mana kunci kamarnya?’’


“Aku tidak akan memberikan kuncinya pada kakak. Kana itu sekarang milikku dan tidak ada seorang pun yang boleh mengambilnya dariku.”


“Dan kamu menyiksa anak itu. Kamu tidak pantas memilikinya. Sekarang mana kuncinya.”


“Tidak akan kuberikan pada kakak.”


“LAUREL,”teriaknya Hera.’’Jika kamu bukan adikku, aku sudah melaporkanmu pada polisi, karena menyiksa anak kecil atau perlu aku laporkan pada polisi sekarang juga.”


“Kakak jangan lakukan itu.”


Laurel menatap kakaknya dengan pandangan memohon.


’’Kalau begitu berikan kuncinya.”

__ADS_1


“Aku akan berikan kuncinya, tapi jangan bawa anak itu dari sini.”


“Aku harus membawanya, karena tidak menutup kemungkinan kamu akan memperlakukan dia dengan buruk. Sekarang serahkan kuncinya.”


Laurel menyerahkan kuncinya dan dengan segera membuka pintu kamar Kana.’’ Tante Hera.’’


Kana langsung menghambur kedalam pelukannya.’’Bawa aku dari sini, Kana tidak ingin tinggal bersama Bibi Laurel lagi.”


“Tante akan membawamu dari sini.”


“Benarkah?’’tanyanya tidak percaya.


“Itu benar.”


“Terima kasih tante Hera.”


Hera mengendong Kana dan membawanya keluar dari kamar.


’’Kakak, tunggu jangan bawa dia!’’


Laurel terus mengejar kakaknya dari belakang.Di depan rumah banyak orang berseragam putih. Laurel langsung ketakutan.’’Ada apa ini?’’tanyanya dengan tubuh gemetar.


“Silahkan bawa adikku pergi,’’kata Hera kepada para petugas berseragam putih itu.


“Silahkan ikut kami!’’kata salah satu petugas itu.


“Tidak mau, aku tidak mau ikut dengan kalian.’’


Laurel berusaha kabur, tapi langsung tertangkap lagi. Ia memberontak dan berusaha untuk melepaskan dari, tapi cengekraman para petugas itu sangat kuat. Laurel akhirnya diseret masuk mobil.’’Kakak, tolong aku!!!’’


Akhirnya mobil yang membawa adiknya telah pergi jauh. Air mata jatuh dari pelupuk mata Hera.’’Maafkan aku, Laurel ini demi kebaikanmu. Kakak kira kamu telah sembuh sepenuhnya ternyata kamu belum benar-benar sembuh. Maaf.”


“Tante Hera , jangan menangis!’’


Kana menghapus air mata Hera dengan perlahan.


“Tante tidak akan menangis lagi. Sekarang kamu aman dan bibi Laurel tidak akan pernah menyakitimu lagi.’’


Kana menganggukan kepalanya. Kedua kuncir ekor kudanya ikut bergoyang.’’Bibi Laurel akan dibawa pergi kemana?’’


“Ke rumah sakit jiwa. Sekarang Kana ikut tante pulang.”


“Baik.”


Hera mendudukkannya di kursi penumpang dan akhirnya mobil yang membawa mereka berdua melaju pergi. Mobil berhenti disebuah rumah sederhana berlantai dua dan dindingnya bercat putih. Ini pertama kalinya Kana berkunjung ke rumah tantenya. Kana terlihat sangat lelah setelah menempuh perjalanan panjang dan langit pun sudah terlihat sangat gelap hanya diterangi oleh cahaya bulan sabit.’’Kana, masuklah!’’


Mata kecilnya melihat ke sekeliling rumah. “Rumah yang nyaman dan juga bagus,’’komentarnnya.


“Terima kasih sayang. Sekarang kamu harus istirahat. Tante antarkan kekamarmu. Ayo!’’


Kana mengikuti tantenya dari belakang sambil memeluk boneka Teddy bearnya. Kamarnya ada dilantai dua.’’Ini kamarmu’’.


“Wah bagus sekali kamarnya.”


“Ini dulu kamar anak perempuan tante.”


“Aku dengar dari bibi Laurel, anak tante meninggal karena kecelakaan.”


Raut wajah Hera berubah sedih. “Itu benar, tapi itu masa lalu, tante tidak ingin mengingatnya kembali.”


“Tidak perlu meminta maaf. Tante bantu mengganti pakaiannmu.”


Hera membuka lemari pakaian dan mengambil baju tidur, lalu memakaikannya pada Kana.


’’Sepertinya sangat cocok dengan tubuhmu.’’


Kana tersenyum.’’Sebaiknya kamu tidur. Kana menaiki tempat tidur dan Hera kemudian menyelimutinya. “Selamat tidur!’’


Dikecupnya kening Kana, lalu mematikan lampu kamar tidurnya.


🥀🥀🥀


Sebulan telah berlalu sejak Kana tinggal dengan tantenya. Hari-hari Hera bersama dengan Kana terlihat begitu bahagia. Bahkan sekarang Hera ingin mengadopsi Kana sebagai anaknya.


Kehadiran Kana di rumahnya telah mengisi hatinya yang kesepian sejak ditinggalkan suami dan anaknya.Kana pun sangat senang ketika tantenya berencana untuk mengadopsinya.


Keinginannya untuk memiliki seorang ibu yang baik akan segera tercapai walaupun hatinya dia menginginkan orang tua yang sebenarnya. Sejak pulang sekolah Kana mampir terlebih dahulu kesebuah taman bermain di dekat rumahnya. Dia duduk diayunan sambil memperhatikan anak-anak yang lain bermain ditemani oleh ibunya.


Dijauh lubuk hatinya Kana ingin sekali memiliki keluarga yang normal seperti teman-teman di sekolahnya dan dapat merasakan kasih sayang dari orang tua sesungguhnya, karena sejak dia dilahirkan dia belum pernah merasakannya. Air matanya mulai berjatuhan ketika teringat orang tuanya sudah meninggal dan sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mengenalnya. Dulu ia masih punya harapan akan bertemu dengan Ayah dan Ibunya, tapi setelah mengetahui kalau orang tua kandungnya sudah tidak ada, harapannya untuk bertemu sudah benar-benar padam.


Kana meninggalkan taman bermain dengan perasaan sedih. Ia cepat-cepat menghapus air matanya, karena tidak ingin tantenya melihatnya sedang menangis.Dibukanya pintu rumah dan di dalam terasa sangat sepi.’’Tante Hera,’’panggilnya.


“Kamu sudah pulang.”


Dilhat tantenya baru saja menuruni tangga .Kana mengangguk.’’Duduklah, ada yang ingin tante bicarakan denganmu.” Kana menurut , lalu duduk dengan tenang.


“Kana masih ingat kan kalau tante akan mengadopsi Kana sebagai anak tante.”


“Kana ingat.”


“Sepertinya itu akan segera terwujud, tante sudah mengajukan permohonan untuk mengadopsimu dan sebentar lagi Kana akan menjadi anak tante.”


“Horeeee...’’teriak Kana kegirangan, lalu memeluk tantenya dan mencium pipinya berkali-kali.’’Tante Hera, terima kasih.”


“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, karena Kana mau menjadi anak tante.” Kana memeluk tantenya dengan sangat erat.


🥀🥀🥀


Hampir menjelang tengah malam Joshua mendapat telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya.’’Siapa yang meneleponku malam-malam begini menganggu orang yang mau tidur saja,’’gerutunya.’’Halo! Selamat malam!’’


“Apa ini dengan Mr. Joshua Waldgrave?’’


“Iya benar, ini saya.”


“Saya Silas Hamilton.”


“Ah Anda, jadi ada informasi apa mengenai anakku yang telah diculik?’’


“Saya baru saja mendapat informasi terbaru, aku rasa informasi ini cukup membantu untuk penyelidikan selanjutnya.”


Joshua langsung duduk dan dia merasakan debaran jantungnya semakin kencang, akhirnya sebentar lagi dirinya akan mengetahui keberadaan anak perempuannya yang telah diculik 7 tahun yang lalu.’’Jadi informasi apa yang Anda ketahui?’’


“Berdasarkan hasil penyelidikkan 7 tahun lalu ada seorang wanita membawa seorang bayi perempuan di bandara. Wanita itu sempat ribut dengan pihak petugas bandara, karena masalah bayi yang dibawanya. Bayi tersebut tidak ada dalam dokumen perjalanan. Wanita itu mengatakan kalau ini adalah anak perempuannya yang baru saja lahir dan belum sempat memasukkannya dalam dokumen perjalanannya. Itu adalah alasan yang diberikan oleh wanita itu.”

__ADS_1


“Lalu apa yang terjadi? Apa wanita itu berhasil membawa bayi itu pergi?’’


“Benar. Akhirnya petugas itu meloloskannya’’.


“Siapa nama wanita itu?’’


“Dilihat dari kartu identitas namanya adalah Laurel Kyle.”


“Apaaaa?’’teriak Joshua sampai membangunkan Phillippa.’’La…Laurel kata Anda?’’


“Anda mengenalnya?’’


“Aku mengenalnya, dia adalah temanku. Tapi setahu saya dia tidak hamil dan aku yakin sekali bayi yang dibawanya bukan anaknya.”


Joshua terhenyak. Apa mungkin bayi yang dibawa Laurel adalah anaknya?


“Itu bagus, jika Anda mengenalnya. Tentu Anda tahu di mana dia tinggal bukan?’’


“Aku kurang begitu yakin, karena aku sudah lama tidak berkunjung ke rumahnya, tapi aku masih menyimpan alamatnya dengan baik.”


“Sebaiknya Anda segera menemuinya dan melaporkan hal ini kepada polisi.”


“Aku mengerti mengerti, tapi belum tentu bayi itu anakku.Terima kasih untuk informasinya.”


Joshua menghela nafas panjang. Pikiran buruk terus berkelebat dikepalanya.’’Semoga anak itu baik-baik saja ditangan Laurel,”gumamnya dalam hati.


Sejak penculikan anak keduanya 7 tahun yang lalu, Joshua menyewa seorang detektif dan akhirnya usahanya selama 7 tahun untuk mencari jejak anaknya, ia akhirnya menemukan titik terang dan sekarang Joshua tahu ada kemungkinan anaknya diculik oleh Laurel.


“Ada apa? Tadi kamu bicara dengan siapa?”tanya Phillippa.


“Itu tadi detektif yang aku sewa untuk mencari keberadaan anak kita.”


“Apa sudah ditemukan?”


“Belum yakin. Apa bayi itu anak kita atau bukan? Aku harus memastikannya. Aku berharap dugaanku ini benar.”


“Siapa yang sudah membawa bayi ita?”


“Laurel Kyle.”


“Siapa dia?”


“Dia teman kuliahku dulu. Aku tidak tahu kenapa Laurel menculik anak kita.”


“Kita harus menemuinya besok.”


🥀🥀🥀


Los Angeles


Hera terlihat sangat gelisah di dalam kamarnya. Ia tidak bisa tidur, lalu pergi ke kamar Kana yang sudah terlelap tidur. Ia mendekatinya dan menatapnya sesaat.


’’Kamu anak yang baik seharusnya kamu tidak hidup menderita.”


Setelah keningnya dikecup, Hera akhirnya meninggalkan kamar. Dia menyalakan tv diruang keluarga. Berkali-kali ia mengganti channel tv, tapi tidak ada satu pun yang menarik untuk ditonton.


Pada saat dia akan mematikan tv, dia melihat berita yang akhir-akhir ini sangat meresahkan warga. Berita itu memberitakan tentang beberapa penculikan anak kecil yang semakin hari semakin banyak, tentu saja berita itu membuat hatinya resah. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Kana apalagi dia tidak bisa menjaganya seharian.


Hari minggu adalah hari saat mereka pergi untuk berbelanja. Hera yang biasanya menyuruh Kana untuk tinggal di rumah kali ini dia membawanya, karena ia mengingat kejadian yang berlangsung akhir-akhir ini.


Mereka berdua keluar dari rumah sambil bergandengan tangan menuju mobil yang sudah terpakir di luar rumah.’’Siang ini kita makan siang bersama di luar, bagaimana?’’


“Ide bagus.”


“Kana mau makan apa?’’


“Apa saja, Kana juga ingin beli kue dan es krim.”


“Nanti kita beli setelah selesai belanja.”


Kana menanggguk pelan. Setelah selesai memasangkan sabuk pengaman, Hera pergi ke kursi penumpang. Kana terlihat begitu senang sambil memain-mainkan boneka Teddy bearnya. Hera sudah tidak sabar untuk segera menjadikan Kana sebagai anak adopsinya yang sah. Dia sudah lupa bagaimana rasanya kembali menjadi seorang ibu setelah kepergian anaknya beberapa tahun yang lalu. Kehadiaran Kana sekarang sudah membuat hidupnya tidak merasa kesepian lagi.


Kadang-kadang Hera merasa menyesal kenapa tidak sejak dari dulu dia membawa Kana dari tangan adiknya yang kejam.Kana pun bersenandung menyanyikan lagu twinkle twinkle little star dengan bonekanya.


Mobil berhenti disebuah supermarket dan mereka berdua masuk.Kana begitu senang diajak pergi berbelanja oleh tantenya.Mata kecilnya berbinar ketika melihat sederetan coklat yang terlihat menggodanya . Hera memperhatikan itu dan dia mengerti.’’Pilih coklat yang kamu suka.”


“Benarkah?’’


Hera mengangguk dan tersenyum.’’Horeee.’’


Kana pun langsung mengambil beberapa batang coklat, lalu dimasukan dalam troli.


“Hanya ini saja?’’


“Iya hanya itu saja.”


“Kana suka makan spagethii bukan?’’


Kana mengangguk pelan.’’Menu makan malam hari ini kita buat spagethii saja.” Kana tersenyum bahagia, lalu mengangguk.


Saat Hera mengantri untuk membayar belanjaannya perhatian Kana tersedot oleh atraksi badut di luar. Diam-diam Kana keluar dan menyaksikan badut itu memainkan beberapa buah bola ditangannya.Kana tertawa senang melihat tingkah badut itu.Dia pun sangat terlena melihat atraksi badut tersebut sampai tidak memperhatikan sekelilingnya. Orang pria berbadan tegap memakai pakaian serba hitam sudah berada di belakangnya dan menutup mulutnya dan membawanya pergi jauh.


Hera yang menyadari Kana sudah tidak berada di sisinya lagi segera keluar untuk mencarinya. Dia mencarinya ke sana kemari, tapi Kana tidak ada di mana pun. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat dan sudah sangat cemas.’’Kana...Kana, dimana kamu?’’


Lalu Matanya melihat boneka Teddy bear yang tergeletak diantara kerumunan orang-orang yang sedang menyaksikan atraksi badut. Dia memungutnya dan hatinya kembali dilanda kecemasan. Nafasnya tersengal-sengal. Berbagai macam pikiran buruk kembali menghinggapi pikirannya.


’’Apa mungkin Kana di culik? Ini pasti tidak mungkin. Dia pasti sedang bermain disekitar sini.”


Hari sudah menjelang sore Kana masih tetap belum ditemukan, akhirnya Hera menyerah untuk mencarinya. Air mata sudah membasahi wajahnya.


Di kantor polisi Hera menangis.’’Tolong cari anakku Kana! Aku yakin dia pasti telah di culik.”


“Anda harap tenang , kami akan segera mulai proses pencarian. Akhir-akhir ini kami menerima banyak sekali laporan tentang anak hilang, jadi Anda harus sabar menunggu informasi dari kami.”


“Berapa lama aku harus menunggu?’’


“Kami belum bisa memastikannya.”


“Anak itu baru saja bisa tersenyum bahagia, tapi sekarang dia harus mengalami penderitaan hidup lagi. Mungkin saja sekarang dia berada ditangan orang-orang jahat, memikirkannya pun aku sudah tidak sanggup.”


“Saya mengerti dan semoga anak Anda akan baik-baik saja.”


Hera mengebrak meja dengan keras.’’Anda mengerti apanya? Apa Anda mempunyai anak? Kalau iya bagaimana perasaan Anda jika anak Anda di culik,’’teriaknya sambil menangis.

__ADS_1


“Nyonya saya mohon tenanglah,’’kata polisi itu berusaha menenangkan Hera.’’Sebaiknya sekarang Anda pulang, saya akan segera menghubungi Anda jika ada informasi mengenai anak Anda.”


Hera akhirnya menuruti perkataan polisi untuk pulang kerumah.Sesampainya di rumah Hera duduk termenung di sofa sambil memandangi Teddy bear.’’Kamu ada di mana sekarang? Cepatlah pulang!’’ [ ].


__ADS_2