
06.12.2000.
Aku datang dihari itu setelah menjalani masa hukuman sebulan penuh, hari itu bertepatan dengan ujian semester yang berlangsung. Tapi, aku melihatmu sedang dirundung oleh beberapa siswi selama aku tidak ada. Dan aku sangat marah akan hal itu!
Selama sebulan penuh, mereka bertiga sudah bisa membuka Toko Pertama mereka setelah membeli semua barang-barang kebutuhan pokok di pasar secara grosir.
Dan yang mengejutkan adalah bisnis baru yang berbentuk Waralaba itu menjadi perbincangan beberapa warga sekitar dan lumayan disukai, sayangnya harga yang mereka patok lebih mahal dari toko kelontong biasa.
“Bagaimana ini? Meskipun para pelanggan kita senang dengan kebersihan dan konsep baru dari pembelian bahan-bahan pokok ini, tapi mereka semua mengeluhkan mengenai harganya,” ucap Gilang.
“Jangan gentar begitu kawan, jika memang mereka mengatakan seperti itu tenang saja, kita akan buat beberapa potongan harga yang menarik, dimana kita tidak perlu menurunkan harga, tapi malah bisa menarik banyak pelanggan baru,” jawab Damar singkat.
“Aku setuju dengan usulan Damar, apalagi kalau kita terus meningkatkan pelayanan kita dengan cara 3S, senyum, salam dan sapa. Aku yakin orang-orang itu akan tahu kualitas kita!” imbuh Panca semangat.
Dan begitulah bisnis pertama itu berjalan dengan baik, bahkan sekarang mereka bertiga sudah membuat sebuah sistem yang mana bisnis itu bisa berjalan sendiri.
__ADS_1
Terlebih lagi, mereka sudah memiliki tiga karyawan baru yang ditugaskan untuk menjaga Toko GDP itu, tapi sebenarnya itu adalah pelayan dari Keluarga Pramana dan Hartanto.
“Terima kasih, dengan beberapa pelayan dari keluarga kalian berdua, kita bisa kembali sekolah sambil terus mengembangkan bisnis ini tanpa harus bersusah payah berjaga setiap hari,” senang Damar.
“Tidak masalah bro, yang punya ide gila ini kan lo, jadi kita berdua hanya membantu sebisanya saja, kami berdua juga tahu, gimana hubungan lo sama keluarga di rumah, jadi tenang saja!”
Panca dan Damar merangkul bahu Damar dengan erat, mereka bertiga memang benar-benar sahabat sejati. Dan mereka bertiga berjalan menuju ke sekolah, karena sudah waktunya mereka masuk kembali.
***
Damar melihat Amelia yang entah kenapa selalu membuat hatinya sangat teduh dan bisa melupakan sejenak mengenai semua kesibukan dan permasalahannya di rumah.
Dia menganggap Amelia adalah rumah yang sebenarnya, jadi dia masih tetap mencintainya dan selalu senang jika bersamanya, meskipun dia sudah disakiti berkali-kali.
Namun yang dilihat Damar bukan hanya itu saja, beberapa kakak kelas perempuan juga berada di sana dan sedang merundung Amelia yang terlihat hanya bisa menundukkan kepala.
__ADS_1
Ketika kakak kelas perempuan itu cekcok dan hendak menampar Amelia, Damar datang dan menangkap tangan kakak kelas perempuan itu dan menghempaskannya.
“Sejak kapan, para kakak kelasku yang terhormat ini bisa menjadikan kelas ini sebagai tempat bersenang-senang, apakah kalian sudah mengingat di kelas ini ada siapa?” ucap Damar sambil memandangi tiga kakak kelasnya dengan tatapan tajam.
“Kau … kau … berani-beraninya mendorongku sampai jatuh!”
“Memangnya kenapa, apakah kamu Ratu yang selalu mendapatkan perhatian dengan sifat keegoisanmu itu, kamu hanya pelacur yang bisa digunakan oleh banyak orang,” bisik Damar pada kakak kelas perempuan yang hendak menampar Amelia tadi.
Mata kakak kelas perempuan itu melotot tidak percaya bahwa Damar akan menggunakan kata-kata yang sangat kasar seperti itu. Tapi karakter Damar yang seperti ini sudah terkenal di seluruh sekolah.
“Awas saja kamu nanti …” Ketiga kakak kelas perempuan itu tidak menanggapi lagi perkataan Damar, karena mereka tahu akan kalah dan tidak ada yang berani dengan laki-laki itu sekarang.
Damar mengalihkan pandangannya pada Amelia.
“Apakah kamu tidak apa-apa, kenapa kamu terlihat begitu sedih selama aku tidak ada di sekolah? Apa yang membuatmu seperti ini?”
__ADS_1