
Malam itu menjadi hari tersedih bagi Damar, karena bukan hanya satu kakaknya yang meninggal, namun ketiganya juga wafat kala itu.
Mungkin kata orang memang benar, setiap orang akan lega setelah apa yang selama ini dipendam sudah tersampaikan.
Hal itu juga yang menjadi kekuatan Ketiga Kakak Damar yang sudah dalam kondisi parah, namun masih menyempatkan diri untuk bertemu dengan adiknya tersebut.
***
Keesokan harinya di Kediaman Baskoro.
Ribuan orang melayat untuk melepas kepergian Darsa Baskoro, Dimas Baskoro dan Dirga Baskoro.
Semua kebaikan mereka baru terlihat sekarang, karena hampir pelayat yang datang dari berbagai kalangan.
“Kami turut berduka cita atas meninggalkan Tuan Darsa Baskoro, apakah Anda adalah adik kecil yang selalu dibanggakannya itu?”
Seorang kakek tua yang terlihat seperti seorang pemulung itu berbicara pada Damar, mencoba mengenang kebaikan Darsa Baskoro.
__ADS_1
Damar hanya mengangguk dengan enggan, dia membiarkan kakek tua itu menceritakan semua kebaikan yang diterimanya dari Darsa tersebut.
“Intinya saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikannya, mungkin jika tidak ada Tuan Darsa, keluarga saya waktu itu sudah meninggal semua, sekali lagi terima kasih,” ucap Kakek itu sambil menyalami Damar dan berlalu begitu saja.
Tak lama kemudian banyak orang yang bergantian bercerita dan menyalami Damar, mereka semua selalu saja menyanjung kebaikan ketiga kakaknya yang sama sekali tidak diketahui olehnya.
Bahkan kolega bisnis ketiga kakaknya sangat senang bekerjasama dengan mereka.
Namun, beberapa orang terlihat seperti ingin memanfaatkan momentum ini, mereka adalah beberapa pemegang saham di Perusahaan Baskoro Grup.
Damar sebenarnya sama sekali tidak peduli dengan perusahan keluarganya itu, tapi karena amanah yang diterimanya sebelum kakak pertamanya meninggal, dia bertekad untuk melibas habis beberapa orang nantinya.
“Aku turut berduka cita Damar, kamu pasti sangat terpukul karena kehilangan ketiga kakakmu yang sangat baik pada semua orang,” lirih Amelia.
“Lia kamu datang, terima kasih. Dengan hadirnya dirimu sekarang, aku setidaknya tahu masih ada orang yang menyayangiku di dunia ini,” jawab Damar tersenyum.
Amelia membalas dengan tersenyum, lalu dia berdiri di samping Damar dan menemaninya menyambut seluruh pelayat sampai akhirnya ketiga kakaknya sudah dimakamkan dan Rumah Keluarga Baskoro itu sepi.
__ADS_1
***
Di ruang tamu, Rumah Baskoro.
“Lia, aku tidak akan basa-basi lagi, apakah kamu mau menunda keberangkatanmu ke Inggris dan menikah denganku sekarang juga?” tanya Damar tiba-tiba.
“Kita masih terlalu muda untuk menikah Damar, apakah kamu yakin dengan ini semua? Aku tidak ingin menjadi beban tambahan untukmu,” jawab Amelia.
“Jangan mengatakan bahwa kamu beban, kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku langsung tersenyum, hanya dengan kehadiranmu saja.”
“Apalagi disini sudah ada banyak orang yang bisa menjadi saksi untuk pernikahan kita, kedua orang tuamu juga masih ada disini?”
“Aku hanya ingin jawaban, apakah kamu mau atau tidak? Itu saja yang aku inginkan.”
Damar sangat berharap, meskipun tidak bisa dipungkiri kedua sahabatnya juga ada disana, tapi satu-satunya orang yang mampu membuat Damar lebih kuat lagi adalah Amelia, dia selalu bahagia jika Amelia ada disana.
Tentu saja pernyataan Damar yang berani di depan semua orang, membuat semua orang sangat penasaran dengan jawaban apa yang keluar dari mulut Amelia nantinya.
__ADS_1
“Aku…”