
“Aku akan diam jika yang kamu hina adalah diriku sendiri, tapi kamu telah melakukan kesalahan dengan menghina Amelia, jangan sekali-kali kamu mengatakan hal itu!”
Damar marah sambil terus memukul wajah kakak kelasnya yang belum sembuh sepenuhnya itu, dia terus melakukannya. Sayangnya hal ini tak berlangsung lama karena teman-teman dari Fajar.
“Hei! Apa yang kamu lakukan pada bos? Lepaskan atau kamu terus akan memukulmu sampai berdarah! Cepat lepaskan!”
Suasana menjadi tegang, karena Damar tidak menghiraukan perkataan rombongan Fajar itu dan terus memukul wajah musuhnya itu hingga babak belur.
Melihat hal itu, rombongan Fajar langsung mengeroyok Damar dari berbagai sisi, meskipun awalnya sedikit sulit. Namun, pada akhirnya mereka berhasil memukul Damar hingga berdarah-darah.
*BUK!
*BUK!
*BUK!
__ADS_1
Fajar sudah bangkit dari posisinya dan ikut memberikan pukulan pada Damar yang terlihat bertahan dari keroyokan teman-temannya.
*BRAK!
“Rasakan ini, kamu harus tahu, di sekolah ini, bahkan di kota ini, kamu hanyalah seorang pecundang dan tidak bisa disamakan denganku, matilah kau Damar!”
Fajar yang berdarah berteriak kencang sambil memberikan pukulan dan tendangan pada Damar. Mereka semua berhenti ketika ada satpam yang melerai dan menghentikan perkelahian itu.
“Yang ada di sana! Jangan lari!” teriak Satpam yang melihat dari kejauhan. Mendengar itu, Fajar dan rombongannya langsung berlarian agar tidak tertangkap. Dan sekarang di sana hanya menyisakan Damar dan Amelia yang terlihat marah.
Di Unit Kesehatan Siswa (UKS).
“Aku melakukan semuanya karena dia menghinamu, bahkan ketika dia menghina atau merencanakan sesuatu padaku, aku tidak marah sama sekali, apakah kamu tidak mau menyimpulkan dari sini bahwa yang salah adalah mereka?” protes Damar.
Amelia tidak menjawab lagi, dia hanya diam dan terus merawat Damar dengan luka-lukanya yang bisa dikatakan cukup parah.
__ADS_1
Damar sendiri seperti tahu, bahwa di mata Amelia masih ada rasa pada Fajar di sana. Meski Fajar sudah merusak dan menghina Amelia, hal inilah yang membuat hati Damar sangat sakit, namun dia tidak mengungkapkannya.
***
Beberapa bulan kemudian, Damar bersama dengan Panca dan Gilang mendapat pemasukan yang sangat besar. Mereka bertiga akhirnya mendapatkan suntikan dana sekali lagi oleh Keluarga Pramana dan Hartanto.
Dengan suntikan modal yang besar itu, mereka bertiga menyulap Bisnis Waralaba kecil itu menjadi begitu besar hanya dalam beberapa bulan saja.
Karena semua manajemen sudah dibentuk sedemikian rupa dan SOP ketat sudah dibuat, mereka bertiga berhasil membuka cabang baru setiap minggu sekali.
Sebuah keberhasilan yang sangat menakjubkan, bahkan sekarang mereka bertiga sudah menjadi seorang jutawan baru karena belasan cabang yang sudah berdiri dan beroperasi tersebut.
“Setelah perjuangan kita selama liburan dan beberapa bulan terakhir kita akhirnya berhasil, ide bisnismu memang tidak mengecewakan Damar, apalagi nama dan jenis bisnis ini sudah menjadi hak paten kita bertiga, kamu memang jenius kawan!” puji Panca.
“Aku setuju, bagaimana tidak, hanya dalam waktu satu tahun saja. Kita bisa mendapatkan jutaan rupiah sambil duduk di kelas setiap hari, karena semua sistem sudah berjalan. Satu tahun kita tidak berakhir dengan sia-sia, terima kasih kawan,” sambung Gilang.
__ADS_1
“Bisnis ini tidak akan menjadi seperti ini jika karena perananku saja. Terlebih lagi, kedua keluarga kalian semua menjadi penyokong paling besar. Oleh karena itu sudah saatnya kita membahas mengenai pembagian saham…” tawar Damar.
Panca dan Gilang saling memandang penuh arti, mereka berdua merencanakan sesuatu pada Damar.