
11.11.2001.
Aku sudah tidak peduli lagi sebenarnya denganmu, tapi hati selalu berkata lain, apalagi ketika aku mendengar bahwa Keluarga Gunawan sudah tertipu dan hampir bangkrut, aku datang menolongmu dari kejauhan dan tidak ingin kamu tahu sama sekali, Lia!
Sejak saat itu Damar dan Amelia terlihat jarang bertemu, terlebih lagi Amelia terlihat semakin dekat dengan Fajar yang semakin berani menunjukkan kebersamaannya di wilayah sekolah.
Namun, Damar juga tidak sendirian, dia malah terlihat begitu senang dan bahagia ketika bersama dengan kedua sahabat dan banyak teman-temannya yang semakin akbar akhir-akhir ini.
***
Beberapa minggu kemudian, di Rumah Keluarga Baskoro.
“Apakah kamu tahu bahwa Keluarga Gunawan akan bangkrut tak lama lagi? Karena kesalahan investasi di beberapa instrumen keuangan sebelumnya?” tanya Darsa Baskoro, Kakak Pertama Damar.
__ADS_1
“Benar Kak! Kalau tidak salah yang membuat mereka salah menaruh uang yang cukup besar itu karena campur tangan dari Keluarga Ganendra, merekalah yang membuat keluarga bodoh itu terlilit banyak hutang,” jawab Dimas Baskoro, Kakak Kedua Damar.
“Sudahlah kak, bagaimana dengan perkembangan perusahaan? Apakah sudah saatnya kita memberitahu Damar mengenai kebenarannya selama ini?” tanya Dirga Baskoro, Kakak Ketiga Damar.
Darsa dan Dimas saling berpandangan, keduanya juga langsung tertunduk lesu. Sudah berapa banyak rasa sakit yang mereka lakukan pada adik kecilnya tersebut. Sampai mereka merasa bahwa selama ini terlalu berlebihan.
“Mungkin beberapa bulan lagi, sampai vonis dokter pada kita bertiga tinggal 1 bulan saja. Sekarang kita harus mempersiapkan semuanya untuk kepentingan adik kecil kita itu,” ucap Darsa Baskoro.
“Iya benar kakak, dia sekarang bahkan memiliki aset lebih banyak dari perkiraan kita setahun yang lalu. Sepertinya dia memang ditakdirkan membawa Nama Baskoro terakhir,” sambing Dirga Baskoro.
*BRAAAK!
“Apa yang kalian katakan! Kenapa tiba-tiba kalian bertiga menjadi melow seperti ini? Dimana ketegasan, kebengisan dan keangkuhan kalian selama ini? Apakah perusahaan baik-baik saja?” teriak Damar dari balik pintu depan.
__ADS_1
Ketika kakaknya langsung memandangi Damar dari ujung kepala sampai ujung kaki, mereka bertiga langsung menghapus mimik wajah itu dan mengganti ke mimik wajah seperti biasanya.
“Hooo … akhirnya kamu tahu pulang ke rumah juga ya?! Lalu sekarang apa yang ingin kamu katakan? Apakah kamu akan membunuh kami bertiga? Atau kamu mau kami pukuli lagi?” tanya Darsa Baskoro berdiri di depan Damar.
“Ternyata kalian bertiga tidak berubah sama sekali, aku datang hanya ingin mengatakan bahwa setelah ini, aku tidak akan tinggal dan mengunjungi rumah ini lagi. Dan aku akan memutuskan hubungan keluarga dengan kalian semua!”
Damar yang memiliki postur tubuh setara dengan kakak-kakaknya tidak takut sama sekali. Anehnya, dia tidak mendapat pukulan seperti biasanya, dia malah mendapatkan izin untuk melakukan apa pun yang dia inginkan.
“Silakan lakukan apapun! Kami tidak akan melarang lagi! Tapi perhatikan dimana letak kalimatmu itu! Lihat konsekuensi yang kamu timbulkan di masa depan dengan kata-katamu itu!” tegas Darsa Baskoro.
“Aku tahu dan jangan menceramahiku! Sampai jumpa lagi kakak-kakak bajingan, aku tidak tahu kapan lagi aku bisa menemui kalian semua!”
Damar meninggalkan Kediaman Keluarga Baskoro berjalan kaki santai dan dijemput Panca dan Gilang dengan mobil di depan rumahnya itu.
__ADS_1