
Amelia mendengar semua penuturan kedua sahabat pacarnya itu, perasaannya sekarang campur aduk. Selain dia merasa sangat tidak pantas dibandingkan dengan kekasih kedua sahabatnya itu, dia sendiri jauh dari kata ‘baik’.
Sayangnya, dia tidak memiliki keberanian untuk mendengarkannya secara langsung, dia hanya mendengarkannya dari balik belasan buku bertumpuk di sampingnya.
‘Mulai sekarang aku harus berubah menjadi lebih baik lagi, aku berjanji untuk tidak mengecewakan Damar, aku tidak akan kalah dengan calon pasangan kedua sahabatnya itu,’ batin Amelia bertekad.
Namun, keinginannya itu runtuh ketika mereka bertiga membahas mengenai Perempuan Cantik yang ditaksir Gilang. Bagaimana dirinya yang kotor itu bisa dibandingkan dengan perempuan yang masih suci dan terdidik secara agama.
‘Kenapa aku merasa bahwa aku semakin jauh saja, tapi bukankah Damar mengatakan akan menerimaku meskipun aku seperti ini? Tapi kenapa aku terus merasa tidak enak?’ batin Amelia mulai gelisah.
“Hei Lia! Kenapa kamu melamun?” tanya Damar yang sudah berada di depan kekasihnya itu. Sejak tadi, Damar memperhatikan mata Amelia yang tidak fokus, lalu dia berinisiatif mendekatinya.
__ADS_1
“Hah apa? Aku tidak apa-apa, aku hanya sedang berpikir saja, apakah aku bisa masuk dan belajar di luar negeri. Aku hanya bingung masalah itu saja, semua masih baik-baik saja,” jawab Amelia gugup.
Damar tahu bahwa kekasihnya itu sedang berbohong, apalagi dia yang paling paham dengan Amelia dari segala sisi, karena dia memang memperhatikan hal itu.
Namun, untuk menjaga perasaan kekasihnya itu, Damar tidak bertanya lebih lanjut lagi. “Oh kalau memang seperti itu, apakah kamu mau ikut kami menuju ke suatu tempat?”
“Kemana? Apakah Panca dan Gilang tidak masalah, jika kamu mengajakku? Aku tidak masalah jika harus pulang menggunakan angkutan umum,” tolak Amelia yang sudah tahu kemana tujuan mereka bertiga pergi.
Damar tidak tinggal diam, dia menarik lembut tangan Amelia, dia juga ingin jika kekasihnya itu ikut ke suatu tempat. Sebuah tempat yang mungkin bisa menenangkan semua hati manusia yang sedang gundah.
“Ayo tunggu apa lagi … kita akan membantu Gilang untuk bertemu dengan jodohnya, karena dia seorang pengagum rahasia seseorang, sayangnya dia tidak kuasa mengatakan perasaannya secara langsung,” bujuk Damar.
__ADS_1
Amelia akhirnya mengalah, dia membereskan semua buku dan mengembalikan ke tempatnya, lalu berjalan bergandengan dengan Damar tepat di belakang Panca dan Gilang yang terlihat sedang bicara serius.
Keempat orang itu menuruni tangga dan langsung menuju ke mobil milik Panca. Lalu dengan cepat, mobil itu melaju ke sebuah arah, hingga puluhan menit kemudian mereka berempat sampai di sebuah bangunan yang cukup tua dan luas.
“Pondok Pesantren? Apakah kita akan masuk ke dalam? Aku malu jika harus masuk kesana? Aku tidak mengenakan hijab, bagaimana bisa aku masuk ke sana tanpa rasa malu itu?” tanya Amelia.
“Tenang saja, aku sudah menyiapkan semuanya, oleh karena itu kita berhenti di sisi ini, karena disana ada sebuah kamar mandi umum, kamu bisa berganti pakaian di sana?” jawab Damar sambil memberikan beberapa gamis dan hijab panjang.
“Sejak kapan kamu menyiapkan ini semua?” tanya Amelia.
“Kebetulan saja, aku dan Panca memang sudah sepakat untuk membuat Gilang kesini. Oleh karenanya, aku menyiapkan ini sejak pertama kita jalan-jalan hari ini,” jawab Damar ringan.
__ADS_1