
“Kenapa kamu tidak melarang mereka bertemu dan tidak marah akan hal itu? Bukankah ini sama sekali bukan sifatmu kawan?” tanya Panca.
“Kita sudah bukan lagi anak kecil Panca. Jika memang Lia sampai tergoda lagi dengan Fajar, maka aku akan meninggalkannya,” jawab Damar datar.
“Jangan-jangan kamu mulai tertarik dengan sekretarismu itu? Apakah kalian memiliki semacam hubungan spesial?” tanya Panca menggoda.
“Apa yang kamu katakan, sekarang aku hanya mencoba realistis saja, lagipula aku sudah yakin Lia tidak akan menanggapi Fajar,” jawab Damar penuh keyakinan.
“Ha ha ha … baiklah mari kita pergi menjenguk Pak Ustad kita, Gilang!”
Kedua orang itu mengangguk bersama, lalu mereka mengendarai sebuah mobil menuju ke pondok pesantren tempat sahabatnya itu tinggal.
***
__ADS_1
“Sungguh kisah percintaan yang sangat keren, bagaimana bisa kamu sesabar ini Gilang? Kamu masih Gilang sahabat kami bukan? Kami sampai hampir tidak mengenali dirimu sekarang kawan,” ucap Panca seenaknya.
“Dasar teman tak tahu diri, apanya yang keren, bahkan sampai aku sudah memenuhi persyaratannya, tetap saja tidak bisa meminangnya, aku hanya takut kehilangan saja,” jawab Gilang sedikit sensi pada Panca.
“Bukankah waktu itu Pamanku sudah mengatakan untuk memasrahkan semuanya atas kehendak Tuhan? Kenapa kamu malah murung seperti ini?”
“Memang kami disini tidak mengerti bagaimana kamu hidup, tapi setidaknya pasrahkanlah semua pada Tuhan, maka pasti ada jalannya.”
“Jadi jangan menyerah Gilang, ikhlaskan semuanya, kamu akan menuai hasilnya suatu saat nanti, lebih baik kamu sekarang fokus membenarkan hati.”
“Mungkin karena kamu terlalu terus terang dengan ayahnya, bagaimana jika kamu mendekati orang tua perempuan itu tanpa ada tendensi apapun, mungkin akan ada jalan keluarnya?”
Ketiga sahabat itu saling menguatkan, terutama untuk Gilang yang cintanya masih belum diterima oleh calon mertuanya, meski semua persyaratan sudah selesai.
__ADS_1
“Kamu hanya butuh sabar dan terus berusaha, mungkin itu yang ingin dilihat oleh ayah perempuan itu, tetaplah semangat jangan putus asa, jika kamu bosan, kunjungilah kami di kota,” ucap Damar.
“Terima kasih sudah menghiburkan seharian penuh ini, aku tahu kalian berdua orang yang sibuk, semoga apa yang kalian harapkan juga cepat tersampai,” ucap Gilang melepas kepergian sahabatnya itu.
***
Ketika perjalanan di mobil.
“Aku sangat iri dengan Gilang, dia bahkan bisa mengejar pujaan hatinya tanpa ada paksaaan sama sekali dari keluarganya, andaikan itu juga hadir dalam keluargaku,” keluh Panca tiba-tiba.
“Mari kita menuju keluargamu, aku tidak bisa tenang jika sahabatku ini selalu mengeluhkan hal yang sama selama beberapa tahun terakhir,” ucap Damar tidak mau basa-basi.
“Memangnya apa yang ingin katakan pada mereka? Kamu tahu kedua orang tuaku yang keras kepala bukan? Meski di hadapanmu mereka lemah lembut, tapi tidak kepada anaknya sendiri,” potong Panca masih mengeluh.
__ADS_1
“Mari kita lihat apa yang bisa aku lakukan di sana, tapi jangan sekali-kali kamu mengeluh karena orang tuamu yang seperti itu, mereka melakukan itu karena mereka ingin yang terbaik,” ucap Damar.
“Andaikan aku boleh mengeluh, maka aku akan menjadi orang pertama yang selalu ingin dimarahi, dibentak atau apapun oleh orang tuaku, sayangnya mereka sudah berada di surga…”