KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM

KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM
Kenapa Aku Merasa Tidak Pantas.


__ADS_3

10.08.2002.


Untuk pertama kalinya, aku melihatmu menggunakan setelah hijab dan gamis yang sangat cantik itu. Kamu benar-benar terlihat seperti seorang wanita salihah dan aku sangat kagum dengan ciptaan Tuhan yang satu ini, Amelia Gunawan.


Masuk Ke Pondok Pesantren.


Beberapa santri yang melihat rombongan Damar dan lainnya langsung mengarahkan mereka semua menuju kediaman Sang Kyai Pondok. Tak lupa mereka berempat membeli beberapa buah tangan sebelum kedatangan mereka kemari.


Setelah menunggu beberapa saat di ruang tamu, Sang Kyai Pondok datang, beliau sedikit terkejut mengenai kedatangan tamu yang ternyata masih sangat muda. Namun setelah memperhatikan Damar, beliau tidak terlalu terkejut lagi.


“Nak Damar? Bagaimana kabarmu selama ini? Sudah beberapa bulan terakhir kamu tidak berkunjung dan apakah mereka bertiga teman yang sering kamu ceritakan itu?” tanya Sang Kyai, beliau seakan-akan sangat akrab dengan Damar.

__ADS_1


Yang pertama kali meminta penjelasan adalah Gilang, bagaimana bisa sahabatnya itu bisa mengenai Sang Kyai Pondok yang terkenal sangat sulit ditemui ini, bahkan sampai membuat Sang Kyai Pondok mengingat namanya dengan benar.


“Apa yang kalian semua heran? Apakah kalian bertanya mengenai hubunganku dengan Sang Kyai Pondok ini? Jika kalian ingin tahu, maka ceritanya sangat panjang sekali,” goda Damar pada teman-temannya.


“Hush! Tidak baik berbohong seperti itu Damar. Jangan dengarkan kata Damar anak-anakku. Aku adalah kakak dari ibu Damar, bisa dikatakan aku adalah Paman atau biasanya dipanggil Pakde oleh Damar,” jawab Sang Kyai Pondok.


“Tunggu-tunggu? Kenapa kamu tidak pernah mengatakan memiliki keluarga dari kalangan pondok pesantren? Apakah kamu masih bersahabat dengan kami, Damar?” protes Panca dan Gilang bersamaan.


Damar yang sejak tadi tidak menanggapi protes kedua temannya itu karena memandang Amelia yang sangat cantik itu. Dalam hatinya dia berharap kekasihnya itu bisa mengenakan pakaian tersebut dengan kesadaran penuh, tanpa ada acara seperti ini.


“Oh iya Pakde, kedatangan kami kesini karena ada salah satu temanku ini tertarik dengan salah satu santriwati pondok pesantren ini, namun dia tidak mendapat reaksi baik dari orang tua si santriwati itu,” jelas Damar memecah kericuhan itu.

__ADS_1


Sang Kyai Pondok dengan bijak memberikan beberapa saran yang masuk akal dan beliau memang sudah pernah mendapat pengakuan seperti itu dari salah satu wali santriwati.


“Intinya, ayah dari santriwati tidak ingin menjadikan putrinya dipinang oleh orang kaya begitu saja. Namun, dia juga harus berhasil menjadi imam yang baik di masa depan,” jawab Sang Kyai.


“Kalau tidak salah satu lagi yang sangat diinginkannya, orang tua santriwati itu ingin bahwa calon menantunya itu hafal dan paham setidaknya 3 juz Al-Quran,” sambung Sang Kyai sambil mengeluar jenggot putihnya.


“Saya akan melakukannya, lalu apakah saya boleh belajar di sini? Saya akan melanjutkan belajar dan menunda kuliah saya sebentar demi melakukan itu,” jawab Gilang tegas.


“Nak Gilang, jangan biarkan kamu menghafal dan memahami Al-Quran karena seorang wanita, luruskan niatmu terlebih dulu, lakukan semuanya karena Allah. Sebelum kamu bisa melakukan itu, kamu tidak boleh belajar di sini,” tegas Sang Kyai Pondok.


“Astagfirullah, maafkan saya Pak Kyai, saya sudah salah kaprah memahami ini semua. Saya akan mencoba meluruskan niat terlebih dulu,” jawab Gilang yang sadar akan kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2