
30.08.2002.
Waktu itu aku sangat dilema, aku dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Namun, pada akhirnya aku memilih menemui keluargaku. Tapi, aku tidak menyangka kesalahpahaman ini semakin dalam dan kamu langsung saja membenciku Lia.
Damar bergegas menuju ke rumah sakit, dia merasakan ada hal yang tidak beres di sana.
Sesampainya di rumah sakit, ketakutannya menjadi kenyataan, wajah ketiga kakaknya sangat pucat.
“Kenapa kalian bertiga tiba-tiba masuk rumah sakit?”
“Oh kamu sudah datang Damar, kemarilah adik kecilku tersayang!”
Darsa Baskoro memanggil Damar ke dekat tempat tidur miliknya.
“Jangan menakutiku, sebenarnya ada apa dengan kalian bertiga?”
Damar masih tidak bisa menerima, kenapa ketiga kakaknya masuk rumah sakit secara bersamaan.
“Maaf karena telah menyembunyikan ini semua darimu adik.”
“Sebenarnya kami tidak ingin kamu tahu mengenai masalah ini sampai kami meninggal.”
“Tapi setelah kami pikir, lebih baik sepertinya kamu tahu, karena kamu akan menjadi satu-satunya marga Baskoro yang masih hidup.”
__ADS_1
Kini giliran Dimas Baskoro yang biasanya berkata keras dan yang paling sering memukuli Damar berbicara lembut.
“Melihat wajahmu yang kebingungan, sepertinya kamu sangat ingin mengetahuinya bukan?”
“Kalau begitu biarkan aku yang menceritakannya Kak Darsa, Kak Dimas. Aku akan menceritakan semuanya sampai tuntas.”
Kakak Ketiga Damar yang bernama Dirga mengambil alih percakapan, tanpa menunggu persetujuan lainnya, dia mulai bercerita panjang lebar.
***
“Hiks… Hiks…”
“Kenapa Kak Dirga baru menceritakan ini semua kepadaku?”
“Apakah kalian selama ini sengaja melakukannya padaku, agar aku membenci kalian semua?”
“Kenapa?! Kenapa kalian bertiga begitu bodoh? Apakah ibu waktu itu membiarkan kalian melakukan hal buruk padaku, karena tahu akan hal ini?”
Damar terjatuh histeris mendengar sebuah fakta yang sama sekali tidak diharapkan itu.
“Sudahlah adik, jangan biarkan rasa senang kami harus menjadi kesedihan yang mendalam di saat-saat terakhir kami.”
“Kami bertiga melakukan ini semua karena senang atas kehadiranmu di dunia ini, oleh karena itu kamu bertindak kasar selama ini.”
__ADS_1
Darsa Baskoro mencoba meraih Damar yang menangis ke dalam pelukannya. Dari sorot matanya, Darsa Baskoro sangat-sangat menyayangi adiknya tersebut.
Bahkan dalam hatinya tidak ada penyesalan, meskipun tak lama lagi dia meninggal karena salah satu ginjal miliknya, sudah diberikan pada adiknya tersebut.
“Ini semua tidak adil, lalu setelah ini siapa yang akan menghajarku? Siapa yang akan menghardikku? Siapa yang akan membuatku tidak nyaman di rumah? Katakan?! Siapa lagi setelah ini yang akan melakukan hal itu padaku?!”
Tiga Kakak Damar itu hanya bisa terdiam dan tersenyum tulus, lalu salah satu dari mereka berbicara.
“Oleh karena itu, tugas kami selama ini melatih mental, fisik dan semua hal sudah selesai, kami sangat berharap kamu bisa hidup dengan baik di dunia ini.”
“Kami juga sudah tahu mengenai kedekatanmu dengan pacarmu itu, siapa namanya, oh iya Amelia Gunawan, menikahlah dengannya.”
Dimas Baskoro masih sempat bercanda di kala seperti ini, dia mencoba mencairkan suasana, tapi tubuhnya malah langsung drop dan menegang.
“Uhuk… uhuk…”
Dimas Baskoro mengeluarkan darah dalam batuknya, tubuhnya juga mulai kejang karena kegagalan nafas.
“Kak Dimas! Jangan tinggalkan aku! Kakak tunggu sebentar!”
“Dokter! Suster! Cepat kemari! Kakakku mengalami kejang hebat!”
Dimas Baskoro yang masuk dalam kondisi kejang itu ternyata masih menyimpan sebagian kesadarannya, dalam hati terdalamnya, dia sangat senang karena adik kecilnya itu memanggilnya kakak untuk pertama kali sekaligus terakhir kali karena…
__ADS_1
*TIIIIIT!
“Kakak! Kakak! Jangan tidur dulu! Setelah ini kakak akan selamat!”