
Sejak kedatangan Amelia ke pondok pesantren itu, dia dengan tidak banyak bicara seperti biasanya, dia selalu memperhatikan sekitarnya karena merasa minder pada semua santriwati yang berlalu lalang di dalam pondok tersebut.
Hal ini juga disadari oleh Damar, lalu dia minta izin untuk keluar sebentar pada paman dan teman-temannya itu, dia lalu mengajak Amelia untuk berkeliling pondok, dia hanya ingin melihat Amelia tidak seperti itu lagi.
Mereka berdua pun dari kediaman sang kyai, lalu keduanya diantarkan oleh beberapa santri yang lebih muda beberapa tahun dari mereka berdua untuk melihat area pondok dan suasana asri di dalamnya.
Selama perjalanan, niat awal Damar yang ingin menghibur Amelia sedikit tertunda karena dia terus mengobrol dengan beberapa santri yang mengenalnya, ternyata dia cukup terkenal di kalangan para santri pondok ini.
“Kak Damar, kenapa kakak sangat lama tidak berkunjung kesini? Bahkan kami semua sangat merindukan kakak,” celetuk salah satu santri yang mengantar.
“Jangan bohong, kamu hanya ingin jajanan yang dibawa Kak Damar, kan? Dia memang begitu Kak Damar, hanya memikirkan perutnya saja!” imbuh santri lain.
__ADS_1
Keduanya pun tertawa bahagia bersama Damar, candaan ringan seperti itu memang sering terjadi di kalangan santri. Meskipun itu terkesan biasa, namun di pandangan mata Amelia semua tampak luar biasa.
‘Damar begitu akrab dengan santri yang ada disini dan sekarang aku tahu kenapa dia bisa sesabar ini, bahkan dia tidak pernah mengungkit kesalahanku di masa lalu, dia terlalu baik untukku,’ batin Amelia berpikiran yang tidak-tidak.
Setelah berkeliling pondok, keminderan Amelia semakin terlihat ketika ada beberapa santriwati yang memperhatikan Damar dari kejauhan dengan malu-malu, memang harus diakui Damar memiliki ketampanan yang luar biasa.
Hati Amelia sangat panas melihat hal tersebut, dia tahu memang bukan hak dia melarang para santriwati yang terlihat seumuran dengannya itu melihat Damar, namun dirinya sekarang adalah pacar Damar, dia tidak rela.
“Kenapa kamu melamun Lia, apakah kamu mau keluar pondok sebentar?” tanya Damar yang mengalihkan pembicaraannya kepada kekasihnya itu, lalu dengan lembut dia mengajak Amelia keluar dari area pesantren tersebut.
“Adik-adikku, aku akan membelikan makanan untuk kalian semua terlebih dulu ya, aku berjanji akan membawa makanan yang sangat banyak, sampai kalian semua kenyang karenanya,” janji Damar pada santri-santri yang mengantarnya.
__ADS_1
“Terima kasih Kak Damar! Kak Damar memang yang terbaik!”
Damar dan Amelia lalu berjalan pelan meninggalkan area pesantren, mereka berdua mengendarai mobil milik Panca dan menuju ke sebuah swalayan yang tak jauh dari area pesantren itu.
Damar memberanikan diri membuka percakapan.
“Ada apa denganmu Lia? Apakah kamu tidak nyaman menggunakan pakaian ini? Kalau begitu aku minta maaf, karena salah sewaktu membeli baju ini, karena aku hanya mengira saja waktu itu,” sesal Damar sesaat setelah mereka turun dari mobil.
“Bukan masalah itu, aku juga nyaman kok menggunakan pakaian ini, lebih baik kita segera membeli makanan sesuai janjimu tadi, kalau tidak mereka akan menunggu kita sangat lama,” jawab Amelia mengalihkan topik pembicaraan.
“Lia! Apakah kamu tidak bisa menceritakan apa yang kamu pikirkan? Tolonglah, aku bukan seorang cenayang yang bisa membaca isi hati dan pikiran orang lain, jika aku salah maka katakanlah, aku akan memperbaikinya,” tahan Damar menahan laju Amelia.
__ADS_1