KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM

KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM
Mencoba Memantau Dari Kejauhan.


__ADS_3

Di Rumah Keluarga Gunawan.


“Bagaimana hasilnya tadi Lia? Apakah Damar sudah menyetujui untuk memberikan suntikan modal untuk perusahaan papa yang ada di luar jawa?” tanya Panji Gunawan (Ayah dari Amelia).


“Kenapa papa masih bertanya, tentu saja anak kita berhasil, bukan begitu Lia? Kamu pasti sudah memarahi kekasihmu itu dan mampu mendapatkan hasil yang baik bukan?” sambung Devina Margono (Ibu dari Amelia).


“Aku baru pulang dari luar negeri dan pertanyaan kalian seperti ini? Memang pantas Damar marah pada kalian berdua, karena hanya memikirkan tentang uang saja!”


“Aku capek, aku mau tidur dulu. Dan jangan ganggu aku, karena kalian aku berantem dengan Damar. Karena informasi yang kalian berikan padaku itu, dia sangat marah, sangat-sangat marah!”


Amelia berlarian di tangga, dia langsung mengunci pintu kamarnya tanpa memedulikan barang bawaannya yang masih kotor di luar sana, dia terlihat kacau karena malam yang indah harus berubah menjadi seperti tadi.


“Besok aku harus minta maaf secara langsung. Padahal aku sendiri yang mengatakan untuk tidak terlalu mempercayai orang tuaku, karena sifat mereka yang seperti itu.”


“Tapi kenapa malah aku sendiri yang meledak dan tidak mau mendengarkan penjelasan Damar. Apakah dia akan memaafkan atas sikapku malam ini? Aku penasaran.”


Amelia menangis sampai tertidur, dia hanya memikirkan bagaimana dirinya seharusnya menjadi pendukung terkuat Damar sekarang. Dan semuanya kacau karena informasi tak berdasar Kedua Orang Tuanya.


***


Keesokan harinya…


Amelia sedikit gelisah, biasanya Damar akan meneleponnya hanya untuk sekedar menanyakan kabar atau apapun itu, tapi sampai jam 9 pagi, belum ada panggilan dari kekasihnya itu.

__ADS_1


“Aku akan mengunjunginya di Kantor, sepertinya dia masih banyak pekerjaan sampai tidak sempat meneleponku pagi-pagi seperti ini, atau jangan-jangan…”


“Lia! Jangan berpikiran seperti itu, sudah cukup salah paham kemarin malam, tidak seharusnya kamu menambah masalah, mari kita buat hari ini menjadi lebih baik lagi.”


Amelia bersiap untuk pergi ke kantor kekasihnya itu, namun ketika sampai di ruang tengah, dia tengah melihat wajah kedua orang tuanya bertekuk.


Meskipun hatinya masih kecewa, tapi sebagai seorang anak tentu saja hal itu membuatnya sedikit merasa kasihan dengan keduanya, akhirnya dia bertanya.


“Ada apa dengan Papa dan Mama?”


Ayahnya menengok pelan dan terlihat sangat berharap akan sesuatu, begitu juga dengan Ibunya yang entah kenapa dia memasang wajah seperti itu.


“Lihatlah sendiri…”


“Kenapa bisa terjadi seperti ini? Apa yang sudah terjadi pada perusahaan? Apakah ada orang yang telah menggelapkan dana besar-besaran?”


Amelia membuka lembaran demi lembaran dari buku laporan keuangan tersebut, sampai akhirnya dia menyadari bahwa memang ini karena kurangnya investor selama beberapa bulan terakhir.


“Haish … baiklah, aku akan bertemu dengan Damar untuk meminjam beberapa uang, agar perusahaan kita tidak bangkrut, tapi perlu diingat ini yang terakhir kalinya.”


Amelia langsung paham dengan maksud kedua orang tuanya itu, lalu dia berlalu pergi begitu saja mengendarai salah satu mobil keluarga yang sudah terparkir di depan rumah.


“Lagi-lagi masalah uang, aku tahu Damar akan dengan mudah meminjamkan uang padaku, tapi apakah aku masih punya muka menghadapinya setelah itu?”

__ADS_1


“Aku akan bekerja untuknya demi membayar hutang yang akan aku pinjam ini, dengan begitu aku juga bisa selalu berada di samping Damar selamanya.”


***


Sampai di Kantor Baskoro Grup.


“Maafkan saya Nona Amelia, Tuan Damar sedang ada urusan lain, beliau sedang meninjau sebuah anak perusahaan baru yang dikembangkannya selama beberapa minggu terakhir.”


“Sekarang beliau tidak ada di tempat dan biasanya Tuan Damar akan datang ke kantor ini selepas makan siang, apakah Anda ingin menunggunya sampai saat itu?”


“Ya aku akan menunggunya…”


***


Beberapa jam kemudian, Damar terlihat datang bersama dengan Hanna, mereka keluar dari mobil yang sama dan terlihat keduanya sangat lega karena telah menyelesaikan sesuatu.


“Kita akhirnya berhasil membangun pondasi awal anak perusahaan itu, mari kita hasilkan ratusan miliar setiap bulannya dengan mereka semua, apakah kamu menerima tantangan ini?”


“Tentu saja, kenapa saya harus takut.”


Damar dan Hanna terlihat tertawa bersama, tanpa tahu ada seseorang yang memantau mereka dari jauh. Seorang perempuan cantik yang terlihat sangat cemburu dan marah.


“Apakah dia wanita yang bernama Hanna itu? Lalu kenapa Damar begitu bahagia ketika berada di dekatnya? Apa aku harus mendekati mereka berdua?” batin Amelia.

__ADS_1


__ADS_2