
10.11.2000.
Saat itu kamu menangis di hadapanku dan mengatakan bahwa kamu sudah kehilangan mahkotamu dan kamu takut jika kamu hamil. Tapi apa yang bisa kulakukan? Kamu memaksa untuk menerimamu?
"Kenapa kamu menangis, Lia? Bukankah seharusnya selalu tersenyum dan mendapatkan kebahagiaan dengan Kak Fajar yang selalu kamu banggakan itu?" tanya Damar yang melihat Amelia menangis di kelas.
"Aku takut Damar, aku sangat ketakutan!" Amelia tidak bisa menahan tangisnya, lalu memeluk Damar begitu saja, dia menangis sampai tidak keluar air dari pelupuk matanya.
Damar hanya membiarkan Lia menggunakan dadanya untuk menangis, dia tidak tahu bahwa berita yang akan terdengar ke telinganya akan sangat sakit, bahkan begitu menyakitkan.
Beberapa menit kemudian …
"Ceritalah, aku akan mendengar semua keluh kesahmu, karena aku sangat menyayangimu, tidak … aku sangat mencintaimu, Lia!" ucap Damar lirih sambil mengelus rambut Amelia.
Suasana di kelas sudah sepi, karena itu adalah waktu pulang sekolah. Disisi lain Amelia ragu, apakah akan menceritakan kisah memilukannya pada Damar. Tapi, pada akhirnya dia menceritakannya panjang lebar.
__ADS_1
*BRAK!
Damar menggebrak meja.
"Jadi, bajingan itu sudah melakukan itu padamu dan sekarang kamu sudah kehilangan mahkotamu? Apakah sekarang kamu sudah sadar bahwa peringatanku waktu itu bukanlah lelucon?" ucap Damar.
Dia menahan amarahnya, hampir saja dia menghempaskan tubuh Amelia yang ada di dadanya, tapi jauh dari lubuk hatinya, dia tidak tega membuat Amelia akan menangis lagi.
"Aku akan bertanggung jawab jika sampai kamu benar-benar hamil, aku juga akan membuat cerita bahwa seakan-akan aku yang telah memaksamu untuk melakukan itu, kamu bisa tenang!" ucap Damar.
Dia berbicara seperti itu untuk menenangkan Amelia yang sangat ketakutan, terutama bagaimana cara dia menjelaskan pada orang tuanya nanti.
“Baiklah, kamu bisa tenang. Aku akan mengantarkanmu pulang, nanti kita juga akan membeli alat tes kehamilan, semoga saja kamu tidak hamil,” ucap Damar menenangkan.
Jangan ditanya lagi mengenai hatinya, meskipun mulutnya bisa berbohong, tapi dari nada suaranya bisa terasa sangat getir ketika kata-kata itu terlontar.
__ADS_1
Amelia mengangguk paham, lalu dia berjalan mengikuti Damar dari belakang yang mengantarkannya pulang ke rumah. Selama perjalanan mereka membeli alat tes kehamilan.
Amelia langsung memasukkan alat itu ke dalam tasnya, lalu berterima kasih pada Damar. Lalu, Damar pamit untuk pulang terlebih dulu.
“Sampai jumpa besok … ” Amelia melambaikan tangan.
“Mungkin aku tidak akan masuk dalam beberapa hari, jangan rindu padaku ya … dah …” Damar ingin melakukan sesuatu selama beberapa hari terakhir, tapi itu semua tidak hubungannya dengan Amelia.
Amelia yang dari tadi terus bertanya, akhirnya menyerah karena Damar sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Lalu dia hanya melambaikan tangan dan masuk ke dalam rumah.
***
Di rumah Keluarga Baskoro.
“Jadi, apa yang harus kita lakukan kak? Apakah kita harus menjual semua barang-barang yang ada di rumah ini? Lalu bagaimana dengan adik dan ibu?” tanya Kakak Ketiga.
__ADS_1
“Kita akan menyewakan sebuah apartemen atau sebuah rumah kontrakan yang ada di sekitar Kota Malang atau Kota Batu sana, itu adalah solusi jangka pendek untuk sekarang,” jawab Kakak Pertama.
“Siapa yang berani mengusir ibu dari rumahnya sendiri?” Damar datang dengan teriakan keras.