
01.01.2007
Aku tidak menyalahkanmu mempercayai orang tuamu. Tapi apakah kamu tidak percaya padaku dan menganggapku berkhianata di belakangmu? Aku tidak pernah sehina itu Lia, kamu percaya padaku bukan? Jika kamu tidak percaya, bagaimana dengan dirimu sendiri?
“Bukannya aku tidak percaya padamu Sayang, tapi menurut kedua orang tuaku, Hanna itu bukan wanita yang baik dan dia hanya ingin merebut kamu dariku,” jawab Amelia pelan.
“Aku tidak akan pernah melarang kamu percaya pada kedua orang tuamu. Tapi bukankah kamu sendiri yang mengatakan mengenai alasan ‘ITU’, kenapa kamu percaya dengan kata-kata mereka?” balas Damar tenang.
“Ak– aku tidak tahu, mungkin ini hanya rasa cemburu yang tak berdasar, baiklah lupakan saja bahwa kau pernah mengatakan hal itu, sekarang mari kita kembali menikmati malam ini.”
Amelia mengubah topik pembicaraan, dia merasa bersalah karena sudah merusak momen kebersamaan, yang sudah dibangun oleh Damar sejak tadi di Bandara.
Rusaknya momen itu bisa terlihat dari sikap Damar yang tidak menjadi manja dan semanis tadi. Dia sendiri langsung berpikiran bahwa pelajarannya selama ini pada Keluarga Gunawan masih belum cukup.
__ADS_1
‘Bagaimana bisa kalian menggunakan anak kalian sendiri untuk melakukan ini padaku? Kita lihat saja, ketika perusahaan Hanna itu sudah beroperasi, akan aku aduk-aduk perusahaan kalian!’ dendam Damar dalam hati.
Damar sendiri sebenarnya sudah berulang kali bersabar atas sikap calon mertuanya tersebut. Namun, selalu saja keduanya membuat masalahnya semakin banyak dan puncaknya ketika waktu itu mereka berdua menghina Hanna.
Sejak saat itulah Damar mengubah sikapnya, karena mungkin kedua orang tua Amelia memang tidak bisa diberitahu dengan cara biasa.
Tapi sepertinya perjuangannya tidak akan bisa semulus itu, karena melihat bagaimana cara mereka memberikan fitnah dirinya dengan menggunakan Amelia.
“Aku tidak habis pikir dengan Paman Panji dan Bibi Devina, apakah yang ada di kepala mereka hanya ada uang, bahkan kamu saja sampai tidak sadar telah dimanfaatkan?”
“Bagaimanapun mereka tetap orang tuaku, jadi aku ingatkan sekali lagi, kamu tidak berhak mengatakan hal itu. Aku akan pulang sendiri terima kasih untuk hari ini!”
Malam yang seharusnya penuh dengan cinta itu berakhir dengan pertikaian, meskipun pada akhirnya Amelia diantar pulang oleh Damar tapi dia tidak berbicara sepatah katapun dalam perjalanan.
__ADS_1
Sampai di rumah keluarga gunawan.
“Aku akan menjemputmu besok dan maaf karena kata-kata kasarku tadi.”
Permintaan maaf Damar tidak digubris oleh Amelia. Amelia tak peduli dan langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa mengatakan apa-apa pada Damar.
“Haish, kenapa aku tadi tidak bisa menahan diri dari mengatakan hal itu? Apakah ini ada hubungannya dengan Hanna? Dan kenapa aku sekarang malah memikirkan wanita itu?”
Damar tak kunjung pergi dari sana, dia terlihat sedang berpikir keras mengenai apa yang sebenarnya terjadi, khususnya pada hati dan perasaannya sendiri.
“Apakah aku selama ini sudah merasa nyaman dengan Hanna dan rasa sayangku sudah bergeser padanya? Tapi kenapa aku masih tidak bisa melepaskan Amelia? Kenapa dengan hatiku ini?”
Damar membanting setirnya dan berkendara menjauh dari rumah itu, dia membiarkan pemikirannya yang aneh itu tersapu deras angin yang mengalir sepanjang jalan.
__ADS_1
“Tuhan … siapapun yang terbaik menurut Engkau, hamba akan menerimanya, tapi tolong jangan buat hati hamba bimbang dengan masalah percintaan yang rumit ini!” teriak Damar ke langit malam.