
01.08.2002.
Kamu memiliki keinginan yang luar biasa. Aku memang ingin sekali kamu tidak jauh-jauh dariku. Namun, karena ini adalah impianmu, maka aku tidak akan melarangnya. Kamu bisa mengejar keinginan dan cita-citamu yang luar biasa itu Amelia Sayang.
Beberapa hari setelah acara perpisahan di sekolah. Kini, semua orang tengah disibukkan dengan persiapan untuk memilih dan masuk ke universitas tujuan masing-masing.
Tak terkecuali Amelia, dia mengincar salah satu universitas bergengsi yang ada di luar negeri. Bahkan dia sudah mempersiapkan hal itu dari jauh-jauh hari, dia sekarang sedang belajar mati-matian untuk tujuannya itu.
“Lihatlah Damar! Pacarmu itu lebih mengurus buku-buku tidak jelas itu daripada dirimu, apakah kamu tidak cemburu dengan semua buku itu, kami akan membantu jika ingin membakarnya,” ucap Panca.
“Jangan bicara terlalu keras, kita sedang berada di Perpustakaan Umum Kota Malang. Jika kita mengobrol terlalu keras, kita akan ditegur oleh Penjaga Perpustakaan,” sahut Gilang yang selalu mengingatkan Panca.
__ADS_1
“Biarkanlah dia belajar seperti itu, meskipun aku sedikit tidak rela dia belajar di luar negeri, tapi itu adalah keinginannya, aku sudah berulang kali coba meyakinkannya,” jawab Damar ringan.
“Sepertinya hubunganmu memang penuh ujian, tapi setidaknya itu lebih baik daripada dengan perjodohan yang dilakukan keluargaku, bahkan meski aku bilang tidak siap, mereka tetap ngotot ingin menjodohkanku,” keluh Panca.
“Aku turut berduka untuk hal itu kawan, bukannya kami tidak mau membantu, bahkan Damar yang biasanya disambut dengan sopan di keluargamu jika membahas masalah bisnis, juga kena marah jika membahas mengenai hal itu,” sahut Gilang.
“Terimalah saja Panca, bukankah perempuan itu sangat cantik. Meskipun dia sedikit pendiam, tapi termasuk perempuan yang dijaga ketat oleh keluarganya, rugi kalau kamu menolaknya!” sergah Damar memberikan saran.
“Ha ha ha, lihatlah dia temanku, sepertinya dia sedang kesetanan, padahal perempuan yang akan dinikahkan dengannya adalah salah satu anak pengusaha sukses ibukota, seharusnya dia senang akan hal itu,” ejek Gilang.
“Sudah jangan mengejeknya terus, lalu bagaimana dengan hubunganmu sendiri? Apakah ada perkembangan sejak kedatangan kita terakhir kali waktu itu? Kamu kan satu-satunya yang melakukan ta’aruf?” tanya Damar.
__ADS_1
Panca yang bersungut marah, menghentikan tingkahnya itu dan ikut menunggu jawaban Gilang. Karena, berbeda dengannya, Keluarga Hartanto membebaskan anak-anaknya untuk memilih pasangan hidup sendiri.
Tidak ada kekangan di dalamnya, karena itu Panca sangat iri dengan Gilang dalam aspek ini. Namun, dia selalu mendukung Gilang di setiap saat. Karena cintanya juga tak kunjung terjawab oleh perempuan cantik yang ditemuinya itu.
“Aku tidak ingin menceritakannya sekarang, tapi yang pasti masih belum ada perkembangan, hanya saja aku sekarang lebih sering dan semakin akrab dengan ayah dari perempuan itu, setidaknya itu lebih baik sekarang,” jawab Gilang murung.
“Tenang kawan, kami akan selalu membantu, kami pasti akan mengusahakan yang terbaik untukmu. Atau kita datangi saja Pesantren tempat pujaan hatimu itu, lalu mengunjungi kediaman kyainya? Siapa tahu, jalan akan semakin terbuka lebar?” tawar Damar yang selalu datang dengan idenya.
“Apakah kalian akan membantuku untuk melakukan itu?”
“Kenapa masih kamu tanya, tentu saja kami akan membantu, apalagi yang paling agamis di antara kita bertiga adalah kamu. Dan kamu selama ini sudah sering kali menasihati kami berdua, sekarang giliran kami membalasnya.”
__ADS_1