
30.08.2002
Tak dapat kupungkiri, hari itu adalah hari paling menyakitkan bagiku. Ketika aku tidak memiliki siapapun yang bisa dijadikan sebagai tempat bersanding, kamu menolakku dan memberikan janji yang sangat meragukan. Satu pertanyaanku Lia, Apakah kamu benar-benar mencintaiku? Atau kamu hanya sekedar mengikuti keegoisanmu saja? Aku ingin tahu itu.
“Maafkan aku Damar, tapi aku harus menolaknya, aku masih harus melanjutkan studi di Inggris, bukankah kamu tahu akan hal ini?”
Amelia menunduk malu dengan jawabannya tersebut, dia sebenarnya memiliki pertimbangan lain kenapa dia menolak Damar.
‘Aku tidak ingin kamu dimanfaatkan oleh ayah dan ibuku, lihatlah wajah mereka ketika kamu ingin menikahiku.
‘Aku ingin mengubah sikapku yang lemah lembut ini menjadi lebih tegas lagi dan pantas untuk bersanding denganmu, Sayang!’
Sayangnya Damar bukanlah seorang cenayang yang bisa membaca suara hati Amelia, dia sudah terlanjur kecewa dan menatap kekasihnya itu dengan tatapan kosong.
Di benar Damar sekarang, dia sangat membenci perasaannya sendiri, dia sedang berpikir bahwa dirinya tidak akan ditolak oleh Amelia, namun semua itu khayalannya saja.
“Mungkin aku terlalu berharap Lia, aku sangat kecewa padamu! Lebih baik kamu sekarang pergi sebelum aku semakin kecewa padamu!”
Damar berdiri dengan goyah, dia mempersilakan Amelia dan keluarganya untuk segera pergi meninggalkan kediaman Baskoro.
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, tapi suatu hari nanti kamu akan mengerti.”
__ADS_1
Amelia tidak menolak, dia berjalan mendekati kedua orang tuanya yang terlihat sangat tidak senang dengan sikap anaknya tersebut.
Lalu mereka menaiki mobil dan meninggalkan Rumah Keluarga Baskoro.
Disisi lain, Panca dan Gilang menghibur kesedihan sahabat mereka itu. Tapi tidak berhasil dan mereka malah dipersilakan untuk pulang juga, karena waktu sudah malam.
“Aku baik-baik saja, mungkin hanya butuh waktu menenangkan diri selama beberapa hari, kalian pulanglah karena sudah malam.”
“Aku izin untuk tidak pergi ke kantor terlebih dulu selama beberapa hari berikutnya, aku percayakan Gamma Mart pada kalian berdua.”
“Kami berdua sudah tahu bagaimana karaktermu, kami akan memberikan waktu sebanyak yang kamu mau, silakan untuk menenangkan hati dulu kawana.”
“Tapi jangan terlalu banyak berpikiran mengenai hal-hal yang tidak perlu, lebih baik kamu pergi berlibur untuk meredakan amarah dalam hatimu.”
Dia bermunajat dalam sholatnya, dia tidak tahu kepada siapa lagi memohon, dia benar-benar tersedot masuk dalam kesedihan.
“Aku pasrahkan semuanya padamu Ya Rabb, jika hamba membuat kesalahan dalam memutuskan sesuatu, mungkin memang itu yang terbaik darimu,” pinta Damar dalam doanya.
***
Beberapa hari berlalu, Damar sudah terlihat seperti biasanya, dia juga sudah masuk ke kantor.
__ADS_1
Namun, ada satu hal yang membuatnya mengernyitkan dahi, sebuah surat tulisan tangan dari Amelia ada di mejanya.
“Siapa yang menaruh surat ini disini?”
“Saya yang melakukannya Tuan.”
“Beberapa hari yang lalu ada seorang wanita yang mengaku menjadi kekasih Anda, memaksa saya memberikan surat ini pada Anda.”
“Wanita itu tahu bahwa tidak mungkin baginya untuk bertemu dengan Anda dalam masa seperti kemarin, oleh karenanya dia menulis surat ini.”
“Sial! Apakah dia mengatakan kalimat perpisahan atau sejenisnya?”
“Memang benar apa yang Anda katakan, kalau tidak salah dia mengatakan hendak berangkat ke Jakarta hari ini pukul 09.15 dari bandara.”
“Setelah itu akan langsung terbang menuju Inggris. Ada apa memangnya Tuan? Apakah ada perintah lainnya?”
Damar segera melihat jam tangan di lengan kanannya, lalu dia menyuruh sekretarisnya segera menyiapkan mobil untuk dikendarainya sendiri.
“Lia! Apa yang kamu pikirkan sampai hanya ingin berpamitan denganku melalui surat? Apakah kamu masih menganggapku?”
Pikiran Damar sudah kemana-mana, setelah semuanya siap, dia langsung tancap gas menuju bandara, karena waktu sudah menunjukkan pukul 08.30.
__ADS_1
“Tunggu aku di bandara Lia!”