KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM

KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM
Kedatangan Dua Orang Tua Amelia.


__ADS_3

Di Luar Ruangan CEO.


“Kalau boleh tahu Bapak dan Ibu ada urusan apa dengan CEO kami? Karena beliau sekarang masih dalam rapat penting dengan seseorang,” ucap Sekretaris yang berjaga.


“Katakan pada CEO, kami adalah kedua orang tua Amelia yang ingin meminta tolong sesuatu. Pasti dia akan membolehkan kami masuk,” jawab Ayah Amelia berlagak.


“Baiklah, tunggu sebentar.” Sekretaris itu menggunakan telepon yang ada di meja ruang depan itu dan mengabari tuannya untuk meminta izin.


Tapi telepon itu tak kunjung diangkat dan sudah beberapa kali lagi dia mencoba, namun hal yang sama terus berulang. Akhirnya dia menyimpulkan tuannya tidak mau diganggu.


“Maafkan saya Bapak dan Ibu, sepertinya CEO kami tidak ingin diganggu. Apakah Anda berdua berkenan untuk datang lagi nanti? Atau di lain hari mungkin?” tanya Sekretaris itu.


“Siapa kamu berani mengusir kami, kalau memang seperti itu kenapa tidak langsung mengetuk pintunya saja? Dia akan mendengarnya dengan cepat!”


Ayah Amelia itu dengan tidak sopan melewati sekretaris itu dan mengetuk pintu yang tak jauh darinya tersebut. 

__ADS_1


Lalu tanpa sengaja pintu terdorong begitu saja dan dia terjatuh masuk ke dalam ruangan Damar.


Pemandangan yang dilihat kedua orang tua Amelia membuat banyak prasangka buruk dan ternyata orang penting yang dimaksud itu adalah seorang wanita cantik.


“Siapa kamu?! Kenapa kamu berada di ruangan ini berdua saja? Apakah kamu sudah tahu bahwa CEO Damar sudah memiliki seorang kekasih?”


“Apakah kamu mau disebut perebut lelaki orang? Apakah kamu mau menjadi wanita tak tahu malu yang dengan tega menyakiti perasaan wanita lain?”


Ibu Amelia yang bermulut pedas itu langsung mengeluarkan kata-kata pedas yang tak terkira, bahkan dia baru pertama kali bertemu dengan Hanna dan sudah mengatakan itu,


Damar tersulut emosi dan memarahi kedua sekretaris barunya lalu memberikan tatapan tajam pada Ibu Amelia yang memarahi Hanna.


“Kenapa kalian berdua kemari? Apakah kalian tahu ini sangat tidak sopan? Apakah uang yang sudah digelontorkan ke perusahaan kalian habis lagi?!”


Damar biasanya sangat tenang, tapi entah apa yang membuatnya bersikap demikian. Pertama kalinya dia meninggikan suara pada Ayah dan Ibu Amelia.

__ADS_1


“Apakah kamu memarahi kami demi perempuan ini Damar? Dimana hati nuranimu? Apakah kamu mau menyinggung calon mertuamu hanya demi wanita tidak jelas ini?” 


Ibu Amelia berakting sedih, dia sangat tahu bahwa Damar sangat peka terhadap kesedihan dan akhirnya luluh. Sayangnya peristiwa itu tidak terjadi.


“Memangnya kenapa kalau aku membentak kalian berdua. Bahkan kalian bukan orang tuaku sendiri? Apalagi kalian telah berani memfitnah Hanna! Apa kalian masih punya perasaan dengan mengatakan itu!”


Damar meledak marah, dia bahkan tidak sadar bahwa dirinya sangat marah sampai mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tidak layak keluar dari mulutnya. 


"Tidak masalah Tuan. Jika memang saya tidak diterima disini, saya bisa memahaminya. Apalagi mereka berdua terlihat seperti seorang yang cukup penting bagi Anda."


"Terima kasih atas tawaran Anda sebelumnya, tapi saya harus menolaknya karena saya tidak mau jika harus mengurus hal seperti ini di masa depan, saya pamit dulu."


Hanna meninggalkan ruangan tersebut dengan menangis. Damar yang merasa ikut bersalah mengikuti Hanna dari belakang, dia ingin menjelaskan siapa sebenarnya kedua orang itu.


"Aku akan memperhitungkan ini, karena kalian berdua telah menyakiti rekan bisnisku!" Damar ikut meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2