KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM

KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM
Kesalahpahaman Semakin Menjadi.


__ADS_3

01.01.2007


Kamu telah menyelesaikan masa studi di Stanford dan sekarang kamu sudah bisa pulang ke Indonesia. Aku sangat senang akan hal itu. Karena kita bisa terus bersama lagi seperti zaman SMA. Sayangnya semua tidak seindah itu.


“Ada apa ini? Kenapa Damar berani membentak kita?”


“Kamulah yang terlalu kejam mengatakan hal tadi!”


“Kamu juga menyalahkanku suami? Bukankah seharusnya kamu membela istrimu ini?”


“Ayolah jangan bersikap bodoh seperti itu. Apakah kamu mau perusahaan kita tidak menerima gelontoran dana lagi dari Damar? Apakah kamu memikirkan itu juga?”


Ibu Amelia itu terdiam, dia yang memiliki nama asli Devina tak bisa menjawab pertanyaan suaminya.


Sedangkan suaminya yang memiliki nama asli Panji Gunawan itu terus memarahi istrinya dengan kata-kata kasar.


“Sekarang bagaimana kira harus minta maaf pada Damar? Aku tak memiliki alasan lainnya selain menggunakan anak kita Amelia.”


“Bagaimana jika kita katakan saja pada Amelia bahwa Damar sedang berkencan dengan perempuan lainnya. Dengan begitu dia akan luluh lagi.”


“Betul juga, meskipun kadang kata-katamu kasar, tapi masalah ini kamu memang jagonya. Apalagi anak kita beberapa hari lagi akan datang.”

__ADS_1


Kedua suami istri yang tak tahu malu itu mengungkapkan rencananya tanpa sadar masih ada dua sekretaris baru yang ada di belakang mereka.


Keduanya tidak memedulikan hal itu dan keluar begitu saja, mereka berniat menyusun rencana agar Damar bisa memaafkan mereka dan bisa memerasnya lagi.


***


Di sebuah kafe.


“Maafkan kedua orang itu Hanna, dia adalah kedua orang tua dari kekasihku. Memang sifat mereka berdua seperti itu, tolong jangan diambil hati.”


“Saya tidak apa-apa Tuan Damar. Tapi kata-kata wanita itu benar-benar menyakitiku, seakan-akan saya adalah perebut lelaki orang, kalimat itu sangat tidak pantas.”


“Tentu saja Tuan Damar. Apalagi ini baru beberapa hari saya bekerja bersama Anda, saya akan melakukan yang terbaik, tapi gaji saya akan benar-benar naik bukan?”


“Aku tidak akan menarik kembali perkataanku, kalau begitu aku harap kamu bisa sukses menangani rencana bisnis yang sudah kita bahas selama beberapa hari terakhir ini.”


“Baik, Tuan Damar.”


Damar dan Hanna lalu berbincang singkat mengenai kehidupan masing-masing. Sejak pertemuan pertama, keduanya masih belum mengenal satu sama lain.


Karena mereka berdua sama-sama maniaknya dalam bisnis, perbedaannya Damar memiliki modal yang besar. Sedangkan Hanna tidak memilikinya.

__ADS_1


Tapi karena dukungan dari Damar, Hanna menjadi sangat bersemangat dan menjadi begitu liar dalam memikirkan strategi bisnis yang paling masuk akal kala itu.


***


Beberapa hari berlalu, Hanna sudah mulai membuka salah satu anak perusahaan sesuai perintah Damar.


Anak perusahaan ini akan bergerak dalam bidang investasi, karena dalam masa-masa itu pergolakan keuangan negara tengah menuju resesi seperti tahun 98.


Dan dari situlah Damar ingin ikut ambil bagian untuk bisnis berikutnya yang dicanangkan di bawah Baskoro Grup. Dia sendiri sudah mempersiapkan perkiraan resesi yang akan terjadi itu.


Hanna dengan giat merekrut beberapa orang pilihan yang ahli dalam hal ini. Mereka semua adalah lulusan terbaik dan paling berpengalaman dalam hal investasi.


Hanna bahkan berani menggelontorkan dana 10 miliar hanya untuk sepuluh orang itu. “Aku harap bisa menjalankan ini semua dan dapat berjalan sesuai dengan rencana.”


Dia bekerja keras siang dan malam, sampai selama beberapa hari, bahkan sampai tidak pulang ke rumah dan lembur di kantor barunya. Dia memiliki kamar khusus untuknya di sana.


“Bagaimana kabarmu? Apakah kamu baik-baik saja Hanna?”


Damar tiba-tiba datang ke ruangan Hanna, sementara Hanna yang tak menyangka tuannya datang itu, belum mengenakan hijab dan memakai baju tipis, karena memang di jam itu biasanya tidak akan ada orang yang datang.


“TUAN! TOLONG KELUAR SEBENTAR!”

__ADS_1


__ADS_2