
Damar bukanlah seorang anak muda yang suka menghamburkan uang untuk kepentingannya sendiri. Bahkan ketika dia sudah bisa dikatakan kaya seperti sekarang, dia masih tidak memiliki kendaraan pribadi.
“Rasanya sangat senang sekali ketika melihatmu bisa tersenyum dengan tulus seperti ini. Apakah kamu tahu Lia, selama ini aku selalu memikirkanmu,” ucap Damar tiba-tiba.
“Hush … jangan keras-keras, kita sekarang berada di dalam angkutan umum, malu jika didengar orang lain, tapi apakah kamu sungguh-sungguh mengatakan itu?” tanya Amelia tersipu malu.
“Tentu saja, bahkan selama beberapa bulan terakhir aku menjaga jarak denganmu, selalu saja aku ingin sekali mendekatimu, namun karena permasalahan waktu itu, aku memutuskan untuk menahan diri,” jawab Damar tulus.
Amelia langsung teringat dengan masa itu, wajahnya langsung berubah murung. Dia tahu, jika Damar berbicara, maka dia merasa menjadi wanita yang tak tahu terima kasih.
Bagaimana tidak, Damar sudah berjuang untuknya habis-habisan, membelanya di setiap keadaan. Tapi dia selalu saja salah paham dan membela orang lain di hadapannya.
“Sudah jangan murung seperti itu, aku bercerita karena memang ingin kamu tahu seberapa keras hatimu dan akhirnya berhasil aku luluhkan, bukankah sekarang aku sudah menjadi orang paling bahagia di dunia ini?” bijak Damar.
__ADS_1
Amelia masih terlihat murung, Damar juga merasa bersalah karena telah mengungkit masa lalu itu. Lalu dia mencoba menghibur Amelia dengan cara membuat sebuah pertunjukkan sulap kecil.
“Baiklah … agar kamu tidak murung lagi, bagaimana jika aku melakukan sedikit sulap. Tapi, kamu harus berjanji untuk tidak bersedih lagi setelah ini,” pinta Damar.
Amelia mengangguk paham, beberapa orang yang ada di angkutan umum itu juga tertarik dengan percintaan sepasang remaja yang masih mengenakan baju sekolah tersebut, akhirnya mereka semua ikut memperhatikan.
Damar langsung memulai aksinya, dia awalnya mengeluarkan beberapa koin dan dari telinga, mulut dan leher Amelia, ini adalah sebuah trik sederhana dalam dunia sulap.
Lalu dia melanjutkan dengan beberapa permainan kartu, dimana dia bisa membuat Kartu AS selalu muncul di setiap bagian yang disentuh. Beberapa orang semakin memperhatikan dan memberikan tepuk tangan ringan.
‘Amelia! Kamu adalah wanitaku!’
Begitulah tulisan yang tertera di dalam salah satu kartu itu, hal tersebut membuat beberapa orang yang melihatnya tersipu malu sendiri, namun beberapa lainnya iri dengan kedekatan kedua sejoli tersebut.
__ADS_1
“Akhirnya kamu bisa tersenyum lagi, kalau begitu mari kita turun,” ucap Damar menarik tangan Amelia dengan lembut dan minta ke sopir untuk berhenti di bagian bahu kiri jalan.
Sesaat setelah mereka turun, Amelia memberanikan diri untuk memeluk tangan kiri Damar. “Dari dulu, kamu adalah yang paling bisa membuatku bahagia seperti ini Damar.”
“Tentu saja aku sangat percaya diri akan hal itu, bukankah aku memang ditakdirkan untukmu, begitu juga denganmu yang memang harus bersamaku,” ucap Damar percaya diri.
“Auuuu … kenapa kamu mencubitku? Bukankah itu fakta? Apalagi kita sekarang sudah berpacaran, jadi setelah ini tidak akan aku biarkan kamu sendirian sama sekali,” ucap Damar meyakinkan.
“Terserah kamu saja, yang penting sore ini adalah sore paling indah selama aku hidup di Kota Malang ini. Terima kasih karena sudah membuat hariku sangat berwarna dan indah ini, Damar!”
*CUP!
Damar yang tidak siap dicium oleh Amelia, sontak langsung mundur beberapa langkah.
__ADS_1
“Kamu tidak boleh curang seperti itu Lia!”
Keduanya lalu tertawa bersama sepanjang Jalan Ijen tersebut. Keduanya tidak peduli dengan sekitar dan menganggap bahwa orang lain hanya menumpang di dunia ini. Serta dunia ini hanya serasa milik berdua.