
Beberapa hari kemudian, Damar berjalan sendirian menuju ke sebuah kompleks perumahan yang cukup terkenal di kota tersebut. Dia menuju ke sebuah rumah yang dijaga oleh seorang satpam yang sudah berumur 50 tahunan.
“Halo Pak!” sapa Damar ramah.
“Eh Nak Damar! Sudah lama sekali tidak kemari? Apa Nak Damar ingin bertemu dengan Nona Lia?” tanya Satpam itu ramah, dia memang sudah kenal lama dengan Damar sebelum hubungan keduanya merenggang.
“Iya Pak Panto. Apa Lia ada di dalam?” tanya Damar sopan.
“Wah … kalau bapak boleh memberikan saran, lebih baik Nak Damar jangan masuk sekarang, karena suasana di dalam rumah sedang tidak baik-baik saja,” jawab Pak Panto seperti menyembunyikan sesuatu.
“Saya sudah tahu Pak Panto. Justru kedatangan saya kemari untuk masalah itu. Kalau begitu saya langsung masuk saja, boleh?” ucap Damar sambil berjalan masuk ke dalam Rumah Keluarga Gunawan.
__ADS_1
“Terserah Nak Damar saja … semoga kedatangan Anda membuat suasana di rumah menjadi lebih baik.” Pak Panti kembali ke pos penjagaannya dan memperhatikan Damar dari belakang.
***
“Assalamualaikum…” ucap Damar di depan pintu rumah yang pintunya terbuka begitu saja. Bukannya mendapat balasan dari salamnya, dia malah mendapati pertengkaran hebat yang terjadi dari dua atau lebih orang cekcok di dalam rumah itu.
Damar langsung masuk dan benar saja, ketika dia melangkahkan kaki di ruang tengah, sudah banyak orang dari Keluarga Besar Gunawan tengah membahas mengenai kerugian yang diderita perusahaan keluarga.
“Maafkan anakku, aku juga tidak tahu darimana dia berani memalsukan tanda tanganku dan bahkan mencairkan uang yang begitu banyak dalam waktu singkat itu. Pasti itu semua karena Keluarga Ganendra yang mempercepat proses itu agar kita terlambat menyadarinya,” jawab Ayah Amelia.
“Jika hanya sekedar minta maaf, semua orang bisa melakukannya! Apakah kamu tahu, kerugian yang diterima perusahaan ini sebesar 20 miliar!”
__ADS_1
“Kita ini perusahaan menengah, pendanaan seperti itu bukanlah hal mudah untuk kita dapatkan. Terlebih lagi kita masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Keluarga Baskoro, Pramana dan Hartanto yang merupakan pemain nasional, jadi uang 20 miliar itu sangat penting!”
Orang yang terlihat sepuh itu sangat marah pada keluarga kecil Amelia, dia adalah pemimpin Keluarga Gunawan dari generasi sebelumnya. Dia sampai turun tangan karena masalah penipuan ini, itu berarti kejadian ini bukan masalah sepele bagi mereka.
“Permisi, apakah saya boleh bergabung dalam pembahasan hutang dan pendanaan 20 miliar yang kalian semua bicarakan? Kebetulan aku membawa uang yang kurang lebih sama besarnya dengan kerugian kalian itu…”
Suara Damar memecahkan ketegangan yang ada di ruang tengah keluarga itu. Semua mata langsung memandangnya, terlebih lagi ketika dia mengatakan membawa uang sebanyak 20 miliar di dalam kopernya.
“Nak Damar! Sejak kapan kamu ada disana? Maafkan kami yang tidak menyambutmu dengan baik dan memperlihatkanmu pemandangan yang tidak seharusnya dilihat ini, kami minta maaf,” ucap Ayah Amelia bangkit dari kursinya mendatangi Damar.
“Tidak usah begitu Paman, bukankah Paman dan lainnya lebih tertarik dengan koper ini daripada dengan diriku. Kalau begitu mari kita buat kesepakatan!” potong Damar tenang.
__ADS_1