KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM

KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM
Mendapatkan Kabar Orang Tua Lia!


__ADS_3

10.02.2007


Malam harinya aku mendengar kabar mengenai kecelakaan orang tuamu. Aku langsung datang ke rumah sakit, namun kenapa malah ada Fajar disana? Dan kenapa aku memergoki kamu berpelukan dengannya?


Sampai di rumah Keluarga Besar Panca.


“Selamat datang Nak Damar, bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kamu tidak mengunjungi kami,” sambut Mama Panca.


“Maafkan saya Tante, tidak bisa mengunjungi Anda selama beberapa bulan terakhir, ada sesuatu di perusahaan,” jawab Damar sopan.


“Ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba datang bersama dengan anakku? Melihat dari reaksi kalian berdua, apakah ini menyangkut masalah aku menjodohkan anakku?” tanya Mama Panca seperti sudah tahu.


“Eh bagaimana tahu? Padahal kami baru saja hendak mengatakannya, jangan-jangan Mama cenayang ya?” tanya Panca heran.


“Aku adalah ibumu, kenapa aku sampai tidak bisa merasakan apa yang sebenarnya dirasakan oleh anakku sendiri?” jawab Mama Panca ringan.


“Kalau memang Mama sudah tahu, kenapa masih memaksaku untuk menikahi perempuan itu? Aku bahkan tidak menyukainya,” ucap Panca protes.


“Mama sudah memilihkan dari yang terbaik dan dia yang paling cocok dengan sikapmu yang seperti ini, jadi jangan membantah lagi,” ucap Mama Panca tegas.

__ADS_1


“Bukannya saya ingin ikut campur dalam masalah ini, tapi kenapa Mama sangat bersikeras menjodohkan Panca dengan wanita itu?”


“Bukankah seharusnya menikah itu harus didasari dengan rasa cinta? Kalau tidak bagaimana mungkin pernikahan itu bisa berjalan dengan baik.”


“Jangan sungkan untuk memberikan pendapatmu lain kali Damar. Mama sudah menganggapmu seperti anak sendiri, apalagi kamu lebih dewasa secara pemikiran dengan anak kandungku ini.”


“Tapi untuk kali ini Mama tidak akan mengubah keputusan. Pernikahan itu bukan dimana kamu mencintai orang yang kamu inginkan, tapi mencintai orang yang kamu nikahi, karena itu adalah cinta yang sebenarnya.”


“Lihatlah sudah berapa banyak orang yang terlalu bergaul bebas dan berpacaran sana-sini, akhirnya ketika menikah, mereka sudah bosan serta berakhir dengan perceraian.”


“Apalagi di zaman sekarang, mencari wanita yang bisa diandalkan selain untuk merawat suaminya, juga harus pandai mengajarkan sesuatu pada anaknya nanti, bukankah tempat belajar anak pertama adalah ibu?”


Mendengarkan penjelasan Mama Panca panjang lebar membuat Damar tidak bisa berkata-kata lagi, semuanya masuk akal dan memang begitulah kodratnya sebagai seorang manusia.


Di tengah sibuknya mereka mendengarkan nasihat lainnya dari Mama Panca, telepon Damar berdering dan mendapatkan telepon dari Hanna.


*KRIING!


“Maaf Tante.”

__ADS_1


“Tidak masalah.”


Damar langsung menjauh dari ruang tamu, dia meninggalkan Panca yang sudah mulai tersadar dengan semua penjelasan Mamanya.


Bagaimanapun, sebenarnya Panca adalah orang baik dan sangat taat kepada orang tuanya, namun dia tidak ada waktu untuk bicara empat mata seperti itu.


Disitulah peran Damar sesungguhnya, yaitu mendudukan bersama sahabat dan orang tuanya agar bisa bercerita panjang lebar. Mereka berdua hanya kurang komunikasi saja.


***


“Apa? Orang Tua Lia kecelakaan? Baiklah aku akan segera kesana, terima kasih sudah memberikanku kabar Hanna, aku akan meneleponmu lagi nanti.”


Damar langsung bergegas kembali ke ruang tamu dan minta izin untuk pergi sebentar.


“Kamu mau kemana Damar?”


“Orang tua kekasih saya kecelakaan, saya harus kesana, saya pamit dulu Tante.”


“Panca kamu teman Damar, jaga dia. Dan jangan mempertanyakan keputusan Mama lagi,” tegas Mama Panca.

__ADS_1


“Baik Ma!”


__ADS_2