
“Sekarang kamu menuduhku, bukankah semua bukti sudah jelas dan waktu itu Tuan Damar dan dua sekretaris lainnya juga ada disini, tanya mereka kalau tidak percaya,” jawab Hanna masih sangat tenang.
Jauh didalam lubuk hati Hanna, dia sendiri juga sudah mulai tertarik dengan Damar. Dia sebelumnya berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terlalu mengungkapkan hal ini, karena menghormati kekasih tuannya itu.
Tapi, setelah melihat karakter dan sifat Amelia yang seperti itu. Sebagian dari perasaannya ingin sekali membuat wanita itu menghilang dan menggantikannya sebagai kekasih Damar.
“Kenapa kalian tidak berbicara apa-apa, kamu pasti tahu bukan kalau ini adalah akal-akalan Damar? Kenapa kamu tidak membelaku Damar?” tanya Amelia sedikit marah.
“Tapi memang faktanya begitu, apakah kamu mau melihat apa yang sudah dilakukan oleh orang tuamu selama ini, ketika kamu masih di Inggris?” jawab Damar menenangkan.
“Kamu– kamu tidak membelaku dan malah menyudutkanku? Apakah kamu sekarang sudah benar-benar dipengaruhi oleh orang ini Damar? Apakah–”
“Jangan mengada-ngada dalam kesimpulanmu, memang kenyataannya seperti itu Lia. Kalau kamu tidak percaya kamu bisa melihat semua buktinya lagi?” jawab Damar masih mencoba tenang.
“Aku tidak mau berbicara denganmu lagi Damar, aku kira kamu akan bisa menerima kedua orang tuaku dengan berjalannya waktu, ternyata aku salah…”
__ADS_1
Amelia berjalan keluar dari ruangan tersebut dan akhirnya Damar mengikutinya dari belakang, dia tidak mencoba menahan kemana perginya kekasihnya itu.
***
“Jadi… apakah kamu sudah lelah berjalan sepanjang jalan ini? Apakah kamu ingin kembali sekarang?” tanya Damar yang dengan setia tetap berada tak jauh dari Amelia.
“Kenapa kamu masih disini? Bukankah sudah aku bilang aku tidak ingin berbicara denganmu lagi? Apakah kamu tuli Damar?!” marah Amelia meledak-ledak.
“Mungkin ini pertama kalinya aku melihatmu cemburu dan aku sangat senang akan hal itu. Itu artinya kamu sudah sangat menginginkanku,” senyum Damar.
“Kamu yang paling mengenalku Lia, aku mengatakan semuanya dengan jujur, bahkan mengenai kedua orang tuamu yang selalu datang ke kantorku.”
“Mereka bahkan meminta uang yang kalau ditotal sudah bisa membeli Perusahaan Gunawan milik kalian, tapi apa yang sekarang terjadi, perusahaan itu tetap seperti itu saja dan tidak ada kemajuan.”
Amelia langsung terdiam ketika Damar mengatakan hal itu. Bagaimanapun, dia tahu Damar tidak akan berbohong kepadanya, tapi mengenai uang itu, bukankah itu nominal yang sangat besar.
__ADS_1
“Lalu kenapa kamu tidak pernah memberitahukan padaku ketika kamu mengunjungiku di Inggris?”
“Karena aku tidak ingin merusak suasana yang sudah terbangun, apalagi aku sangat senang berada disana karena hanya ada kita berdua.”
“Kamu selalu saja seperti itu Damar. Sudah berapa banyak yang kamu korbankan untukku? Apakah itu sepadan untuk wanita sepertiku?”
“Sangat pantas, bahkan jika aku menukarkan semuanya denganmu, aku tetap masih akan memilihmu, bukankah aku sudah menjanjikan hal itu kala itu?”
Amelia langsung memeluk Damar sambil menangis. “Maafkan aku Sayang karena sudah memarahimu, aku tadi meledak begitu saja, sekali lagi maafkan aku…”
“Tidak masalah, aku sangat senang malahan ketika kamu marah setelah mengetahui kedekatanku dengan Hanna. Aku suka sifat cemburuanmu itu,” senang Damar.
“Kamu jahat, bagaimana bisa kamu tertawa di saat seperti ini!” Amelia memukul ringan dada Damar berulang kali, sambil sangat bersyukur memiliki kekasih yang seperti itu.
Setelah tangian Amelia mereda…
__ADS_1
“Jadi kamu dengan Hanna tidak lebih dari sekedar Partner Bisnis kan?”