KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM

KUBIARKAN ENGKAU TERSENYUM
Kehancuran Bisnis, Bisa Bertahan?


__ADS_3

20.12.2000.


Inilah hari dimana bisnis yang sudah aku bangun bersama kedua temanku hampir hancur, karena Keluarga Ganendra bedebah itu. Namun, untungnya kami Keluarga Pramana dan Hartanto memberikan kami kepercayaan lebih.


Panca Pramana adalah orang selalu berterus terang, meskipun kadang kata-katanya memang menyakitkan, tapi semua perkataannya masuk akal dan berharap bisa menyadarkan Damar.


Namun Damar tidak menanggapinya sama sekali, dia sadar bahwa dirinya bodoh, bahkan sangat bodoh karena terlalu menerima apa pun, padahal dirinya adalah yang paling tersakiti sekarang.


“Maafkan aku kawan … tapi aku sudah terlanjur mencintai Amelia. Kalian berdua tahu sendiri bagaimana kondisi keluargaku, aku mengibaratkan Amelia itu sebagai obat …”


“Aku juga selalu menganggap bahwa berangkat ke sekolah adalah satu-satunya cara agar diriku terlepas dari semua permasalahan itu. Dan satu-satunya yang bisa menghiburku adalah senyuman Amelia …”


Damar menjadi begitu melankolis setelah dimarahi oleh Panca, dia sendiri memang memiliki kebiasaan seperti itu, seperti menjadi orang yang berbeda jika itu benar-benar permasalahan serius dalam hidupnya.


Panca yang melihat sahabatnya tertunduk lesu itu langsung minta maaf, dia tidak bermaksud terlalu keras pada Damar dan membuatnya kembali mengingat bagaimana perlakukan keluarga Baskoro pada sahabatnya itu.

__ADS_1


Pertama kali yang menyadari bahwa Damar bisa lebih ceria dan senang adalah Gilang, dia orang pertama yang mengatakan untuk terus mendapatkan Amelia tidak peduli apa pun.


Bagaimanapun juga, Gilang tahu sesuatu yang hilang dari sisi Damar dulu adalah rasa kasih sayang dan sekarang dia melihatnya sejak sahabatnya itu bertemu dengan Amelia.


Akhirnya ketiga orang itu tidak lagi membahas urusan pribadi dan fokus pada pengembangan bisnis Toko Waralaba pertama mereka. Karena setelah ujian nanti, mereka bertiga akan membuka satu cabang baru.


***


Ujian berakhir, liburan sekolah pun datang. Selama beberapa hari terakhir Damar masih dengan tulus mendengarkan keluh kesah Amelia yang sangat banyak.


Akhirnya Damar juga mendengar mengenai kisah keluarga Amelia yang tidak cukup baik juga, meskipun jika dibandingkan dengannya hal itu masih kalah jauh.


"Aku tidak tahu apa yang disembunyikan ayahku, tapi beberapa bulan terakhir, aku merasa bahwa dia telah berselingkuh dan jarang pulang ke rumah," jelas Amelia pada Damar.


"Mungkin sedang ada kendala di perusahaan ayahmu, hingga menyebabkan dia jarang pulang ke rumah, jangan terlalu berpikiran buruk seperti itu," jawab Damar dengan tenang.

__ADS_1


"Kamu tidak mengerti Damar Baskoro, bahkan ayahku ketika pulang selalu enggan menatap aku dan ibu, sepertinya dia memang sudah berselingkuh selama ini," yakin Amelia.


Damar memukul pelan kepala Amelia.


"Aduh, kenapa kamu memukul aku, bisa jadi semua yang aku katakan itu benar, kan?" protes Amelia yang masih kekeh dengan kesimpulannya sendiri itu.


Damar hanya tersenyum saja, lalu mereka berdua mengobrol lebih dalam dengan ditemani semilir angin yang ada di taman sekolah tersebut.


Tak jauh dari sana, Fajar dan rombongannya mendatangi Damar serta Amelia, dia kemudian melontarkan kata - kata kejam pada kedua orang yang dihampirinya itu.


"Aku tidak tahu bagaimana bisa kamu lolos dari belasan preman yang aku kirim itu, tapi aku sudah menyiapkan rencana lainnya, tinggal kamu tunggu saja!" bisik Fajar pada Damar.


Damar hanya memandangi kakak kelasnya yang sombong itu dan tidak berniat membalas, namun semuanya berubah ketika perkataan Fajar menyinggung Amelia duduk bersamanya.


"Ooo … ternyata kamu disini ya, Pelacur? Bagaimana rasanya sudah tidak perawan lagi dan menjadi bahan perbincangan seluruh sekolah? Menyenangkan bukan?" ejek Fajar.

__ADS_1


*BUK!


Damar tidak terima dan melepaskan beberapa pukulan pada wajah tampan Fajar hingga berdarah di beberapa bagian.


__ADS_2