KULTIVATOR AGUNG MAHA DEWA

KULTIVATOR AGUNG MAHA DEWA
KEMBALI KE BENUA TIMUR


__ADS_3

Zou Kim akhirnya memutuskan untuk bercerita kepada saudara tuanya Cang Guang. Ia dengan serius menuturkan semua kejadian yang telah dialaminya sejak ia masih kecil sampai dengan kedatangan Dewa Pengetahuan Nan Hui yang kemudian menjadi gurunya. Tugas berat yang dititipkan guru kepadanya juga ia ceritakan seluruhnya.


"Jadi Dunia Dewa benar benar ada ya," tanya Cang Guang.


"Aku tidak berani memastikan tempat keberadaannya, karena aku sendiri belum pernah mendatangi dunia mereka. Tetapi tidak mungkin guru akan mendustaiku" terang Zou Kim.


"Aku percaya kepada mu Zou Muda, bahkan aku juga sangat berterimakasih atas segala upaya dan dukungan mu, untuk beberapa tahun aku yakin tidak akan ada peperangan besar antar benua".


"Aku juga berharap demikian Cang Tua. Nanti pada saat aku telah dipanggil naik ke dunia berikutnya, tolong Cang Tua lebih sigap dan siaga terhadap kemungkinan perpindahan para pasukan iblis ke dunia kita".


"Aku akan memerintahkan seisi Sekte Bintang Dewa untuk melakukan pengawasan disetiap pelosok bahkan dengan hasil yang telah kita lakukan di Benua Barat, aku yakin akan mampu mengajak mereka bekerja sama". Janji Cang Guang kepada Zou Kim.


Mereka masih terus melanjutkan perjalanannya. Saat ini mereka telah mengunjakan kaki di Benua Tengah. Sampai suatu saat Zou Kim teringat untuk menanyakan sesuatu.


"Cang Tua, apakah dibenua ini terdapat gunung, jurang atau sejenisnya yang memungkinkan untuk menemukan beberapa sumber daya bagi para kultivator seperti kita" tanyanya.


"Setahuku ada sebuah jurang yang dikenal sebagai jurang neraka dan kebetulan itu berada tidak jauh dari Sekte ku. Masalahnya karena cirita mulut kemulut jarang ada yang berani kesana"


"Kau sendiri tidak pernah kesana," kembali Zou Kim bertanya.


"Aku pernah kesana hanya dua kali, itupun hanya untuk mencari kunci kultivasi sunyi,"


"Kalau begitu, maukah Cang Tua mengajak aku kesana,"

__ADS_1


"Tentu saja saudara ku, untuk mu, jangankan cuma jurang, hujan pedangpun aku tidak perduli," jawab Cang Guang dengan tersenyum.


Mereka berdua terus melanjutkan perjalanan sambil ngobrol dan bergurau. Setelah berada diwilayah Sekte Bintang Dewa, mereka memilih jalan memutar dan menuju kesebuah bukit yang tidak begitu tinggi dan berada antara sepuluh Li dari Sekte Bintang Dewa.


"Zou Muda, kami menyebut bukit ini sebagai Bukit Bintang. Sedangkan jurang itu berada tepat dibelakang bukit" Cang Guang menerangkan.


Akhirnya, bertepatan dengan waktu tengah hari, mereka tiba disebuah patahan tanah horisontal sepanjang ratusan meter dengan lebar sekitaran empat puluhan meter. Zou Kim sedikit terkejut melihat patahan tanah tersebut.


"Cang Tua, bagaimana bisa ada jurang semacam ini disini," tanya Zou Kim.


"Menurut cerita, patahan ini terbentuk setelah adanya gempa besar pada enam ratusan tahun yang lalu, jadi jangan aku, bahkan kongkong ku sendiri tidak mengetahui cerita sebenarnya," jawab Cang Guang.


"Baiklah, sekarang aku akan turun kebawah sana untuk melihat lihat, aku penasaran dengan keanehan patahan ini,"


"Ayo, aku akan tetap menyertaimu,"


Jurang itu lumayan dalam, mungkin sekitaran seratus sampai dua ratusan meter, namun setelah berada didasarnya mereka berdua merasa agak kesulitan bernapas. Meskipun demikian mereka berdua tetap bersemengat untuk menyusuri jurang tersebut sampai habis. Sayangnya sampai langit telah gelap, mereka masih belum menemukan apa apa.


Cang Guang yang melihat Zou Kim biasa biasa saja, malah merasa tidak enak. Untuk mencairkan suasana, ia mengeluarkan makanan dan sedikit arak dari cincin penyimpanannya.


"Zou Muda, sebaiknya kita beristirahat dan makan dulu, di pojok sana ada sebuah gua sedalam tiga meteran yang dulu ku buat untuk tempat berteduh. Mereka akhirnya menuju sebuah gua kecil untuk beristirahat dan makan.


Menjelang tengah malam, Zou Kim duduk dan melakukan kultivasi serta menyebarkan persepsinya untuk melacak kondisi disekitarnya. Tanpa disadari oleh Cang Guang, Zou Kim bangkit dan berjalan menuju arah selatan. Kemudian ia mendekati tebing batu yang berwarna hitam mengkilat. Dengan tingkatan yang ia miliki, tangannya dengan mudah menghujam kedalam batu tersebut dan perlahan ia menarik keluar sebuah batang pohon beserta akarnya berukuran setengah meter dan berwarna perak. Pohon ita sudah tidak berdaun dan telah mati. Tetapi Zou Kim paham bbahwa justru pohon jiwa memiliki khasiat maksimal saat telah mati.

__ADS_1


"Ahhh Pohon Jiwa rupanya, pantas saja batinku terus berdetak tidak nyaman," gumam cangguang tersenyum.


Ia kembali ke gua kecil tempat Cang Guang berada, ia mendapati saudara tuanya masih dalam kultivasi yang tenang. Dia tidak ingin mengganggunya, akhirnya ia menjauh untuk memulai rencananya membuat pil. Beberapa bahan pil yang sebelumnya terdapat dalam cincin penyimpanan yang gurunya berikan langsung ia tumpahkan keluar.


Zou Kim memandang kembali pohon jiwa yang ia dapatkan, meskipun kelihatan kecil tetapi memiliki berat yang lumayan. Andai aku ditingkat galaxy aku yakin tidak akan mampu mengangkatnya. Gumam Zou Kim. Setelah semua bahan yang dibutuhkan lengkap iapun memulai proses pembuatan pil.


"Inti Api Dewa" Api Dewa Abadi,"


Buzzzzzzzzzz


Sampai kentongan kedua, Zou Kim selesai membuat Pil sebesar telapak tangan orang dewasa. Kali ini, Pil tersebut justru tingkatannya lebih tinggi dari pencapaian sebelumnya. Senyum kepuasan terkembang dibibirnya. Kemudian ia kembali membuat Pil besar tadi menjadi enam puluh butir pil kecil.


"Huhhh akhirnya pil Dewa Sastra telah mampu aku ciptakan, hanya ahli Pil tingkat ke tujuh yang mampu melakukannya," gumam Zou Kim.


Setelah hari sudah mulai terang, Zou Kim melihat Cang Guang baru saja membuka mata. Ia lalu mengajak saudara tuanya untuk keluar dari jurang tersebut. Beberapa waktu kemudian, mereka telah tiba didataran atas.


"Cang Tua ini terimalah, karena hanya ini yang mampu aku berikan," Kata Zou Kim.


"Ini..Pil apa Zou Muda," tanya Cang Guang.


"Pil ini disebut Pil Dewa Sastra. Bagi penggunanya, ia akan mendapatkan tambahan kekuatan serta kemampuan belajar dan memahami banyak hal dengan mudah,"


Cang Guang menjadi sangat terharu mendengar keterangan saudara mudanya yang begitu baik sampai memberikan perhatian lebih kepadanya. Akhirnya mereka berdua berpisah, sedangkan Zou Kim sendiri mengingat sisa waktunya tinggal tiga hari, ia mempercepat waktu untuk kembali ke Klan Zou.

__ADS_1


Dari kejauhan, benteng Klan Zou masih berdiri dengan megah, Senyum Zao Ye, masakan ibu, dan tegasnya ayah membuat Zou Kim mempercepat langkahnya untuk memasuki gerbang Klan Zou.


...#Mohon Maaf dengan banyak kekurangan dalam Novel perdana ini. Saya yakin dengan banyaknya saran kritik para reader budiman, akan membuat karya ini lebih baik lagi#🙏🙏🙏🙏🙏...


__ADS_2