
Kwi San, Bun Siow dan Huang Bian bertiga yang melihat pemuda yang mereka kenal berjuluk Whu Shi San telah keluar sebagai pemenang, merasa takjub sekaligus takluk terhadap kemampuan si pemuda. Mereka jadi merasa malu sendiri karena sebelumnya telah meremehkan kemampuan yang dimiliki pemuda tersebut.
"Kita harus menjadikan pemuda itu sebagai sahabat kita," kata Bun Siow.
"Bukankah tadi kita meremehkannya, belum lagi dibawah gunung kemarin kita malah meninggalkannya, apakah kita pantas jadi sahabat," tegur Huang Bian.
"Aku yakin dia adalah pemuda yang baik, nanti setelah Jiang Wan pulih, kita berempat mencoba untuk menemui pemuda itu" kata Kwi San.
Akhirnya Ketua Pelaksana pertandingan mengumumkan bahwa pertandingan akan dilaksanakan besok setelah waktu sarapan dan mengumumkan pula 99 nama yang lolos ke babak kedua. Hari sudah sedikit gelap, peserta dan penonton kemudian kembali ke tempatnya masing masing.
Makan malam telah selesai, Zou Kim berencana akan segera kembali kekamarnya untuk istirahat, tetapi sebelum ia beranjak, ia sudah terlihat oleh Jiang Wan berempat.
"Tuan Whu Shi Shan mohon tunggu sebentar," teriak Jiang Wan yang langsung menuju ke meja Zou Kim.
"Maafkan aku Tuan Muda, jika dibolehkan kami berempat ingin membicarakan beberapa hal dengan saudara,"
"Jangan panggil aku saudara paman, aku jadi merasa tidak pantas" jawab Zou Kim.
"Tidak, justru kami yang merasa menjadi paman sangat tidak layak," Kata Jiang Wan sungkan. Tanpa menanti jawaban Zou Kim, Jiang Wan melambaikan tangannya kepada ketiga orang teman temannya.
__ADS_1
"Salam kami kepada saudara, sekaligus kami ingin meminta maaf karena sejak awal pertemuan kami telah mengabaikan saudara. Ternyata saudara adalah naga diantara manusia" seru Kwi San yang sekaligus menjura hormat diikuti oleh Bun Siow dan Huang Bian.
"Ahhhh jangan terlalu berlebihan, mari silahkan duduk" jawab Zou Kim mempersilahkan Jiang Wan berempat.
Zou Kim melihat kondisi Jiang Wan tidak begitu prima akibat pertarungannya. Beberapa bagian tubuh telah dibalut beberapa perban, ketika ia mau duduk, terlihat ia sedikit meringis dan hal itu tidak mampu mengelabui pengamatan Zou Kim.
"Maafkan aku, jika Paman ini tidak keberatan, aku ada sedikit obat luar, mudah mudahan bisa membantu proses pnyembuhan lebih cepat." Kata Zou Kim sekaligus menyodorkan beberapa obat bubuk.
" Tolong jangan panggil aku ataupun kami ini paman, karena aku akan sangat sungkan untuk menerima pemberian saudara. Kata Jiang Wan.
"Baiklah, jika demikian harapan saudara. Lalu, boleh aku tahu apa yang ingin saudara berempat obrolkan dengan ku" .
" Aku tidak memiliki keistimewaan apapun, Sekte, Rumah, Harta dan lainnya aku tidak punya, jadi untuk apa kalian harus susah mengikuti ku, bukankah Golongan kalian bisa hidup nyaman sampai.sekarang??" tanya Zou Kim.
"Itu benar sekali Tuan Muda, tetapi kami sudah sepakat dan memutuskan untuk ikut bersama tuan muda serta kami akan mengundurkan diri secara resmi dari kelompok kami. Huang Bian menerangkan.
"Aku tidak ingin berpanjang lebar, aku butuh istirahat dan jika kalian sudah sepakat demikian, maka aku baru bisa memberikan jawaban pastinya kepada kalian berempat besok pagi" tegas Zou Kim. Akhirnya Zou Kim pamit kepada Jiang Wan berempat dan kembali ke kamarnya.
Malam itu Jiang Wan yang membalurkan luka dengan obat pemerian Zou Kim merasa semakin takluk, hanya dalam satu pembakaran Hio terasa kulit dan daging yang tadinya merekah mulai membentuk sel baru dan perlahan merapat. Ia memutuskan bercerita kepada Kwi San bertiga. Hingga, mereka semakin mantap untuk menjadi pengikut bahkan bersedia menjadi pembantu Zou Kim.
__ADS_1
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Jiang Wan, Kwi San, Bun Siow dan Huang Bian bergegas menuju halaman penginapan. Mereka sepakat untuk berangkat bersama ke arena mengiringi Zou Kim. Padahal mereka belum mengetahui sepenuhnya tentang jati diri si pemuda. Beberapa waktu kemudian seorang pemuda sederhana berjalan menuju lobi dan hendak menuju rumah makan sebelum berangkat melanjutkan pertandingan. Ia sedikit kaget melihat Huang Bian berempat sudah ada di halaman.
"Selamat Pagi Tuan Muda, ijinkanlah kami untuk berjalan bersama dengan mu," kata mereka.
" Ohh silahkan saja, tapi aku akan mampir sarapan sebentar, sekalian saja kita sarapan bersama" jawab Zou Kim.
" Baik Tuan Muda." Seru mereka serempak.
Dirumah makan, Zou Kim memperkenalkan dirinya kepada Jiang Wan berempat dan demikian pula dengan mereka. Kemudian mereka berlima sepakat untuk menggunakan panggilan saudara dan Zou Kim menjadi saudara pertama. Mereka berlima menyatakan janji setia dan bersulang sebagai bukti sakral yang mereka percayai.
Hampir sekitar 1 pembakaran hio, mereka selesai sarapan dan melanjutkan perjalanan menuju alun alun kota Raja Ow tempat berlangsungnya pertandingan. Mereka memilih barak yang nyaman dan kebetulan masih banyak cukup menampung mereka. Beberapa sorot mata merasa aneh dengan kedatangan mereka berlima. Karena pada hari pertama ada 4 orang dan sekrang menjadi 5 orang dengan bertambahnya seorang pemuda yang juga merupakan peserta. Tetapi tatapan heran dan lainnya dianggap sepi oleh Zou Kim berlima.
"Para hadirin sekalian, kami sampaikan selamat datang dan selamat bertanding kembali padak babak kedua atau babak penyisihan lanjutan. Pemenang Pada babak ini, akan mengikuti babak Penentuan peringkat yang akan kita langsungkan besok. Sekarang mari kita ikuti pertandingannya bersama sama.
Para wasit pelaksana mulai memanggil nama nama peserta yang akan bertanding pertama. Terlihat Raja Ow sudah hadir bersama jendral dan mentrinya, termasuk pula para patriak sekte dan ketua Klan Bing dan Sui juga sudah menempati baraknya masing masing.
"Ham Gi dari Gunung Halimun berhadapan dengan Yu Jin dari Sekte Pedang Matahari.
" Bing Lay perwakilan Klan Bing akan menghadapi Hou Bu dari Sekte Puncak Terang.
__ADS_1
Sampai dengan 8 arena lainnya, semua telah dipanggil dan peserta yang namanya kebetulan disebut, telah menaiki arena masing masing. Selanjutnya pertandingan babak keduapun secara resmi telah dimulai.