LEGENDA BARU SANG PENGUASA SEMESTA

LEGENDA BARU SANG PENGUASA SEMESTA
Chap 2. hukuman untuk fang sin


__ADS_3

"Kamu tahu, apa hukuman yang pantas bagi sampah tak tau diri seperi mu?" tanya Fang liu dgn senyum sinisnya.


"Se sekali lagi maafkan aku patriak, aku rela bekerja disini sampai hutangku lunas" ucap fang sin sambil terisak dan dari sudut bibir terus mengeluarkan darah.


"Ha ha ha ha haaaaa...." tawa Fang liu meremehkan, krn bocah 7 tahunan memcoba bernegoisasi dengannya.


" Fang sin, Kali ini kamu melakukan kesalahan yang tidak bisa ditolelir lagi, dan kamu pasti akan menerima ganjaran yang setimpal dari kesalahan yang kamu lakukan, DASAR SAMPAH MENJIJIKAN" Cibir Fang liu.


"Penjaga,, bawa si sampah ini ke ladang rumput,,,!!!"


"Siap patriak" jawab kedua penjaga dengan penuh semangat. Karena memang di klan Fang, tidak ada seorangpun yang menyukai Fang sin.


Semua tetua dan anggota termasuk paman keduanya juga tidak mau membantu fang sin dari hukuman yang bakal diberikan oleh patriak Fang liu.


Ditengah perjalanan menuju ladang rumput, rombongan patriak yang sedang menyeret paksa Fang sin, bertemu dengan tuan muda Fang, yaitu Fang xian.


"Salam ayah dan para tetua,,, Ayah, ada apa ini?


Dan kenapa si sampah ini diseret seperti itu..?" tanya fang xian penasaran dengan apa yang terjadi.


"Nanti ayah jelaskan Xian'er..!!" jawab Fang liu sambil mengikuti Fang sin yang kedua tangannya sedang dikekang sambil diseret.


Fang liu pun menjelaskan semua kejadian dan kelakuan Fang sin kepada anaknya secara ringkas.


Fang xian yang sudah mendengar penjelasan ayahnya menjadi geram dengan kelakuan Sin.


Kemudian Fang xian berlari kedepan untuk menyusul kedua penjaga yang membawa Fang sin, tanpa banyak bicara Fang xian memukul Fang sin dengan mengeluarkan 50 persen kekuatannya yang berada di ranah pembentukan jiwa tingkat 2 di umurnya 10 tahun.


Fang xian memukul rahang kiri - kanannya dan juga menendang perut Fang sin. Alhasil Fang sin mengeluarkan darah lebih banyak lagi dari sudut mulutnya. Terlebih, sebelumnya ia juga sudah terluka cukup parah.


BUUK, BUUK, BUUK....


Fang xian dengan bringas terus memukul, menendang Fang sin


"Khuuuuukhh,,," Fang sin pun terus mengeluarkan darah dari mulutnya. Bahkan mata, pipi dan hampir semua wajanya biru lebam,


"Ma maafkan aku sepupu, karena keteledoran ku, paman Fang liu mengalami kerugian besar," ucap Fang sin jujur sambil meringis kesakitan.


"Siapa yang bilang aku ini sepupu mu BANGS*TTTTT...???" bentak Fang xian sambil memukul leher Fang sin


BUUUUKK


"Ghuuuuukhh...."


Fang sin mengeluarkan seteguk darah lagi, seandainya dia tidak dipegang erat oleh kedua penjaga, mungkin Fang sin sudah melayang cukup jauh karena dipukul dan ditendang Fang xian dengan keras dan bringas.


sesampainya di ladang yang penuh rumput nan hijau.


"Fang sin,,,,,!! mulai saat ini, nama depan FANG mu aku cabut, jadi mulai saat ini kamu bukan lagi bagian dari klan Fang." ujar patriak Fang liu dengan penuh penekanan dan kebencian.


Sebenernya kesalahan Fang sin masih bisa di maafkan, karena kesalahan yang dilakukan Fang sin tidak merugikan klan secara umum.


Kesalahan Fang sin hanya merugikan patriak Fang liu secara pribadi, itupun masih bisa diganti rugi dengan cara bekerja tanpa imbalaan, sampai kerugian yang dianggap hutang itu lunas.


Tapi memang sejak kematian ayahnya yaitu Fang lin, kedua pamannya dan hampir semua anggota klan Fang tidak ada satupun yang menyukai, apalagi sampai menyayangi Fang sin.


Jika dibanding klan lain, Klan fang ini sudah terkenal kecil dan miskin. Dan sekarang makin terkenal lagi di wilayah kerajaan xuan, akibat Fang sin yang tidak bisa berkultivasi, bahkan hanya untuk memasuki ranah pembentukan tubuh tingkat 1.


"Sin, hukuman mu akan dimulai saat ini juga" ucap patriak sambil melirik Sin yang sedang tertunduk dan terlihat jelas Sin sedang menahan rasa sakit.


"Sin, Hidup dan mati mu tergantung kekuatan dan keahlian, terutama KEBERUNTUNGANMU. Apa kamu melihat perbatasan antara hutan larangan terluar dengan ladang milik klan Fang?" tanya Fang liu.


Sin tidak menjawab dan hanya mengangguk.

__ADS_1


"Bagus, Kalau kamu bisa melewati ladang rumput dan memasuki hutan larangan terluar, maka itulah kehidupanmu,,, Tapi jika kamu tidak bisa keluar dari ladang rumput klan Fang ini, maka itulah akhir dari hidupmu, hehehe,,,,," ujar patriak Fang liu dengan seringai giginya yang kuning..


"Kenapa kamu diam saja, apa kamu mengerti SAMPAH tak berguna...??" ejek Fang xian dengan penuh kebencian.


Sekali lagi Sin tidak menjawab dan hanya mengangguk.


"Semuanya... keluarkan senjata kalian masing - masing,,,!!!!" perintah patriak.


mendengar itu, para tetua dan semua anggota klannya yang berjumlah 249 orang itu, dengan cepat memegang senjata masing-masing.


"SIN,,,, larilah dan ikuti jejak kambing-kambingku yang sudah kamu terlantarkan,,,,,!!! Seru Fang liu.


Tidak banyak pikir lagi, Sin mulai berlari dengan cepat walau hampir seluruh tubuhnya terasa sakit akibat pukulan dan tendangan Fang xian.


Jarak dari patriak Fang berdiri dengan perbatasan hutan larangan bagian terluar ± 5km.


Sin berlari dengan cepat, dia berlari secara zig zag ke kiri dan ke kanan, karena dia tahu senjata yang dipegang oleh anggota klan Fang akan diarahkan kepadanya.


1km pertama patriak membiarkan sin berlari tanpa hambatan, tapi memasuki 2km berikutnya patriak Fang memerintahkan anggota klannya untuk melemparkan senjata masing-masing.


Hampir semua jenis senjata mereka pegang, tergantung keahlian masing-masing anggota klan, baik itu pedang, belati, tombak terutama senjata panah yang paling efektif dalam serangan jarak jauh.


Patriak Fang liu yakin, jika Sin tidak akan bisa selamat dari serangan senjata yang diarahkan kepadanya. karena sin terkenal lemah dan tidak bisa berkultivasi, terlebih lagi dia sedang terluka cukup parah.


Dua puluh lemparan tombak yang dilakukan anggota klan mengarah kepada sin, lemparan senjata pertama, sin masih bisa mengelak dan selamat.


Walaupun jaraknya cukup dekat untuk ukuran kultivator, tapi dengan siasat Sin, yang sesekali melihat berbagai senjata yang sedang mengarah kepadanya, dia bisa menghindarinya.


Dengan sekuat tenaga, Sin lari kesana kemari, karena dalam 2 bulan terakhir ladang rumput ini adalah tempat latihan fisiknya.


Memasuki 3km, lebih dari 100 anak panah dilepaskan anggota klan Fang.


SHUUUUTTT..


SHUUUUTTT..


SHUUUUTTT..


Tapi na'as salasatu anak panah menembus bahu kiri sin.


SHUUUTTT...


CLEEEBBBB


"AAAAAAAAKH..."


Sin berteriak karena rasa sakit yang dirasakan kini bertambah parah, tapi dia tidak punya waktu untuk diam dan merasakan sakit. Karena jarak dan waktu seolah berlomba dengan hidup dan matinya.


Memasuki 4km, sudah lebih dari sepuluh kali anggota klan yang memegang busur dan melepaskan anak panahnya.


Begitupun dengan senjata lainnya yang dipegang masing-masing anggota klan.


Memasuki 5km terakhir, patriak Fang liu merasa khawatir karena Sin masih bisa berlari walau sedikit melambat.


Akhirnya dia sendiri mengeluarkan busur dan mengarahkannya kepada sin, dengan perhitungan yang matang anak panah melesat dengan cepat dan akurat.


SHUUUUUTTTTT,,,,


CLEEEBBBBBB


anak panah tepat bersarang di paha kanan Sin.


"AAAKKKKHHHHHHH..."

__ADS_1


Sin berteriak keras sambil terguling beberapa kali, darah mengalir dari paha dan bahunya.


Dengan sekuat tenaga Sin mencoba berdiri, dia mulai berlari kecil sambil sempoyongan.


Kini jarak antara ladang rumput dan hutan larangan bagian terluar tinggal 20 meter lagi, melihat Sin masih bisa berdiri dan berlari walau pelan. Fang liu mengarahkan lagi busurnya, kali ini dia mengeluarkan kotak hitam dari cincin penyimpanannya, kotak hitam itu berisi racun kalajengking merah. Kemudian Racun itu dioleskan ke anak panah miliknya.


Anak panah ditarik lagi dari tali busurnya, setelah target terkunci.


SHUUUUUTTTTTT,,,,,,


Anak panah melesat dan mengarah tepat ke jantung Sin.


Sin yang sempat melihat anak panah milik Fang liu itu, dengan cepat menyilangkan lengan kiri tepat didepan dadanya, dia mencoba menahan anak panah dengan lengannya itu.


CLEEEBBBB,,,


PLUUKK.


Sin berteriak keras karena lengan kirinya jatuh terpotong.


"AAAAAAAAAKHHHHHHH,,,," Sin berteriak keras menahan rasa sakit.


"Bangs4at kalian semua, dan ingatlah JIKA SAATNYA TIBA, PERLAKUAN KALIAN INI AKAN KU BALAS 1000 KALI LIPATNYA." Teriak Sin yang sudah terkapar, dia bahkan sudah tidak bisa berdiri dan sangat kelelahan, karena darah terus mengalir dari bahu, paha dan lengannya.


Sin menangis...


"Ayah, Ibu.. Apa ini akhir kehidupanku..? Tapi aku bersyukur karena tidak lama lagi kita akan berkumpul kembali.." Sin bergumam dalam hatinya, mengingat ayahnya, dan rindu akan sosok ibu yang belum pernah dilihatnya.


"HAHAHAHAHAHA,,,," Tawa semua anggota klan, yang melihat Sin yang sudah terkapar dan tidak bergerak sedikitpun.


"Akhirnya si sampah itu mati juga, dan kini nama baik klan kita sedikit demi sedikit pasti akan pulih." ucap salasatu tetua.


"Benar tetua Zen, mulai saat ini klan kita akan mulai bangkit...!!" sahut Fang liu


"HAHAHAHAHA,,,," mereka semua kembali tertawa.


"Walaupun si sampah itu bisa keluar dari ladang kita, aku yakin racun kalajengking merah akan menjalar ke seluruh tubuhnya, dan akhirnya mati konyol.


Ha ha ha......" tawa senang patriak fang.


"Ayah benar, si sampah itu pasti mati walau bisa keluar dr ladang kita. Dari dulu aku selalu ingin menghabisinya, dan sekarang akhirnya terlaksana juga, biarkan si sampah itu mati secara perlahan akibat kesakitan dan keracunan. Hahahaha...." timpal Fang xian dengan penuh tawa kepuasan.


Beberapa saat kemudian, langit yang tadinya sangat cerah, tiba - tiba awan hitam berkumpul disekitaran area klan Fang.


Melihat itu,,,,! patriak, tetua dan semua anggota klan mengira akan turun hujan lebat.


Saat melihat ke arah Sin yang sudah tidak bergerak, hampir semua orang beranggapan bahwa Sin sudah mati.


Dan saat patriak akan menyuruh salasatu anggotanya untuk memastikan kematian Sin, tak lama kemudian petir saling bersahutan menyambar di sekitar ladang itu.


JEDEEEERRRRR


JEDEEEERRRRR


JEDEEERRRRRR


Beberapa kali petir menyambar ditengah padang rumput, melihat petir itu, patriak dan semua anggotanya kaget dan takut.


"Ayo kembali, biarkan si sampah itu mati dengan cepat tersambar petir,,!!" seru patriak sangat puas.


Yang lain hanya mengangguk merespon perkataan patriak.


Akhirnya mereka semua meninggalkan sin diladang rumput, karena mereka yakin, sin pasti akan mati cepat atau lambat.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


See you babayyy, jangan lupa terus dukung...!!!


__ADS_2