
Dibenua barat, keesokan harinya..
Saat ini Sin sedang mengantri untuk membeli tiket masuk, dia ingin nonton acara final turnamen muda berbakat, di ibu kota kekaisaran Feng.
"Minggir,, minggirrr....!!!" teriak seorang dari arah belakang, menerobos antrian yang cukup panjang.
Karena tidak mau ambil pusing, Sin pun ikut minggir.
"paman mengantrilah,,,,!! karena aku juga mengantri dari tadi.." seru anak kecil di depan Sin yang tidak terima antriannya diserobot begitu saja
"Heh bocah, coba katakan sekali lagi,,,!!!"
"Tu tuan muda Wong, silahkan maju kedepan dan maafkan anakku, dia belum tahu apa-apa..." ucap seorang lelaki yang merupakan ayah dari anak kecil itu.
"Bagus kalau kau tahu diri,,," sahut Wong fei sung
"Huhhh, dasar tak punya otak.." ejek anak kecil berusia 10 tahunan itu.
Seketika Wong fei sung berhenti, dia langsung mencabut pedangnya dan mengangkat pedang itu, karena merasa harga dirinya telah di injak oleh seorang bocah bau kencur.
Sontak sang ayah langsung berdiri didepan anaknya itu.
"Maafkan anakku tuan muda Wong,,,,!!" ucap sang ayah melindungi anaknya.
"Bacottt..." teriak Wong fei sung sambil melayangkan pedangnya mengarah kepada leher sang ayah dari anak kecil itu.
SLASH
PLUKK
Kepala Wong fei sung terlepas dari lehernya dan jatuh menggelutuk tepat disamping kaki Sin berdiri.
"BERISIKKK,," ucap Sin sambil menginjak kepala itu sampai hancur.
KRAAAKKKK
CRASSSHHH
Terdengar suara renyah dari hancurnya kepala Wong fei sung
Sin memang sengaja melakukannya didepan umum, agar anak dan ayah itu tidak menjadi sasaran klan Wong dikemudian hari.
Kejadian itu pun menyita perhatian semua orang.
Seorang prajurit yang sedang berdiri bersama wanita penjaga loket, langsung pergi untuk melaporkan kejadian ini.
"SADISSS....!!" ucap seorang yang sedang mengantri
"Di tribun nanti, Kalian menjauhlah dari pemuda itu, karena ini akan berbuntut panjang," timpal yang lainnya
"Benar, apalagi kakanya Wong fei sung adalah salah satu finalis turnamen muda berbakat..." balas yang lainnya.
"Kita lihat saja nanti, pasti akan terjadi keributan di arena turnamen. Karena selain klan Wong ada sekte Tombak langit yang melatar belakangi klan Wong..."
.
.
Tidak lama kemudian, kini giliran Sin yang berdiri didepan wanita penjaga loket.
"Tribun VIP, a,,,atau bi,,biasa..?" tanya wanita penjaga loket gemetaran, karena kejadian itu terlihat jelas olehnya.
Walau dia sendiri tidak melihat, kalau Sin yang telah membunuh tuan muda Wong secara langsung, tapi ucapan dan injakan kaki Sin, sudah cukup membuktikan kalau Sin adalah pelakunya.
"Tribun VIP.." balas Sin cuek
"100 koin platinum tuan..!" seru wanita penjaga loket, yang sudah keluar keringat dingin.
Kemudian Sin membayar 100 koin platinum dan langsung masuk ke tribun VIP.
.
.
"Apa kau tahu pria itu berasal dari klan atau sekte mana..?" tanya seseorang, ketika Sin sudah masuk kedalam tribun.
Tapi yang ditanya pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah itu bukan urusan kita,," balas yang lainnya.
.
.
***
Di tribun...
Semua tempat duduk kini sudah dipenuhi oleh para penonton.
Dan tidak lama kemudian, kaisar Feng datang dan memasuki tribun VVIP.
"Salam yang mulia kaisar,,," ucap para patriak, baik patriak sekte ataupun patriak klan, yang sudah ada diruang VVIP dari awal.
"Salam juga para patriak.." balas Feng lau
.
Tidak lama kemudian,,,,
seseorang berjalan ketengah arena pertarungan,.
"Para hadirin, sebelum babak semi final dimulai, secara pribadi dan atas nama para penonton, kami ucapkan selamat datang kepada yang mulia kaisar Feng, dan terimalah hormat dari kami semua." ujar pembawa acara sambil membungkukan setengah badannya begitupun dengan seluruh penonton, kecuali Sin.
Karena dari awal babak penyisihan, baru hari ini kaisar Feng menghadiri turnamen muda berbakat.
"Hmmmmmm..." angguk kaisar Feng sambil melambaikan tangannya.
Tiba-tiba masuk seseorang ke tribun VVIP, dan membisikan sesuatu kepada patriak klan Wong, yaitu Wong fei ing.
"APAA.....!!???" teriak Wong fei ing tidak percaya, dan teriakan itu mengejutkan semua patriak termasuk kaisar Feng lau.
"Ada apa saudara Wong,,?" tanya kaisar Feng, penasaran
Wong fei ing pun menjelaskan situasinya kepada kaisar Feng lau.
Setelah mendengar informasi dari Wong fei ing, kaisar dan semua patriak pun terkejut.
Karena ada orang yang sangat berani membunuh di area turnamen , disaat acara besar seperti ini,
Terlebih lagi, yang dibunuh adalah Wong fei sung, tuan muda dari salah satu klan besar di ibu kota Feng.
"Siapa yang sudah berani membunuh adik dari murid kesayanganku..?" tanya King su ann marah. (patriak sekte tombak langit)
__ADS_1
"Yang mulia kaisar, saya mohon pertandingan ini ditunda dulu, sebelum pelaku pembunuh anakku dihukum saat ini juga...!" ujar Wong fei ing
"Saya setuju yang mulia, kalau sampai Wong fei hung mendengar berita pembunuhan adiknya, maka akan mengganggu konsentrasi pertarungan dari muridku itu..." timpal patriak King su ann.
"Baiklah, sebaiknya saudara Wong urus dulu jasad anakmu itu,,," balas kaisar Feng lau.
Dengan cepat Wong fei ing melesat pergi, sekaligus memberitahu anak kebanggaanya, yang merupakan kakak dari Wong fei sung, yaitu Wong fei hung.
Kemudian kaisar Feng dan semua patriak yang berada di ruang VVIP pun keluar, menuju arena turnamen.
.
.
***
Di arena turnamen..
"Para hadirin, Kita lanjutkan dengan acara yang sudah ditunggu-tunggu, yaitu pertarungan semi Final antara Wong fei hung melawan..."
"Tunggu....!!!" seru kaisar Feng, tiba- tiba keluar dari koridor tribun.
"Belum beres menyelesaikan kalimatnya, pembawa acara itupun terdiam, karena mendengar seruan kaisar Feng yang datang bersama seluruh patriak Sekte dan patriak Klan.
Pembawa acara itu pun membungkukan badannya,
"Mohon maaf yang mulia kaisar, apa ada sesuatu yang ingin anda sampaikan...!!?" tanya pembawa acara.
"Hmmmm,,," angguk kaisar Feng.
"Mohon maaf rakyatku, semi final turnamen muda berbakat, kita tunda dulu sebentar. Karena ada sesuatu hal yang harus diselesaikan sekarang juga...!" ucap Kaisar Feng lau.
Para penonton pun bergemuruh, tapi sebagian penonton yang tau kejadian pembunuhan Wong fei sung, sudah bisa menebak. Kalau yang maksud kaisar Feng, pasti menyelesaikan masalah pembunuhan tuan muda Wong.
"Patriak King su ann, tolong jaga Wong fei ing dan anaknya Wong fei hung termasuk seluruh anggota klan Wong, agar bisa menahan emosinya...!!" bisik kaisar Feng pada patriak King su ann.
"Baik yang mulia,,," balas King su ann, walaupun dia sendiri termasuk orang yang tidak bisa menahan amarahnya saat ini.
"Prajurit, tunjukan yang mana orangnya,,,!!?" seru kaisar Feng
Prajurit itupun menunjuk dimana Sin berada, yaitu seorang pemuda tampan dengan memakai baju warna hitam legam bergaris kuning emas.
"Jendral Tsu, bawa pemuda itu kesini...!" seru kaisar Feng kepada jendralnya
"Baik yang mulia..."
Jendral Tsu pun berjalan kearah dimana Sin berada.
"Anak muda, apa kau tau kenapa yang mulia kaisar menghentikan sementara turnamen ini..?" tanya sang jendral
"Aku tahu..." balas Sin santai.
"Kalau begitu, kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu. Dan bekerja samalah, siapa tahu hukuman mu bisa sedikit ringan, walau itu sangat mustahil..!!!" ucap sang jendral.
"Hmmmmm,,," angguk Sin tidak banyak bicara.
Sin pun mengikuti jendral Tsu dari belakangnya, mereka berdua berjalan kearah dimana kaisar Feng berada.
Sementara patriak Wong fei ing dan Wong fei hung, menyuruh 2 anggota klannya untuk membawa jasad anaknya, yang kepalanya sudah terpisah dan tidak terbentuk, ke kediaman klannya.
Setelah itu, dia dan anaknya langsung melesat dimana kaisar Feng berada.
.
.
Sin tidak menjawab, lalu mengeluarkan plakat kecil berwarna emas pemberian dari kaisar Jiang min, sang penguasa benua utara.
Sin mengeluarkan plakat itu, karena dia tidak ingin kaisar Feng ikut campur dalam masalah pribadinya.
Karena menurut raja Hong zi dan keenam orang yang dia temui di restoran.
Kaisar Feng adalah kaisar yang cukup baik di mata rakyatnya.
Tapi kalau kaisar Feng, sampai ikut campur dan membela klan Wong, maka dengan senang hati, Sin akan meladeninya.
"I ini...!!??" kejut kaisar Feng, saat melihat plakat emas milik Sin. Itu artinya, Sin termasuk keluaraga utama dari kekaisaran Jiang.
Walau begitu, kaisar Feng tetap harus memastikan permasalahannya terlebih dahulu.
"Nak Sin, apa benar kau yang sudah membunuh pemuda yang bernama Wong fei sung ditempat pembelian tiket..?" tanya kaisar Feng.
Setelah melihat plakat emas milik Sin, kaisar Feng jadi sangat berhati-hati.
"Benar..." balas Sin singkat
"Yang mulia, saya mohon serahkan anak sampah itu langsung kepadaku...!!" pinta Wong fei ing yang berjalan kearah kaisar Feng.
"B4ngsatt Kau berani membunuh adik kesayanganku...!" teriak Wong fei hung. Dia sangat marah setelah melihat kondisi jasad adiknya.
"DIAM KALIAN BERDUA...!!!" ucap kaisar Feng marah,
Ayah dan anak itupun seketika menundukan kepalanya, karena dibentak kaisar Feng.
Kaisar Feng berpikir, kalau sampai terjadi apa-apa sama anak muda didepannya ini, bukan hanya klan Wong yang kena resikonya tapi seluruh Benua barat akan terkena imbasnya.
Kalau pun Sin harus dihukum, maka kaisar Feng harus melakukan diflomasi terlebih dahulu dengan penguasa Benua utara, yaitu kaisar Jiang min.
Kecuali kaisar Feng sudah siap berperang melawan Benua utara, maka hukuman itu bisa dilakukan sekarang juga.
"Nak Sin, kenapa kau sampai membunuh Wong fei sung...?" tanya kaisar Feng masih menjaga ritme nya.
Sin pun menjelaskan apa adanya kepada kaisar Feng lau.
.
.
Setelah kaisar Feng mendengar penjelasan dari Sin, dia pun menganggukan kepalanya.
"Satu lagi pertanyaan dariku.. Apa ada saksi yang melihatnya..?"
"Banyak sekali, Yang mulia tinggal panggil saja prajurit dan wanita yang bertugas menjaga loket...!!" balas Sin dengan tenang.
Kemudian kaisar Feng memanggil kedua orang yang disebut oleh Sin. Dan mengintrogasi keduanya, didepan patriak Wong fei ing, Wong Fei hung dan patriak King su ann.
Setelah mendengar penjelasan dari prajurit dan wanita penjaga loket, ternyata jawabannya sama dengan apa di ucapkan oleh Sin.
kaisar Feng pun, kembali dimana Sin berdiri.
"Nak Sin,,,,, aku pastikan kau akan baik-baik saja, selama berada diwilayah kekuasaanku..." ucap Feng lau, sesudah mengetahui kebenarannya.
"Kalau begitu Terima kasih atas kebijaksanaan yang mulia.." balas Sin.
__ADS_1
"Patriak Wong, sebaiknya masalah ini tidak diperpanjang...!! Karena kau, anakmu juga patriak King su ann, sudah mendengar penjelasan dari kedua bawahanku....
Bahwa anakmu sendirilah, yang pertama kali membuat masalah.." ujar kaisar Feng,
"Ta tapi yang mulia, ini tidak adil.." sahut patriak sekte tombak langit, King su ann
"Saudara King su, aku minta kau jangan memanas- manasi masalah ini...!!" seru kaisar Feng.
"Hey bajingan,,, Apa kau berani bertarung denganku sampai mati di arena ini..?" tantang Wong fei hung kepada Sin.
"WONG FEI HUNG..!!" teriak kaisar Feng marah.
"Yang mulia, apa boleh saya menyelesaikan masalah ku dengan orang- orang ini secara pribadi..?" tanya Sin sambil menunjuk patriak King, patriak Wong dan anaknya, Wong fei hung.
"Tapi nak Sin, masalahnya, tidak akan sesederhana itu, jika terjadi sesuatu kepadamu.." balas kaisar Feng.
Sin kemudian mengeluarkan kertas, dan menuliskan sesuatu diatasnya.
Setelah selesai menulis, Sin memberikannya kepada kaisar Feng.
"Kalau terjadi sesuatu kepadaku, yang mulia kaisar, hanya tinggal memberikannya kepada kekaisaran Jiang di Benua utara. Saya jamin 100%, kekaisaran Jiang tidak akan melakukan apapun, apalagi sampai menyerang kekaisaran ini." ujar Sin panjang lebar.
Kemudian kaisar Feng pun menerima kertas itu dan membacanya.
"Apa nak Sin sangat yakin..?" tanya kaisar Feng setelah membaca surat itu
"Hmmmm,,," angguknya.
"Huuuhhhh,,," kaisar Feng hanya bisa menghela nafas panjang.
"Yang mulia, sebaiknya kita cegah mereka, agar tidak melakukan perjanjian pertarungan sampai mati..!" sahut panglima jendral.
"Tidak bisa, karena yang menantang dan yang ditantang sama-sama menerima apapun resikonya. Kalau dicegah itu justru sebuah penghinaan bagi kultivator sejati. kecuali salah satunya menolak, kita baru bisa bertindak. Kau tenang saja, aku yakin kaisar Jiang mengerti tentang perjanjian seperti ini..." balas kaisar Feng, yang sudah pasrah atas kematian Sin.
Kemudian kaisar Feng dan patriak lainnya kembali ke tribun VVIP, melalui koridor tribun.
Sedangkan patriak Wong fei ing dan patriak King su ann, diam dipinggir arena. Karena mereka berdua yakin, Wong fei hung dapat mengalahkan pemuda biasa seperti Sin ini.
"Hai sampah,, sekarang kau tak bisa mundur lagi, bahkan jika kau menyerah, kau akan tetap ku cincang menjadi 100 bagian. Sekarang majulah akan kuberi waktu, untuk kau menyerangku, dengan 3 jurusmu...."
"Baik,,," balas Sin singkat
"Suriken.."
SEUNGGGG
SLASH
SLASH
SLASH
SLASH
...
...
...
Kurang dari satu menit, Suriken milik Sin mengiris tubuh Wong fei hung menjadi 100 bagian. Setelah mengiris tubuh Wong fei hung, suriken itu melesat jauh keatas langit.
"ANAKKUUUUUU.....!!!" teriak Wong fei ing tidak percaya anak kebanggannya mati dengan sadis dan dalam sekejap.
"B4jing4aaaaannnn, MATI KAU,,!! semburan naga api.." teriak Wong fei ing langsung menggunakan jurus terbaiknya
SEUNGGGGG
Suriken yang masih berada diatas langit melesat kebawah dan mengarah tepat ke tengah kepala patriak Wong fei ing.
SLASSSHHH
Tubuh Wong fei ing pun terbelah dari atas kepala sampai s3l4ngk4ng4nnya.
Anak dan ayah itu mati kurang dari 2 menit.
.
.
"Yang mulia kaisar, mohon maaf sebelumnya, kalau boleh tahu, memangnya siapa pemuda itu..?" tanya patriak lainnya, yang masih berjalan beriringan bersama kaisar Feng menuju ruang VVIP.
"Asal patriak semua tahu, pemuda itu adalah keluarga utama dari kekaisaran Jiang,,"
"Pantas saja pemuda itu sangat berani,,," balas nya.
"Tapi anehnya, kenapa aku tidak bisa merasakan aura kultivasinya..??" tanya patriak Gu
"Benar itu saudara gu, saya juga tidak merasakannya.." sahut patriak lainnya.
Sesampainya kaisar Feng dan yang lainnya di tribun VVIP, bahkan kaisar belum sempat duduk.
DEEEGGGGGHHHH..
Kaisar dan yang lainnya dibuat terkejut saat melihat kearah arena turnamen. Karena melihat irisan tubuh Wong fei hung, dan tubuh patriak Wong terbelah dua dengan sangat rapi.
"Ba bagaimana mungkin,,,??" kejut kaisar Feng, belum juga 5 menit, 2 orang sudah tewas dengan cara yang paling sadis, yang pernah dia lihat.
GLEKKKK
Semua patriak sampai menelan air liurnya, saat melihat situasi diatas arena.
.
.
Di dalam arena...
"Apa kau juga ingin melawanku pak tua bangka...?" tanya Sin kepada patriak King su ann
"Jangan sombong kau bocah,,,!!Tetua, turunlah ke arena pertarungan...!!!" seru King su ann, berniat mengepung Sin secara bersamaan.
Para tetua pun langsung turun ke arena pertarungan, baik tetua dari sekte tombak langit, maupun tetua dari klan Wong yang berada di tribun penonton.
Begitupun dengan ratusan murid sekte Tombak langit dan puluhan anggota klan Wong yang hadir, mereka semua ikut turun ke arena pertarungan.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG