
Siang ini Andre mengajak Ken dan Rava bertemu di cafe dekat kantornya. Rava yang kebetulan tidak ada jadwal meeting langsung menyetujuinya begitu juga dengan Ken. Sesampainya di cafe, Ken dan Rava masuk dan mencari keberadaan Andre. Andre yang melihat kedatangan Ken langsung melambaikan tangannya.
Seorang pelayan cafe langsung menghampiri mereka menawarkan buku menu.
"Nasi goreng ayam 1, sama orange jus ." Ucap Andre pada pelayan. Yang langsung dicatat oleh pelayan tersebut.
"Kamu mau pesen apa Va?" Tanya Ken.
"Aku ngikut aja." Jawabnya singkat.
"Mbak, nasi goreng seafood 2, orange jus 2 ya." Pinta Ken. Pelayang itu pun pergi sambil membawa buku menunya.
"Kata bunda, minggu depan kalian tunangan ya?" Tanya Andre memulai pembicaraan. Ken hanya mengangguk.
"Kalian udah kenal berapa lama?" Tanya Andre.
"10 tahun" jawab Rava percaya diri.
"Udah sampek mana hubungan kalian?" Selidik Andre.
"Maksudnya?" Tanya Rava memastikan pertanyaan Andre. Ken hanya memperhatikan dua lelaki tersebut. 'Anggap aja ini pembicaraan kakak sama calon adik iparnya.' Gumam Ken.
Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka lalu meletakkan hidangan di depan mereka.
"Maksudku hubungan kalian udah sejauh apa?" Jelas Andre. "Kami pernah tukar baju, bahkan tidur bareng." Ucap Andre dengan santainya. Mata Rava langsung menatap Andre dengan antusias.
Mendengar ucapan Andre, Ken yang sedang minum langsung tersedak lalu memukul belakang kepala Andre dengan tangan Kirinya karena Andre duduk di sebelah kiri Ken.
"Apaan sih, gak jelas banget? Jangan ngada ngada deh An." Elak Ken. Rava langsung menatap Ken dengan penuh selidik. 'Wanita seperti apa sebenarnya dia? Kenapa ini lolos dari pengawasanku?' Tanyanya dalam hati.
"Yuk makan yuk. Duhhh.... laper banget akuu..." ajak Ken mencairkan suasana.
Mereka langsung memakan pesanan mereka dengan lahap, tapi tidak dengan Reva yang kelihatannya tidak selera. Rava diam-diam masih memikirkan perkataan Andre. Setelah selesai, Andre pamit meninggalkan mereka untuk kembali ke kantor.
***
__ADS_1
Ken dan Rava saling diam, Rava serius mengemudi dan Ken membuang pandangannya ke luar mobil.
"Apa kamu gak mau jelasin kata-kata Andre?" Tanya Rava tiba-tiba.
"Kata-kata?" Ken berfikir sejenak. "Owwwwwh... itu cuman masa lalu Va. Jadi waktu kami SD mungkin sekitar kelas 2. An itu gak pernah di jemput papanya, dia selalu pulang bareng aku. Nah... karena gak dijemput, jadi An ngambek gak mau pulang kerumahnya. Ya udah deh dia dirumahku, pinjem bajuku, kami main main bareng. Yahh... karena kecapean maen jadi ketiduran deh." Jelas Ken.
'Bahkan Ken manggil Andre dengan sebutan "An", tapi gak papa Ken juga manggil aku "Va" jadi 1:1' gumam Rava.
"Jadi kalian akrab banget waktu kecil?" Tanya Rava dengan penuh selidik.
"Ya gitu deh... sampek akhirnya aku pindah ke bandung, jadi kami jarang komunikasi." Jawab Ken.
'Oke, mungkin Andre punya masa kecil Ken, tapi aku punya masa depan Ken. Ya.. aku yang nemenin Ken 10 tahun ini, jadi 2:2.' Gumam Rava lagi.
"Kamu kok manggil mamanya Andre bunda, kalian deket banget ya?" Selidik Rava.
"Yah... setelah mama meninggal, bunda adalah salah satu orang yang selalu nyemangatin aku, bunda bilang kalo aku boleh nganggep bunda kayak mama aku sendiri." Jelas Ken dengan agak sedih.
'Sial 3:2' gumam Rava.
"Ati-ati dong Va." Ucap Ken. Suara klakson dari belakang mereka pun berbunyi nyaring seakan sedang memaki.
"Maaf, maaf .. kamu gak papa kan?" Tanya Rava sambil melajukan mobilnya kembali.
"Iya gak papa." Jawab Ken.
'Untung papa lebih cepat dari pada mamanya Andre, berarti 3:3 .'
***
Mobil Rava terus melaju, mereka mendekati gerbang yang tinggi dan megah. Rava menurunkan kaca mobilnya, seketika pintu gerbang terbuka. Mereka terus melaju memasuki halaman yang sangat luas, lalu berhenti di depan rumah yang megahnya seperti istana.
"Rumah siapa ni, gedek banget." Tanya Ken yang takjub dengan kemegahan rumah tersebut.
"Rumah Nenekku." Jawab Rava.
__ADS_1
"Owwwhhh... HAH..... Nenek? Kamu kok gak bilang mau nemuin nenek kamu?" Ucap Ken kaget dan sedikit panik.
"Nanti kalo aku bilang, kamu nolak." Jawab Rava.
"Kalo kamu bilang kan aku bisa dandan lebih sopan Va..., liat ni masak aku pake kaos sama jeans, kan kurang sopan." Ucap Ken kesal.
"Iya... maaf... yaudah yuk masuk." Ajak Rava sambil menggandeng tangan Ken. 'Semoga dengan ini skorku bisa naik.' batin Raka.
***
"Rava.... Kamu datang nak?" Sapa Nenek yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Iya nek" jawab Rava sambil memeluk neneknya. "Kenalin nek, ini Ken." Ucap Rava. Ken langsung menyalami nenek Rava.
"Jadi ini cucu mantu nenek. Kamu cantik nak. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu terlihat familiar." Ucap nenek. Ken hanya tersenyum mendengar pujian nenek Rava. 'Ah jantungku tenanglah, kenapa kau masih saja tidak bisa di atur.' gumamnya dalam hati. Rava mengajak Ken untuk duduk.
Seorang wanita datang menghampiri mereka yang sedang asik ngobrol. Dia tidak terlihat muda tapi tidak terlalu tua, mungkin usianya sekitar 35 tahun.
"Wah.. Ada tamu ya, siapa ini Rav? Kamu gak membawa wanita dari pinggir jalan kan?" tanya wanita itu dengan senyum yang di perlebar, lalu duduk disebelah nenek.
"Jaga ucapanmu Hera." ucap nenek.
"Dia calon istri ku tan." jawab Rava tegas.
"Owhhh... calon Is...triiii...semoga kalian jodoh ya..." ucap tante Hera sambil memberikan senyum mengejek dan mengulurkan tangannya.
"Salam kenal tante, saya Ken. Maaf kulit saya sensitif." ucap Ken dengan senyum manis yang dipaksakan lalu menangkupkan tangannya. Melihat perlakuan Ken, tante hera tersenyum getir lalu menarik rangannya. Sementara Rava menahan tawanya. Rava sangat paham dengan sifat Ken yang pantang di tindas.
Tante Hera adalah adiknya om Haris yang sampai sekarang belum menikah. Dia adalah tipe wanita pemilih dan memegang teguh penyetaraan derajat. Teman-temannya juga semua dari kalangan atas. Karena menurutnya, orang kalangan bawah selalu saja memanfaatkan dan ingin merebut kekayaan orang kalangan atas.
"Untuk pertunangan kalian, nenek dan tante Hera yang akan mengurusnya. Kalian tenang saja." ucap nenek.
"Terima kasih nek, tan." ucap Rava.
"Tenang Rav, tante akan buat pesta pertunangan kalian itu seperti yang di impi-impikan semua wanita." Jawab tante Hera penuh semangat. "Dan hari itu pasti serasa seperti mimpi untuk kamu." ucap tante Hera pada Ken.
__ADS_1
"Maaf tante, di mimpi saya, pesta pertunangan saya malah hancur." Jawab Ken dengan senyum tipis. Tante Hera langsung tersenyum sinis. 'Dia punya mulut yang berani rupanya.' Gumam tante Hera.