
Setelah mengakhiri telvonnya dengan Ken, Rava memulai pekerjaannya. Ketika dia ingin menyalakan laptopnya, terdengar suara Hp Rava berbunyi.
'Dreeerrttt....' notif pesan dari Hp Rava.
Rava meraih Hpnya kembali dan membuka pesan yang ada di layar Hpnya. Terlihat beberapa gambar dalam pesan tersebut. Dia melihat foto yang ada di layar Hp dengan teliti. Beberapa saat kemudian Rava meletakkan Hpnya dengan keras di atas meja. Wajahnya memerah. Entah apa pesan yang dia terima hingga membuatnya marah.
Rava langsung membereskan semua barang-barangnya lalu melemparkan kedalam koper. Entah apa yang merasuki Rava, dia menumpuk semua barang-barangnya tanpa merapikan terlebih dahulu.
Setelah selesai, Rava keluar dari hotel dengan mengendarai taxy. Wajahnya begitu dingin, seakan ingin menerkam seseorang. Rava menuju bandara dan melakukan penerbangan ke tanah air. Dia pulang dengan tiba-tiba, meninggalkan semua pekerjaannya. Padahal projek yang dia kerjakan sudah setengah jalan.
***
Ditempat lain, Ken sedang menaiki tangga menuju kamarnya dengan riang. Wajahnya terlihat bahagia setelah mendapat telvon dari Rava. Dia masuk ke kamar dan langsung membersihkan diri. Setelah selesai, Ken langsung turun untuk sarapan plus makan siang. Dia menikmati makan siangnya dengan hikmat. Setiap hari seperti hari minggu bagi Ken. Dia sudah bekerja keras, saatnya menikmati hasilnya di akhir. Yah.. walaupun berkat bantuan dan dorongan dari papa tentunya.
Dulu, di saat semua teman-temannya sedang asik jalan-jalan, pergi liburan kesana kemari, Ken harus belajar mengembangkan usahanya. Kini saat teman-temannya sibuk memburu Rupiah, Ken bisa bersantai ria.
Setelah selesai makan, Ken kembali ke kamarnya. Dia membuka leptopnta untuk memeriksa beberapa pekerjaan.
'Oww.. iya, aku harus pesen tiket. Dua hari lagi kan Vely nikah. Bisa bisa di sihir jadi peti aku kalo gak dateng.' Gumam Ken dalam hati.
Ken langsung membuka aplikasi jual beli tiket online di Hpnya. Dia Lalu memesan tiket untuk kepulangannya ke kota K besok siang.
"Nah selesai..." ucap Ken dengan senang.
Ken bangkit dari tempat duduknya menuju lemari pakaian.
"Pake baju apa yak?" Tanya Ken sambil melihat isi lemarinya. Ken tidak memiliki banyak gaun, karena selama disini, Ken hanya beberapa kali membeli gaun untuk pergi ke pertemuan.
Dia mengingat kembali gaun yang ada dirumah nya yang berada di rumah lamanya. 'Gaun disana juga kayaknya gak begitu srek diliat deh.' Gumam Ken.
Ken langsung meraih tas kecil dan kunci mobilnya. Dia berencana pergi kebutik terdekat dari rumahnya.
Sesampainya di depan butik, Ken masuk ke dalam. Ada beberapa pengunjung yang sedang melihat-lihat gaun dengan di layani oleh penjaga butik.
Lagi-lagi Ken mendapat perlakuan yang tidak adil. Melihat Ken yang hanya mengenakan kaus oblong dan jeans lalu mengenakan sendal jepit, membuatnya tidak di layani dengan ramah seperti pengunjung lainnya. Tapi Kem tidak ingin ambil pusing, dia hanya positif thingking.
Ken melihat-lihat gaun yang terpajang. Dia meraih salah satu gaun berwarna putih. Seorang penjaga menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Permisi mbak, ada yang bisa saya bantu?" Sapa wanita itu dengan sedikit gusar namun tetap mencoba ramah.
"Saya ingin mencoba gaun ini." Ucap Ken.
__ADS_1
"Apa mbak mau beli gaun ini?" Tanya wanita tersebut.
"Iya, tapi saya mau mencobanya dulu." Jawab Ken sedikit bingung.
"Baik mbak, silahkan." Ucap wanita itu namun masih terlihat gusar.
Ken meninggalkannya ke ruang ganti. 'Segitunya banget sih, apa dia takut kalo aku bakal ngerusak bajunya?' Batin Ken.
Ken mencoba gaunnya, lalu memperhatikan dirinya di depan Kaca. "Wahh.. kayaknya cocok di badan ku." Ucap Ken percaya diri. Dia masih melihat gaun yang ia pakai dari segala sisi.
Setelah selesai Ken melepas gaunnya dan membawanya kekasir.
"Totalnya delapan belas juta rupiah ya mbak." Ucap Kasir dengan jelas.
Ken langsung mengambil black card yang ada di dalam dompet lalu memberikannya ke penjaga kasir.
Penjaga kasir tersebut sedikit kaget dan tidak percaya namun berusaha untuk biasa saja.
"Ini mbak, terima kasih." Ucap penjaga kasir dengan ramah.
"Sama-sama." Jawab Ken dengan senyuman.
"Ibu Ken.." panggil seseorang dari belakangnya.
Ken menoleh melihat orang yang memanggilnya.
"Eh.. Pak Wira. Lagi ngapain disini?" Sapa Ken.
"Jangan panggil Pak dong bu Ken, saya kan jadi keliatan tua. Saya mau ngunjungi kakak saya. Coba saja saya dateng lebih cepet, pasti saya bisa kasih diskon untuk ibu Ken." Jawab Wira ramah.
"Haha.. Kalau gitu kamu jangan panggil saya ibu ya. Saya berasa udah umur 40 an. Iya lain kali kasih saya diskon ya." Ucap Ken.
Mereka asik bersenda gurau, tanpa mereka sadari seseorang sedang memperhatikan mereka.
"Kalau gitu saya duluan ya Wira." Pamit Ken.
"Iya iya.. Ken." Jawab Wira yang masih canggung lantaran merasa tidak pantas hanya menyebutnya nama saja.
***
Sesampainya dirumah ken langsung mempacking beberapa barang yang akan dia bawa.
__ADS_1
'Dreeetttt-dreeeetttt' nada dering Hp Ken berbunyi.
Ken langsung menjawab panggilan yang masuk di Hpnya.
"Hallo nek." Sapa Ken.
"Bisa kerumah nenek besok jam 8?" Tanya nenek dengan suara datar.
"Iya bisa nek, Ken akan kesana." Ucap Ken dengan hati penuh tanda tanya. Telvon pun terputus.
'Tumben banget nenek Rava nyuruh dateng. Apa mau bahas resepsi pernikahan ya? Ah kayaknya enggak deh, kan Rava masih di Paris. Tapi mungkin aja iya, biasanya kan yang ngurusin kayak gini cewek, cowok mah acc aja. Ya ampun bentar lagi aku punya suami.' Gumam Ken sambil senyum - senyum sendiri.
***
Keesokan harinya
Pagi ini Ken sengaja bangun lebih cepat dari biasanya, karena memiliki janji dengan neneknya Rava. Dia tidak ingin membangun kesan buruk pada neneknya. Ken bersiap-siap, dia mengenakan dres kuning untuk menampakkan kesan femininnya.
Ken melajukan mobilnya dengan panduan map yang telah dia terima. Setelah beberapa waktu, akhirnya Ken sampai di istana nenek Rava.
"Permisi pak, saya ingin bertemu dengan nenek Rava." ucap Ken pada satpam dengan ramah.
"Sudah ada janji mbak?" tanya satpam tersebut.
"Sudah pak, nenek sendiri yang minta saya kemari." jelas Ken.
Akhirnya satpam tersebut membukakan gerbangnya. Ken langsung mengemudikan mobulnya masuk kehalaman rumah menek Rava.
"Permisi nek." sapa Ken dari depan pintu yang sudah terbuka. Ken langsung mesuk setelah melihat anggukan dari nenek Rava. Ken melihat ***** sedang duduk bersama tante Hera dan juga Jingga.
Moodnya buruk ketika melihat Jingga, namun Ken mencoba untuk biasa saja.
"Duduk Ken." ucap nenek Rava datar. Ken memiliki firasat tidak baik ditambah lagi tante Hera dan Jingga melihatnya dengan tatapan sinis.
Ken akhirnya duduk di depan nenek Rava. Tiba-tiba terdengar suara tapak kaki sedang menuruni tangga.
"Mas Rava." Lirih Ken yang terkejut melihat sosok Rava. Tapi dia seperti tidak percaya. 'Kenapa Rava ada disini bukan di Paris? Apa dia pulang tiba-tiba?' tanya Ken dalam hati.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hai readers ku yang baik hati.. Terima kasih sudah setia membaca ceritaku. Jangan lupa tinggalkan like, coment dan rate ya.. jangan celit celit untuk vote juga.. vote itu gratis loohhhh...
__ADS_1