Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Sebuah Rencana


__ADS_3

'Perjalanan panjang yang melelahkan. Akhirnya sampai juga. Udah tiga tahun gak kemari, rasanya gak ada yang berubah sama rumah ini.' Bisiknya dalam hati. Dia sudah berada di depan sebuah rumah yang terlihat begitu megah.


"Omaaa..." teriaknya lalu berlari memasuki rumah tersebut. Dia tersenyum melihat orang yang sudah lama tidak di kunjunginya.


"Aurelku.." sapa Omanya dengan senyum yang mengembang. Ken langsung jatuh kepelukan Omanya.


Aurel adalah nama pilihan Omanya. Pada awalnya, papa menamainya dengan nama Ken Aliska,  Namun  Oma Ken memberi tambahan Aurel karena suka dengan nama tersebut. Sehingga mamanya menggabungkan nama itu menjadi Ken Aurelia Aliska.


'Apa cuma aku yang punya nama banyak di dunia ini? Teman-temanku semua memanggil ku Ken, Oma manggil aku Aurel dan Riko juga karyawan ruko manggil aku Aliska.' Batin Ken.


"Kenapa kamu tidak beri tahu Oma kalau mau kesini?" Tanya Oma lalu melepaskan pelukan cucunya.


"Aurel mau ngasih kejutan Oma." Jawab Ken dengan manjanya. Oma mengusap kepala cucunya.


"Lihat lah kamu sudah sangat dewasa sekarang." Ucap oma melihat tubuh Ken. Ken hanya meringis menampakkan giginya.


"Sudah, kamu istirahat sana. Sudah malam." Pinta Oma.


"Iya Oma. Oma juga istirahat ya." Jawab Ken lalu meninggalkan omanya.


***


"Bonjour Oma (Selamat pagi Oma)." ucap Ken sambil mengecup pipi Omanya.


"Bonjour aussi (Selamat pagi juga)." Jawab Oma yang sedang duduk di meja makan.


Ken langsung duduk di meja makan. Di depannya sudah terhidang roti selai dan susu putih. Ken langsung menyambarnya tanpa basa-basi.


"Sayang,  papamu bilang kamu sudah bertunangan. Seperti apa tunangan kamu itu, coba ceritakan ke Oma." Tanya Oma antusias.


Ken hanya diam menundukkan wajahnya. Selera makannya seakan hilang mendengar pertanyaan oma. Oma melihat perubahan pada wajah cucunya. Beliau merasa ada yang tidak beres dengan cucunya.

__ADS_1


"Aurel..." panggil Oma dengan lebut membuat hati Ken melunak. Padahal kedatangannya kemari adalah untuk kabur dan melupakan beban hatinya.


"Pertunangan Aurel batal Oma." Ucap Ken lesu.  Oma langsung memeluk Ken.


"Kamu pasti melewati hari yang sulit." Usap oma sanbil mengelus punggung Ken.


Ken bangun dari pelukan omanya.


"Apa papa kamu sudah tahu ini?" Tanya oma. Ken langsung menggelengkan kepalanya. Dia takut hubungan persahabatan papanya dengan om Haris renggang jika dia menceritakan hal ini.


"Sayang, kebetulan dulu oma mau jodohin kamu dengan cucu sahabat oma. Tapi karena kamu sudah bertunangan. Oma mengurungkan niat oma. Nah sekarang karena pertunangan kamu sudah batal, bagaimana kalau kamu oma jodohin?" Tanya oma penuh semangat.


"Oma, yang dijodohin dengan orang yang di kenal aja bisa batal. Apa lagi yang gak di kenal." Tolak Ken.


"Aurel, dia anaknya baik. Oma kenal dia dan keluarganya. Oma rasa kalian cocok." Bujuk Oma.


"Oma, iyalah dia baik, dia kan gak sakit." Canda Ken.


"Aureel.." panggil Omanya yang mulai kesal dengan alasan alasan cucunya.


"Sayang, kamu memang bisa mengurus segala hal. Tapi tidak dengan percintaan. Kamu saja pernah di hianati pacarmu dulu. Pokoknya Oma mau kamu turuti permintaan oma. Oma pastikan tidak akan ada kegagalan lagi." Jelas oma dengan tegas dan penuh percaya diri.


"Kok Oma yakin banget sih. Emang Oma malaikat pengatur jodoh?" Tanya Ken sedikit kesal. 'Oma ku aneh aneh aja, baru juga sampek udah pake mau di jodoh jodohin segala. Gimana aku mau nerima perjodohan kalo aku aja baru batal tunangan. Akukan belum move on.' Gumam Ken.


"Aurel sayang tidak ada malaikat pengatur jodoh, perjodohan ini akan langsung ke jenjang pernikahan." Jawab Oma serius.


"Haahhhh..." teriak Ken saat mendengar jawaban Oma.


"Sayang oma sudah tua, oma ingin melihat kamu menikah." Bujuk oma dengan lembut. Dia tau cucunya orang yang keras kepala, namun setelah dibujuk beberapa kali pasti dia akan luluh.


"Oma.. Aurel pikir pikir dulu ya." Jawab Ken langsung meminum susunya dan meninggalkan oma di meja makan.

__ADS_1


***


Ken duduk di kursi yang terletak di pinggir kolam sambil merenungkan kata kata omanya. Didalam hati Ken, dia hanya ingin membuat seseorang pergi dengan penyesalan tanpa harus menghadirkan orang baru.


'Apa aku setuju aja ya di jodohin sama oma. Kalau aku dekat dengan orang lain, mungkin aku bisa cepet lupain Rava. Dan kalo aku nikah, aku juga gak akan terlalu sakit liat Rava sama cewek lain. Tapi apa aku bisa cinta sama suami ku itu? Maksudnya calon suami. Aku takut nyakitin perasaan orang lain. Tapi aku bisa cinta sama Rava hanya dalam waktu singkat. Mungkin aku juga bisa cinta sama calon suamiku dalam waktu singkat juga.' Ken tersenyum seakan percaya diri bisa move on dari Rava.


'Tapi setelah putus dari Riko, aku gak bisa nerima kehadiran orang lain selama bertahun-tahun. Dan saat di tinggal Riko sama sakitnya saat aku dihina Rava. Bahkan sekarang lebih sakit.' Gumam Ken dalam hati. Raut wajahnya kembali muram.


"Ah udah lah kebanyakan tapi, pening juga aku mikirin nikah doang." Ucap Ken sedikit berteriak. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Ken mengambil Hpnya dan menghubungi seseorang.


"Hallo.." suara dari balik telvon.


"Bagaimana sudah kamu anter paketnya?" Tanya Ken.


"Sudah bu Ken. Paket tersebut saya beri langsung kepada bu Vely." Jawabnya dengan sopan.


"Bagus.. terima kasih ya." Ucap Ken ramah lalu memutuskan telvon.


'Ve maafin aku ya gak bisa dateng ke nikahanmu. Andai situasi  hatiku gak sekacau sekarang, mungkin aku akan dateng. Aku takut kalo udah liat kamu pasti aku gak bisa nahan tangis. Aku takut di hari pernikahanmu kamu malah dengerin curhatanku. Aku takut di malam pertamamu, kamu malah nungguin aku." Batin Ken dalam hatinya.


Saat bersama Vely, apapun rahasia yang ingin dia simpan dalam-dalam pasti terbongkar juga. Vely adalah buku diary bagi Ken. Dan sosok Vely selalu menjadi diary terbaik bagi Ken.


'Biarlah aku kabur sebentar dari tempat itu. Sebentar lagi aku akan membuat mereka mencari ku dengan caraku sendiri. Aku ingin liat wajah nya saat membujuk ku untuk meminta maaf. Ha.. ha..  Pasti lucu sekali.' Batin Ken.


Sekarang hanya dirinya sendiri yang bisa menghibur hatinya. Setelah sakit yang dia terima, kini dia menyiapkan sebuah rencana umtuk membalasnya. Apa balasan yang akan diberikan Ken pada Rava? Hanya Ken yang tahu itu.


Ken kembali melihat Hpnya, seketika senyumnya mengembang. Apakah itu senyum bahagia? Siapa yang tahu.


'Selamat menikmati penyesalanmu Rava.' batin Ken dalam hatinya.

__ADS_1


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Hai readers.. terima kasih sudah setia baca ceritaku. Jangan lupa tinggalkan like, komen dan vote..


__ADS_2