
Ken sedang bersiap-siap didepan meja riasnya. Hari ini dia terlihat formal dengan blus moca dan rok sepan diatas lutut. Ken turun untuk sarapan pagi. Setelah sarapan, Ken langsung berangkat dengan mengendarai mobilnya.
Pagi ini jalanan cukup macet, Ken mengemudikan mobilnya dengan santai dan hati-hati. Tak berapa lama Ken langsung memarkirkan mobilnya disebuah hotel. Ken masuk ke loby, seseorang pria bertubuh kekar namun berwajah cukup tampan langsung menghampirinya. Ternyata kedatangannya sudah di tunggu oleh seseorang.
"Selamat pagi bu, mari ikut saya." Pinta lelaki itu. Ken menganggukkan kepalanya.
Mereka berjalan memasuki lift khusus. Lalu mereka memasuki sebuah ruangan yang di desain cukup nyaman. Lelaki itu langsung meninggalkan Ken di dalam ruangan. Di ruangan tersebut terlihat seorang lelaki tampan bertubuh tinggi sedang duduk dibelakang meja kerjanya.
"Selamat pagi ibu Ken." Sapa lelaki tersebut dan langsung bangkit menghampiri Ken. Ken tersenyum tipis melihat wajah familiar yang ada di depannya.
"Mari silahkan duduk." Ajak lelaki itu. Mereka berjalan mendekati sofa. Mereka pun duduk saling berhadapan. Ruang kerja ini terbilang cukup luas, selain terdapat meja kerja, ruang ini juga memiliki sepaket sofa dan tempat tidur.
"Apa kita pernah ketemu sebelumnya? Wajah kamu terlihat familiar." Tanya Ken tanpa basa-basi.
"Perkenalkan saya Wiranda Adi Wijaya. Saya presedir baru di hotel ini. Kita pernah bertemu di mall Graha tadi malam." Jelas Wira dengan sopan.
"Oww.. Iya saya ingat sekarang." Ucap Ken yang sudah mengingat Wira.
"Senang bisa bertemu lagi dengan ibu Ken." Ucap Wira. Ken tersenyum membalas ucapan Wira.
Mereka berbincang bincang didalam ruangan tersebut. Sesekali mereka saling tertawa.
Setelah selesai dengan urusannya, Ken memutuskan untuk kembali pulang. Wira mengantarkan kepergian Ken. Sesampainya di loby ada dua pasang mata yang memperhatika langkah Ken dan Wira. Tatapan mereka begitu sinis, namun Ken tidak menyadarinya. Ken memasuki mobilnya lalu meninggalkan Wira.
***
'Dreettttt....Dreeerrttt...' Hp Ken berdering.
Ken memarkirkan mobilnya dibahu jalan, dia meraih Hpnya yang terletak di dalam Tas. Terlihat nama Vely di layar Hpnya.
"Hallo Ve..." sapa Ken yang sudah memasang earphonenya.
"Ken... ngapain Kamu, aku rindu." Ucap Vely dari balik televon.
"Aku lagi nyetir. Aku rindu kamu juga. Kamu sehat kan disana?." Tanya Ken penuh kerinduan.
"Aku sehat. Kamu sehat kan?" Tanya Vely balik.
"Iya aku sehat... Ruko aman kan?" Tanya Ken.
"Iya.. iya... aman terkendali semuanya." Jawab Vely.
__ADS_1
"Ken... Aku mau nikah. Kamu dateng ya..." pinta Vely.
"Nikahh....? Kapaan...?" Tanya Ken antusias.
"Tiga hari lagi." Ucap Vely semangat.
"Haaahhhh... Kenapa gak sekalian kamu telvon aja aku di hari H." Ucap Ken kesel.
"Hehehe... rencananya si gitu. Tapi aku takut nanti kamu gagalin nikahan ku. Lagian mau di kasih tau kemarin, sekarang atau di hari H pun kamu pasti tetep dateng kan." Jawab Ken sambil meringis.
"Hemm dasar. Ya aku pasti dateng. Kamu mau minta kado apa?" Tanya Ken.
"Gak usah repot-repot lah say. Kamu kasih ruko ke aku aja aku udah seneng banget kok." Jawab Vely sambil tertawa.
"Gila aja. Itu Ruko walaupun kecil buatnya nguras keringet tau. Udah ngundang cuma modal suara, gak modal banget." Protes Ken.
Yahhh... Ruko tersebut Ken bangun sendiri tanpa bantuan dari papanya. Bahkan awalnya papa Ken tidak tahu, Ken adalah Pemilik ruko itu.
"Hemmm aku ini apa lah say, cuma upil. Mana bisa aku nyetak undangan. Emang kamu yang anaknya sultan." Jawab Vely
"Hahahah.. bahasa mu bawak bawak upil segala." Tawa Ken.
"Eh ngomong-ngomong kamu mau kemana?" Tanya Vely.
"Yaudah kamu lanjut nyetirnya ati-ati ya.." pinta Vely.
"Emang dari tadi aku nyetir kali. Hemm... ya udah bye..." ucap Ken. Telvon pun terputus.
Setelah 5 tahun berpacaran, akhirnya Vely dan Hery menikah juga. Banyak pengalaman yang Ken dapatkan dari hubungan mereka. Salah satunya adalah pilihan untuk tetap sendiri. Ken melihat rumitnya menjalin suatu hubungan dimana kita harus saling mengerti dengan sifat pasangan kita. Belum lagi ketika ada segelintir kesalah pahaman yang membuat mereka cek cok. Ken hanya bisa mengelus dada.
Walaupun disatu sisi, hubungan mereka membuat Ken iri. Karena dia tidak bisa memiliki kisah cinta yang panjang seperti hubungan mereka.
Ken sampai di rumahnya dan langsung memarkirkan mobil ke garasi. Dia masuk kerumah, namun saat ingin melangkah kan kakinya ke tangga, seorang pelayan rumah memanggil Ken.
"Permisi non." Panggil bi Murni yang berjalan menghampiri Ken.
"Ada apa bik?" Tanya Ken.
"Ini ada titipan untuk non Ken." Jawab bi Murni dengan sopan.
"Dari siapa bik? tanya Ken penasaran.
__ADS_1
"Bibi gak tau juga non. Tadi yang nganter tukang pos." Jawab bi Murni.
"Makasi ya bik." Ucap Ken sambil menerima kotak dari tangan bi Murni.
"Sama-sama non, kalo gitu bibi kebelakang dulu ya non." ucap bi murni sambil melangkah meninggalkan Ken.
"Iya bi." jawab Ken.
Ken melanjutkan langkahnya menuju kamar. Dia duduk di sofa kamarnya dan langsung membuka kotak yang tak begitu besar tersebut. Setelah membuka packingnya Ken melihat sebuah kotak lagi di dalamnya. Kotak tersebut berwarna maroon yang terlihat seperti buku agak tebal dengan tulisan 'Vely ♡ Hery' di sampulnya.
Ken semangkin penasaran, dia lalu membuka kotak tersebut seperti membuka buku, terlihat sepasang boneka pengantin berdiri sambil memegang kertas pengumuman pernikahan.
"Ya ampun ternyata undangan. Kirain apaan. Lucu banget sih." Ucap Ken yang suka dengan desain unik undangan tersebut.
Ken langsung mengambil Hpnya lalu menghububgi seseorang.
"Hallo..." bunyi suara dari balik telvon.
"Eh maymunah... kamu udah ngundang lewat telvon ngapain ngirim undangan segala." Tanya Ken.
"Hehehe ya biar formal aja, kan kamu minta undangan tadi. Tau gak, itu undangan limited edition. Aku cuma nyetak 10 biji." Jelas Vely dengan serius.
"Kamu cuma ngundang sepuluh orang? Apa kamu cuma bisa ngasih makan sepuluh orang Ve? Gila kamu mau pesta atau mau among-among (sejenis syukuran)." Ejek Ken.
"Ya elah.. maksud ku aku nyetak undangan secantik itu cuma 10 biji. Lainnya ya pake undangan yang biasa aja." Jelas Vely kesel.
"Kirain..." jawab Ken.
"Inget ya disimpen. Jangan di buang." Ucap Vely.
"Iya iya... malahan rencananya mau ku musiumin nih undangan." Jawab Ken asal.
"Banyak gaya kamu." Ketus Vely. Ken tertawa mendengar Vely yang suaranya sebel.
"Ya udah ya. Aku mau nempah lemari kaca dulu untuk nyimpen ni undangan." Ucap Ken.
"Ah lebay... ya udah .. Byeeee.." ucap Vely.
Telepon mereka pun terputus. Ken masih memandangi undangan Vely sambil senyum-senyum sendiri karena begitu cantik dan unik menurutnya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
Hai Readers... Terima Kasih sudah mampir. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like dan coment ya. Kalian juga bisa vote jika tidak keberatan.