Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Rava bangkit dari tempat tidurnya, ia ingin menghirup udara di luar rumah. Saat ia keluar dari makarnya, ia melihat Ken masuk dan berjalan tanpa melihat dirinya. Rava enggan menyapa karena dia masih teringat dengan mompinya yang terasa nyata. Namum kini dia merasa kehadiran Ken seperti mimpi. Rava hanya diam di tempat sembari memperhatilan punggung Ken.


"Rava kamu udah sehat? nih minum." tanya Ken sembari menyodorkan segelas teh.


Rava yang mendengar suara Ken sedikit terkejut, dia melihat Ken sudah berada di depannya.


"Ahhhh... yaaaaa." Rava menerima teh dari Ken.


"Kamu tau aku sakit?" Tanya Rava yang heran karena semalaman tidak di rumah.


"Nak bahkan Ken yang menemukan lamu pingsan di luar. Dia juga yang menjaga kamu semalaman. Masa kamu tidak ingat ." sela neneknya saat menuruni tangga.


"Bukannya nenek bilang Ken belum pulang?" Rava tak pecaya.


" Ya memang dia belum pulang, saat kamu bangun Ken pergi keluar membeli teh." Jelas neneknya.


Seketika Rava tersenyum mendengar jawaban neneknya. 'Berarti itu bukan mimpi. yahhh... bunkan mimpi.' batinnya dengan senyum tak percaya.


"Ken, bisa kita bicara sebentar?" Rava langsung menarik tangan Ken tanpa menunggu jawaban ita atau tidak. Sementara Ken hanya pasrah mengikuti Rava.


Kini mereka sudah berada di dalam kamar yang di tempati Rava. Ken duduk di bibir kasur sementara Rava menarik kursi lalu duduk tepat di depan Ken. Entah apa yang akan Rava ucapkah yang pasti ia sedang berusaha.


"Ken, aku udah tau jawabannya." ucap Rava membuat Ken mengerutkan keningnya.


"Jawaban apa? Aku ga paham apa yang kamu maksud."


"Kamu pernah bilang 'Sesuatu yang hancur ga akan bisa lembali lagi. Pilihannya adalah mengganti yang baru atau meratapi kehancurannya." Rava mengulang naskah yang ada di dalam mimpinya. Mimpi yang dia anggap nyata.


"Jadi aku milih menggantinya dengan yang baru. Ken kita udah kenal lama banget sampek akhirnya semua kacau kaya sekarang. Mau ga kamu maafin aku. Kita lupain semuanya yang udah terjadi. Buat ini jadi pelajaran. dan kita mulai sesuatu yang baru. Aku ga bisa janji apapun karna percuma, kamu pasti ga akan luluh. Tapi pliss kasih aku waktu untuk wujutin semua janji yang ada di hati aku." Sambil menggenggam tangan Ken, Rava memohon dengan penuh kesungguhan.


Ken terdiam sembari mencerna kata kata Rava.


"Aku ga tau kamu ngomongin apa. Aku ga pernah ngerapa pernah ngomong itu. Tapi aku percaya niat kamu." Ken masih bingung dengan kata kata Rava karna Ia tidak merasa pernah berkata seperti itu.


" Selama ini memang aku ga habis fikir. Persahabatan yang udah lama kita bentuk bisa hancur gitu aja. Dan sekarang kamu mau kita mulai lagi dari awal? Ini hati Va, bukan mainan yang bisa kamu bongkar pasang." Ken menarik tangannya dari genggaman Rava.


"Aku paham perasaan kamu. Maka dari itu aku mau bertanggung jawab Ken. Percayain semua sama aku. Aku bakal buat hati kamu utuh lagi."


"Yahhh... Kita mulai dari awal." Bujuk Rava namun Ken masih membisu.


***


Tidak ada yang pernah tahu jalan hidup seseorang. Pertemuan dan perpisahan, kedamaian dan perselisihan, bisa terjadi kapan saja.


Seperti kisah Ken dan Rava. Setelah cerita panjang yang mereka lalui, kini mereka bersepakat untuk mendamaikan diri sendiri. Meyakinkan perasaan masing-masing.  Bercerita pada hati untuk membujuk kerasnya ego.


Hari hampir siang, jam sudah menunjukkan pukul 11 waktu Paris. Ken masih terbaring di sebuah kamar yang cukup luas. Setelah meninggalkan Rava, Ken memutuskan pergi ke hotel.


'Agghhhh hari yang cerah... Semoga hari ku secerah ini. Persetan dengan cinta atau apalah namanya.' batin Ken sembari melihat suasana kita dari jendela hotel.


***


Di loby hotel, Ken sedang berbicara dengan seorang lelaki yang memiliki paras eropa yang tak lain adalah manager hotel. Tiba tiba seorang lelaki mengjampiri mereka. Ken melambaikan tangannya untuk menyuruh manager itu pergi.


"Aliska..." Panggilnya.


"Ada apa kamu kemari?" Tanya Ken dengan ketus.


"Aku cuma mau meluruskan masalah kita. Bisa kita bicara?"Pinta Riko.

__ADS_1


"Setidaknya beri aku kesempatan untuk minta maaf Al. Aku datang sejauh ini bukan tanpa alasan." pintanya.


Ken sejenak berfikir, haruskah menerima ajakan Riko. Dia takut menerima kenyataan bahwa dialah yang menjadi penyebab perselingkuhan itu. Dia takut tidak bisa membenci Riko walau rasa sakitnya belum sepenuhnya hilang. Namun, dengan kelapangan hati akhirnya Ken menyetujui permintaan Riko. Mereka kini sedang berada di restauran hotel.


"Bicaralah, waktu kamu 30 menit."


"Al dulu kamu orang yang gak pernah bisa ku sentuh. Walaupun kita udah pacaran lama tapi kamu selalu jaga jarak sama aku. Di luar negri pacaran itu bebas, dan aku tertekan dengan situasi ini." ucap Riko yang membuat Ken menyeringai.


"Saat itu aku ketemu Jingga yang patah hati di bar. Dia mabuk karna alkohol. Aku ngerasa situasi kami sama pada waktu itu. Akhirnya kami jadi akrab. Aku melampiaskan semua yang gak bisa aku lakuin ke kamu sama Jingga."


"Stop... Jadi semua kesalah aku yang gak mau ngelakuin s*x sama kamu? Iya...? Kalau kamu cuma mau nyeritain kisah cintamu. Cukup sampe di sini, aku ga perduli. Ga penting." Ken berapi api, ia hendak berdiri dan akan meninggalkan Riko.


"Pliisss Al... " Riko memohon sambil menarik tangan Ken. Akhirnya Ken kembali duduk.


Rava keluar dari kamar Ken lalu masuk kekamarnya untuk membersihkan diri. Begitu pula Ken yang bergegas membersihkan dirinya.


Sementara Oma Ken dan nenek Rava sedari tadi duduk di ruang Tv sambil nemikmati secangkir teh dan ditemani oleh majalah. Begitulah rutinitas yang busa mereka lakukan.


"Kamu sudah sehat Rav?" Tanya nenek saat melihat Rava menuju kamarnya.


"Udah nek. Pagi oma." Sapa Rava.


"Pagi juga cucu menantu." Sapa oma sambil tersenyum.


Rava langsung masuk ke kamarnya meninggalkan nenek dan oma Ken yang sedang asik menikmati secangkir tehnya.


"Kamu lihat kan, cucumu baik-baik saja. Mereka pasti sudah baikan sekarang." Ucap oma pada nenek.


"Ya.. aku bisa melihat kehidupan di wajah Rava. Tidak seperti sebelumnya." Ucap nenek Rava lalu menyeruput teh yang dia pegang.


"Aku sangat berterima kasih, kamu sudah mau memaafkan aku dan cucuku." lanjut nenek Rava dengan raut penyesalannya.


"Iya, biar lah yang lalu-lalu biar berlalu. Bagaimana kalau kita langsung saja urus pernikahan mereka." Ucap oma dengan semangat.


"Mereka baru baikan, pasti akan canggung jika langsung membicarakan pernikahan." Jelas oma yang sepertinya sangat paham dengan urusan hati anak muda.


"Baiklah kalau gitu. Aku akan mempersiapkan semuanya." Ucap nenek Rava dengan penuh semangat.


Nenek Rava mengambil Hpnya dan langsung menghubungi Hera.


"Hallo mi." Suara dari balik telvon.


"Hera,  Rava dan Ken akan menikah minggu depan. Segera kamu persiapkan semuanya ya. Gaun, undangan, dan hotel untuk resepsi pernikahan. Pokoknya harus beres secepatnya." Ucap neneknya penuh semangat.


"Mi.. maksudnya Rava mau nikah sama Ken? Apa Ken udah ketemu? Bukannya Rava mami jodohkan sama cucu temen mami?" Tanya tante Hera yang masih tidak percaya.


"Sudah jangan banyak tanya. Urus saja yang mami minta." Bantah nenek Rava. Telvon pun terputus.


Oma Ken juga tidak mau kalah, beliau segera menelvon menantunya untuk memberikan kabar baik tersebut. Yah.. oma adalah ibu dari mama Ken.


"Halo Rom, mama akan menyelenggarakan pernikahan Ken dengan tunangannya. Kamu persiapkanlah segala sesuatunya." Ucap Oma dari pada orang yang dia hubungi.


"Iya ma." Jawab papa Ken.


Ken keluar dari kamarnya. Dia sudah berdandan lebih cantik dari biasanya. Dengan sentuhan kuas kuas make up di wajahnya, Ken terlihat menawan walau hanya mengenakan kaus panjang berwarna merah dan jeans.


'Kenapa sih oma sama nenek kok kayaknya sibuk banget nelvonin orang.' Batin Ken sambil berjalan mendekati para leluhur bumi itu.


"Ada apa sih oma, kok sibuk banget kayaknya." Tanya Ken penasaran.

__ADS_1


"Ada deh.. ini bisnis orang tua. Anak kecil nurut aja." Canda oma yang malah membuat Ken kesal.


Rava keluar dari kamar dengan tampilan rumahan. Walaupun hanya mengenakan kaus hitam panjang dan celana training membuatnya terlihat santai. Ken langsung mendekati Rava dan mengajaknya ke meja makan. Mereka duduk saling berhadapan. Diatas meja sudah terhidang menu soupe a l'oignon, buah-buahan, dan dua gelas air mineral.


"Va, kira-kira kenapa ya kok oma sama nenek dari tadi sibuk nelvonin orang." Tanya Ken penasaran diiringi dengan suapan dari mangkuknya.


"Mungkin mereka lagi sibuk ngurus pernikahan kita." Jawab Rava santai. Mendengar jawaban Rava, Ken sontak terkejut hingga membuatnya tersedak.


"Uhhuuukkk... uhuukkk..."


"Makanya makan jangan sambil ngomong." Ucap Rava seraya menyodorkan segelas air putih. Ken langsung meminumnya.


"Kamu tahu dari mana?" Tanya Ken penasaran.


"Makan dulu nanti aku ceritain." Jawab Rava. Ken kesal karena Rava tidak menjawab pertanyaannya, dia segera menghabiskan menu sarapannya.


***


"Aurel, Rava, coba kemari." Panggil oma yang kebetulan Rava dan Ken telah menyelesaikan makanannya.


"Iya oma."  jawab Ken langsung menghampiri oma dan nenek. Ken langsung duduk di samping omanya, sementara Rava duduk di samping nenek.


"Besok kita akan kembali ke tanah air." Ucap nenek rava serius.


"Ada apa nek, kenapa terburu-buru?" Tanya Rava.


"Kita akan mempersiapkan pernikahan kalian." Ucap nenek Rava penuh semangat.


"Apa itu gak terlalu cepet nek." Ucap Ken yang sebenarnya senang bercampur malu.


"Tidak sayang. Jika ditunda lagi kita tidak tahu akan ada masalah apa lagi yang datang." Jelas oma Ken.


Ken menganggukan kepalanya paham.


Masalahnya selama ini cukup menjadi pelajaran, karena sebelum menikah akan kerap terjadi masalah masalah yang menguji calon pasangan. Jika terlalu lama menundanya, pasti akan banyak lagi masalah-masalah yang datang walau tak di undang.


"Kalian mau konsep seperti apa Ken, Rav?" Tanya nenek Rava. Walau bagaimanapun nenek tahu wanita memiliki konsep pernikahannya sendiri.


"Kalo Rava, terserah Ken aja nek." Ucap Rava. Apapun yang menjadi pilihan Ken, pasti akan Rava iyakan.


"Emmm.. kalau Ken si pengen konsepnya itu yang sederhana aja nek." Uvap Ken sambil menghayalkan dekorasi aula yang indah namun tidak terlalu megah.


"Sayang kamu sama saja seperti mamamu." Puji oma.


"Tapi oma tidak setuju. Kamu itu cucu oma satu-satunya. Oma kepengen pesta pernikahan kamu itu harus mewah." Pinta oma dengan serius.


"Tapi oma, sederhana kan bagus. Kita gak perlu memperlihatkan kemewahan karena diluar sana masih banyak orang yang kekurangan." Bujuk Ken.


"Aurel gak mau ya jadi trending topik di media sosial." Lanjut Ken. Pasalnya pada saat pernikahan mamanya dulu, sempat menjadi tranding topik diberbagai media karena sangking mewahnya.


"Pokoknya oma mau pesta pernikahan kamu itu wow. Titik." Pinta oma yang sepertinya tidak mau dibantah cucunya lagi.


Rava dan neneknya hanya bisa terdiam melihat perdebatan sengit antara cucu dengan omanya.


"Begini saja, bagaimana kalo resepsinya tetap kita buat semewah mungkin, namun kita juga buat santunan untuk anak-anak yatim." Nenek Rava buka suara.


"Ken setuju nek." Jawab Ken penuh semangat. Oma dan Rava pun ikut menganggukan kepalanya.


"Karena semua setuju, bagaimana kalau kamu dan Ken ikut pulang ketanah air besok. Jadi kita bisa mempersiapkan semuanya." Pinta nenek Rava.

__ADS_1


"Ide bagus, aku juga ingin membantu mempersiapkan pesta pernikahan mereka." Sahut oma Ken penuh semangat.


'Perasaan ini pernikahanku deh, kok oma sih yang paling semangat. Orang yang mau nikah juga biasa aja.' Batin Ken.


__ADS_2