Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Hari Pernikahan Part 3


__ADS_3

Ken menikmati lagu yang dibawakan Hendry, tapi dia bingung dengan maksud dari lagu tersebut. Tidak seperti  beberapa tamu yang bersorak melihat penampilan mereka.


"Kemaren itu waktu Rava nyari kamu kekota K, Hendry juga ikut nyari kamu bareng Rava." Cerita Vely pada Ken.


"Oh ya kok bisa? Hendry kerja di perusahaannya Rava?" Tanya Ken.


"Iya, kata Hendry, dia juga pernah di suruh Rava untuk mata-matain kamu." Jawab Vely.


"Oww jadi dia orangnya." Jawab Ken sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu gak kaget? Aku aja kaget denger kamu dimata-matain." Tanya Vely yang sedikit heran dengan ekspresi sahabatnya itu.


"Awal nya si aku kaget, malahan aku sempet marah sama Rava. Tapi setelah ku pikir-pikir ya udah lah, itu cara dia buat jaga aku. Dan setelah itu aku gak di mata-matain lagi kok." Ucap Ken.  Vely pun mengangguk paham.


'Tapi kenapa dia nyanyiin lagu itu, udah gitu dia berasa sedih keliatannya. Apa dia suka sama aku? Ah... gak mungkin gak mungkin, mungkin karna lagunya aja yang sedih jadi dia menghayati.' Batin Ken dalam hati.


"Ve, Apa jangan-jangan selama dia mata-matain aku, dia jatuh cinta ya sama ku." Celetuk Ken yang tentu saja membuat Vely, Nadia dan Sasya yang ada didekatnya ikut terkejut dan melihat kearahnya.


"Ya ampun Ken, di hari pernikahanmu bisa-bisanya kamu mikirin cowok lain." Omel Sasya yang sedikit bawel. Nadia hanya menggelengakan kepalanya tanpa sepatah kata.


"Bukan mikirin, aku cuma bilang." Bantah Ken.


"Bisa jadi si Ken, tatapan dia ke kamu itu beda." Ucap Vely yang saat ini memperhatikan Hendry, adik iparnya itu.


Disisi lain, Rava sedang mengamati Ken dari jauh. Dia seperti ingin mencari tahu bagaimana raut wajah Ken. Sementara Ken hanya diam tanpa berekspresi apa apa. Gemuruh tepuk tangan para tamu mengagetkan Ken.


"Nona Ken, nona diminta untuk naik ke pelaminan." pinta seorang pelayan yang tiba-tiba menghampiri Ken. Dia pun langsung bangkit dan berjalan menuju pelaminan.


Ken duduk di pelaminan seorang diri. Sedari tadi dia mencari-cari keberadaan Rava, tetapi tidak juga menemukannya. Ada rasa kesal dalam hatinya dan fikiran yang macam-macam.

__ADS_1


'Kemana si Rava, istrinya duduk sendirian disini malah dia entah kemana. Jangan jangan nih dia masih asik sama Aura Negatif itu.' Batin Ken dengan kesalnya. Sampai -sampai dia memplesetkan nama Noura menjadi Aura Negatif.


***


Tiba-tiba satu persatu anak - anak berusia sekitar tujuh sampai dua belas tahun berjalan mendekati Ken. Mereka mengenakan gaun putih dan setelan tuxedo putih. Ditangan mereka terlihat sedang menggenggam setangkai mawar merah.


'Anak-anak ku.' Lirih Ken sambil berdiri dari duduknya. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipi. Namun bibirnya tersenyum menanti kedatangan mereka.


Satu persatu anak - anak menaiki pelaminan untuk memberikan setangkai mawar merah lalu mencium punggung tangan Ken. Ken memberikan pelukan kepada mereka. Di hari bahagianya, dia bisa melihat anak-anaknya berkumpul bersama. Ken tidak bisa membendung air mata harunya. Begitu pula para tamu yang hadir menyaksikan itu, mereka meneteskan air mata haru.


Ada sekitar 30 anak yang hadir memberikan setangkai mawar merah. Mereka adalah anak-anak asuh Ken yang ada di panti asuhan Mutiara Kasih. Panti asuhan yang di dirikan oleh Ken.


Sebuah kejutan yang sangat menyentuh hati Ken. Bagaimana tidak, mereka adalah separuh dari jiwa Ken. Ken memberikan kasih sayangnya seperti seorang ibu untuk mereka yang telah kehilangan ibu sejak kecil.


 Setelah anak terakhir memberikan mawar merah kepada Ken, terlihat seseorang pria berjalan mendekati Ken. Ken tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh buket bunga mawar merah yang besarnya hampir bisa menutupi tubuh Ken.


"Perkenalkan, saya papa dari anak-anak itu." Ucap Rava dengan senyum dibibirnya.


"Ini bunga untuk anda Nyonya Rava." Rava menyodorkan bunga tersebut.


Ken melihat bunga yang ada di pelukannya lalu melihat bunga yang di sodorkan oleh Rava. Dia bingung bagaimana cara memegang semua bunga itu.


Dua orang pelayan mendekati mereka lalu mengulurkan tangan untuk mengambil mawar di tangan Ken. Ken memberikannya dengan senang hati. Lalu menerima dari bulet mawar dari Rava yang ternyata cukup berat.


"Rava, kamu memang selalu bisa buat aku terkejut seperti biasa." Ucap Ken dengan wajah penuh haru.


Ken lalu memberikan buket itu pada pelayan. Dia langsung menghambur ke pelukan Rava. Dia tidak menyangka Rava akan memberinya kejutan seperti ini. Semua tamu bertepuk tangan untuk Ken dan Rava. Begitu pula Hendry yang sepertinya sudah mulai mengikhlaskan cinta yang belum sempat dia mulai.


***

__ADS_1


Hari semangkin mendekati tengah malam. Semua tamu sudah meninggalkan aula. Oma ken pulang bersama papa Ken. Nenek Rava dan keluarganya juga sudah meninggalkan hotel.


Ken dan Rava masih di hotel, mereka sedang berada di kamar utama hotel tersebut. Ruang tertinggi hotel yang tepatnya berada di lantai 15.


Ken sudah membersihkan dirinya, kini dia sudah mengenakan piama berwarna biru. Sementara Rava sudah ketiduran karna menunggu Ken keluar dari kamar mandi.


'Ya ampun, ni anak udah tidur aja.' Gerutu Ken dalam Hati.


"Va... bangun. Kamu gak mandi? Rava.." Panggil Ken sambil menggoyang-goyang badan Rava.


"Kamu mandi apa nguras air si Ken. Lama banget" gerutu Rava sambil mengusap matanya.


"Bangun tidur udah ngomel ngomel aja. Mandi sana." Omel Ken pada Rava. Rava langsung bangkit ke kamar mandi.


Setelah lima belas menit, Rava keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan balutan handuk. Dia menggelengkan kepala melihat gaya tidur Ken. Setelah memakai kaus putih dan celana pendek. Rava mendekati Ken yang tengah tertidur pulas. Dia membenarkan kaki Ken yang malang melintang, lalu menyelimutinya.


"Selamat istirahat istri ku." Bisik Rava yang kini berbaring di samping Ken lalu mengecup kening Ken.


Rava masih memandangi wajah polos Ken yang tidak menggunakan make up. Rava merasa curiga melihat wajah istrinya. Diam - diam Rava memikirkan sebuah rencana.


"ahhhaahahaaa.." tawa Ken seketika sambil menggeliat seperti cacing kepanasan. Bagaimana tidak, dia sedang menahan geli karena Rava menggelitiki telapak kakinya. Tentu saja hal itu membuat Rava tertawa, karena rencananya berhasil.


"Jahat banget sih." omel Ken pada suaminya.


"Suruh siapa kamu pura-pura tidur. Acting kamu itu masih kaleng-kaleng." Ejek Rava.


"Aku tu capek, Pengen istirahat kali bukan pura-pura tidur." elak Ken yang sebenarnya malu karena ketahuan bohong.


Pasalnya sedari tadi Ken mencari ide untuk bisa melewatkan malam pertama mereka. Dia mondar mandir mempertimbangkan beberapa ide. Dan akhirnya pilihannya jatuh pada pura-pura tidur.

__ADS_1


__ADS_2