
Sudah jam 7 malam, Papa Ken dan yang lain masih duduk menunggu Ken. Akhirnya Ken sadar dan perlahan membuka matanya. Wajah papa Ken berubah senang melihat anaknya yang sudah sadar begitu juga dengan yang lain ikut mendekati ranjang Ken.
"Kok rame banget, ada apa sih?" Tanya Ken bingung melihat orang-orang mengerubunginya. Dia belum sadar kalau sedang berada di rumah sakit.
"Kamu tadi pingsan di makam mamamu, kata dokter kamu kecapean." Jelas bunda Tama. Ken hanya mengangguk paham.
"Ehh.. Rava di sini juga?" Sapa Ken yang melihat Rava. Rava tersenyum melihatnya.
"Kamu gak tau kan dia dateng-dateng mukanya udah kayak abis liat hantu. Padahal hantunya masih idup disini." Jawab Andre sambil nyindir Ken.
"Kamu hantunya?" Ejek Ken lalu memiringkan bibirnya.
Karena Ken sudah sadar, bunda Tama dan om Putra pamit pulang, begitu juga dengan papa Ken yang diminta pulang oleh putrinya. Ken tahu papanya paslti lelah karena melakukan perjalanan jauh.
"Pah... Papa pulang juga ya. Papa pasti capek." pinta Ken pada papanya.
"Enggak nak, papa bisa jaga kamu disini." tolak papanya yang berusaha tetap tegap di depan putrinya.
"Nanti papa sakit pah. Lagian ada Rava sama An yang jagain Ken." bujuk Ken. "Ow iya, Kemaren Ken udan manggil pembantu untuk bersihin rumah lama kita, papa pulang kesana ya." lanjut Ken. Setelah mama Ken meninggal, mereka pindah ke luar kota. Tetapi mereka tidak menjual rumah lama mereka, Karena di rumah itu banyak kenangan yang tidak mungkin mereka kubur.
Diruangan hanya tinggal Ken, Rava dan Andre yang diminta bunda untuk menjaga Ken. Ken bangun dari tidurnya lalu merubah posisinya menjadi duduk. Dia melihat Rava dan Andre yang asik dengan HPnya, wajahnya sedikit kesal. Apa lagi Andre yang senyum-senyum sendiri melihat layar HPnya.
"Aku laper...." Rengek Ken sambil mengusap perutnya.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Rava dengan lembut yang langsung mendekati ranjang Ken.
"Apa aja deh..." jawab Ken lesu dan manja.
Rava langsung keluar meninggalkan Ken dan Andre. Melihat kepergian Rava, Andre langsung melihat Ken dengan tatapan curiga.
"Dia siapa mu? Kok perhatian banget?" Selidik Andre.
"Dia tu my best...best...best...best friend forever." Jawab Ken percaya diri.
__ADS_1
"Mana ada persahabatan antara cowok sama cewek, pasti di tengah-tengahnya ada sesuatu." Jelas Andre.
"Ada, siapa bilang gak ada? Nih... buktinnya aku sama dia." Bela Ken.
Tak berapa lama, Rava kembali dengan membawa 3 kantong plastik. Dia membawa bubur ayam untuk Ken dan 2 ayam bakar untuk dirinya dan Andre.
"Thanks bro!" ucap Andre sambil menerima kantong plastik dari Rava.
"Makasi Va." ucap Ken. Rava tersenyum membalas ucapan mereka berdua.
Mereka menikmati makanan yang ada di depannya dengan hikmat. Ken duduk di atas tempat tidurnya sementara Andre dan Rava duduk di sofa.
"Va.... Nyincip dong!" pinta Ken sambil meringis. Dia selera melihat Andre dan Rava makan ayam bakar. Rava pun membawa makanannya menuju ranjang Ken dan duduk di kursi samping Ken. Rava langsung menyuapkan ke mulut Ken dengan sendok yang dia gunakan. Ken pun menerima suapan dari Rava dengan senang hati. Andre yang menyaksikan kelakuan Ken langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Manja banget sih.." ucap Andre. Ken melihat Andre lalu sedikit menjulurkan lidahnya.
Mereka kembali menghabiskan makananya. Sesekali Rava memberikan suapan kepada Ken dan Ken tidak menolaknya.
Di belakang pintu terdengar suara ketukan, lalu pintu terbuka. Ken, Rava dan Andre melihat ke arah pintu. Seorang wanita muda masuk dengan menenteng parsel berisi buah di tangannya. Ken masih memandanginya dengan penuh tanda tanya. Andre langsung bangkit menghampiri wanita tersebut dan meraih parsel di tangannya lalu meletakkan ke atas meja.
"Hallo.... Ken." ucap Ken memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan. Sasya langsung membalas uluran tangan Ken.
"Pacarmu An?" tanya Ken penuh selidik. Andre hanya menjawab dengan senyuman.
"Makasi ya udah repot-repot jenguk aku. Duduk... duduk... Anggep aja rumah sendiri." sapa Ken dengan bersahabat mempersilahkan Sasya untuk duduk di sofa.
"Enggak repot kok. Tadi Andre bilang lagi nunggu adiknya yang lagi sakit. Jadi aku nyusulin kemari." jelas Sasya yang duduk di samping Andre. Ken yang mendengar jawaban Sasya langsung ketawa terpaksa.
"Adik dengkulmu, jelas-jelas aku yang lebih tua." ucap Ken sambil melirik Andre. Andre pun langsung membuang pandangannya melihat Sasya.
***
Di sebuah kamar yang cukup besar, bunda Tama dan om Putra sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur. Bunda Tama yang belum bisa memejamkan matanya terus memandangi langit-langit kamar mereka.
__ADS_1
"Paahh..." panggil bunda Tama pada suaminya.
"Hemmm...." jawab om Putra dengan mata terpejam.
"Gimana kalau kita jodohin Andre sama Ken. Papa setuju gak?" tanya bunda Tama.
"Ma... Jangan maksa mereka. Biarkan mereka memilih pasangan mereka masing-masing." ucap suaminya.
"Ya kita coba dulu pah, siapa tau jodoh. Lagian bunda liat mereka cocok kok." bunda mulai meyakinkan suaminya.
"Ya kalau jodoh, kalau enggak? Hubungan kita dan Ken akan renggang. Apa kamu sudah siap bila harus kehilangan Ken?" Jelas suaminya. Mendengar jawaban suaminya, membuat bunda Tama tidak puas, dia langsung memiringkan badannya membelakangi suaminya.
Bunda Tama memang sangat menyayangi Ken seperti anaknya sendiri. Makanya dia berinisiatif untuk menjodohkannya dengan Andre, agar hubungan mereka lebih erat lagi. Bahkan bunda Tama sudah kepikiran menjodohkan mereka saat mereka masih kecil. Tapi jika nantinya perjodohan ini gagal, pasti akan membuat dia jauh dari Ken. Bunda pun memikirkan kembali niatnya.
***
Di rumah sakit, Ken sudah tertidur dengan lelap setelah mengisi perutnya. Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, Andre meminta Rava untuk menjaga Ken sebentar karena dia akan mengantar Sasya pulang.
"Rava, aku titip Ken bentar ya. Aku mau nganter Sasya." pinta Andre.
"Iya.. Kamu kalo mau pulang juga gak papa. Biar aku yang jaga Ken." jawab Rava. Andre pun menganggukkan kepalanya karena sebenarnya besok pagi dia ada meeting yang tidak bisa di batalkan.
Andre dan Sasya langsung keluar meninggalkan Ken dan Rava. Sementara Rava masih duduk di samping Ken memandangi wajahnya yang tak ada beban sedikitpun. Di genggamnya tangan Ken dengan lembut, ada raut kesedihan dan penyesalan tergambar diwajahnya.
flashback on
Rava diikuti oleh sekretaarisnya Nadia berjalan ke ruang rapat. Tiba notif HPnya berbunyi, dia langsung membuka pesan yang dia terima, dan langkahnya tiba-tiba terhenti.
"Tunda rapat hari ini." ucap Rava yang langsung lari mejuju ruanggannya. Sekretaris Nadia hanya diam mendengar perintah atasannya, dia kaget tapi mencoba menutupi kekagetannya.
Rava segera melepas jasnya dan meraih kunci mobil yang terletak di atas meja kerjanya. Dia berlarian menuju lift. Setelah sampai di loby dia berlari keluar gedung menuju mobilnya. Para karyawan yang melihatnya dipenuhi dengan tanda tanya. Rava mengendarai mobilnya dengan sangat laju menuju tempat yang telah diinformasikan lewat pesan kepadanya.
'Nona Ken pingsan di pemakaman. Sekarang sedang di rawat di RS Bersama, Ruang XX no.7.' Agen Z
__ADS_1
flashback off
'Bagaimana lagi aku harus menjagamu? Padahal aku sudah membersihkan kerikil-kerikil yang menghalangi jalanmu. Apakah aku harus menikahimu, agar aku bisa membersihkan sedihmu juga?' gumam Rava dalam hatinya. Rava lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ken, lalu memberikan kecupan di kening Ken.