Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Teman Baru


__ADS_3

Akhir pekan tanpa melakukan sesuatu memanglah sangat membosankan. Apalagi setelah enam hari bekerja. Maka dari itu banyak orang yang memanfaatkan weekend dengan berjalan-jalan, piknik dan lain sebagainya untuk merefres kembali fikiran mereka.


Di weekend ini Ken memutuskan untuk jalan-jalan ke mall. Walaupun dia tidak ada kerjaan, tapi boleh la dia ikutan menikmati yang namanya weekend. Dia ingin membeli beberpa barang yang dia butuhkan.


"Pahh... Ken keluar bentar ya." Pamit Ken sambil menyalami papanya.


"Pergi sama Rava?" Tanya papa Ken.


"Enggak pah, Ken sendiri. Pah Ken pinjem mobil ya." Ucap Ken lalu berlari kecil meninggalkan papanya yang sedang duduk di taman.


***


Ken memarkirkan mobilnya di basemen mall, lalu dia berjalan memasuki sebuah mall terbesar di Jakarta. Ken berjalan menelusuri mall tersebut. Lalu menaiki lift untuk ke lantai 2. Ken melihat banyak baju-baju tergantung di salah satu sisi dengan tulisan 'sale', matanya langsung berubah menjadi hujau. Dia membeli beberapa potong baju kaus oblong dan blus untuk sehari-hari karena dia tidak membawa banyak baju saat datang ke kota ini. Walaupun Ken bukan orang yang kekurangan uang, namun saat melihat discoun selalu membuatnya berbinar binar.


Mall cukup ramai karena sedang weekend, ada beberapa band lokal juga yang diundang untuk merayakan pameran produk baru seperti mobil. Biasanya juga banyak stand untuk barang-barang yang di diskon. Sehingga membuat daya tarik sendiri bagi pengunjung khususnya kaum hawa.


Ken terus berjalan hingga langkahnya di hentikan oleh sebuah gaun yang terpajang di manekin. 'Cantik banget.' Batin Ken sambil memandangi gaun  tak berlengan yang panjangnya selutut tersebut. 'Pasti harganya wow banget nih!' Gumamnya.


"Saya bisa kasih gaun ke kamu kalau kamu mau." Ucap seorang wanita dari belakangnya. Ken langsung membalikkan badannya, terlihat seorang wanita seksi memakai baju sedikit pas badan hingga menampakkan bentuk tubuhnya yang waw sedang berdiri satu meter di belakangnya.


"Saya akan berikan gaun itu untuk kamu." Ulang wanita itu.


"Terima kasih, saya memang suka melihatnya tapi saya tidak berniat memilikinya." Ucap Ken sopan.


"Tidak berniat memiliki atau tidak mampu memiliki?" Tanya wanita itu mengejek Ken.


'Sialan ni lampir, mulutnya lebar amat yak.' Batin Ken.


"Maaf nona, benda apa yang tidak bisa saya miliki? Semua bisa saya miliki jika saya sangat menginginkannya." Ucap Ken lalu meninggalkan wanita itu.


'Dasar wanita miskin yang sombong. Bahkan dia tidak punya apa-apa untuk di sombongkan.' Ejek wanita tersebut.


"Hey... Tunggu." teriak wanita seksi itu membuat Ken menoleh.


"Berani sekali kamu tidak sopan dengan saya. Kamu tidak tahu siapa saya?." ucap nya lagi.


Ken berjalan mendekatinya beberapa langkah.


"Kakak cantik, kamu kenal saya?" tanya Ken dengan ramah. Wanita itu hanya diam.

__ADS_1


"Kalau kakak tidak kenal saya. Kenapa saya harus kenal kakak?" ucap Ken dengan senyum dipaksakan.


Tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri mereka.


"Ada apa Jingga?" tanya wanita yang baru saja datang. Ken langsung melihat nya dan ternyata adalah tante Hera.


"Ini loh tante, dia sombong banget ngomong sama aku. Kok bisa sih Rava tunangan sama dia." ucap wanita itu yang ternyata namanya Jingga dengan penuh rengekan seakan memprofokasi tante Hera. Jingga adalah salah satu sosialita muda yang cukup terkenal di kota ini.


"Hallo Tante Hera." sapa Ken dengan sedikit tersenyum.


"Ngapain kamu ngomong sama jelata sayang. Ayo kita pergi." ucap tante Hera menarik tangan Jingga.


"TANTE... Tante awaaas ada nenek lampiiirrrr..." Teriak Ken dengan penuh kepanikan. Tante Hera pun refleks berlari kearah Ken dan menjauhi Jingga dengan ekspresi kaget dan takut.


Melihat kelakuan tante Hera, Ken langsung tertawa terbahak-bahak. Dia langsung berjalan meninggalkan kedua wanita tersebut.


Tante Hera yang merasa kesal telah berhasil di kerjain Ken. Dia mengepalkan tangannya karena geram.


***


Sebelum pulang kerumah, Ken mampir kesebuah cafe yang tak jauh dari mall. Dia masuk kedalam cafe yang agak ramai, Ken meluaskan pandangannya mencari meja yang kosong.


"Sasya!" Ucap Ken lalu menghampiri Sasya dan mereka pun cipika-cipiki. Sejak dari rumah sakit, Ken dan Sasya menjadi lebih akrab. Ditambah lagi Andre mengenalkannya sebagai adiknya, Sasya jadi ingin mengakrabkan diri.


"Eh.. Kenalin ini Nadia." Ucap Sasya memperkenalkan wanita yang ada di sampingnya.


"Sekretaris Nadia ya.. Aku Ken." Ken mengulurkan tangannya.


"Panggil Nadia aja." Ucap Nadia ramah sambil menerima salam Ken.


Mereka pun duduk bersama lalu memesan makanan. Walaupun baru bertemu, mereka sudah terlihat akrab. Apa lagi memang sifat Ken yang mudah bergaul. Mereka berbincang dengan santai dan sesekali ada tawa karena guyonan yang mereka buat.


"Makasi ya karena ada kalian aku jadi gak sendiri." Ucap Ken kepada dua temannya.


"Santai aja Ken kita kan temen." Ucap Nadia sambil mengusap bahu Ken. "Ngomong-ngomong selamet ya atas pertunangan Kamu. Kamu beruntung Rava baik anaknya." Lanjutnya.


"Makasih. Kamu udah lama ya jadi sekretarisnya?" Tanya Ken balik.


"Udah hampir 5 tahun la." Jawab Nadia.

__ADS_1


"Nadia ini temem SMAnya Rava, Ken." Ucap Sasya.


"Ow ya... Kalian SMA dimana?" Tanya Ken antusias.


"Di SMAN1 " jawan Nadia.


"Kalo kamu Sa?" Tanya Ken ke Sasya.


"Aku di SMK Harapan." Jawab Sasya, Ken mengangguk.


"Aku pernah juga sekolah disini tapi pas kelas dua aku pindah ke luar kota." Ucap Ken.


"Di SMA mana Ken." tanya Sasya.


"Di SMA Nusa." Jawab Ken.


"Waahhh sama-sama Andre dong. Itu kan sekolah elit. Selain Kaya, anak-anak disana juga pinter-pinter." Ucap Sasya penuh semangat.


"Biasa aja Sa, aku gak kaya, otakku juga peres." Ucap Ken merendah. Sasya dan Nadia tertawa mendengar jawaban Ken.


"Aku cemburu deh sama kamu Ken." Ucap Sasya sambil sedikit cemberut. Ken dan Nadia pun melihatnya.


"Cemburu? Sama aku? Apa yang harus di cemburuin?" tanya Keb heran.


"Iya kamu selalu ada di deket Andre, bahkan dari kecil kamu sudah akrab banget sama Andre. Kenapa sih aku gak di pertemukan sama Andre dari kecil juga." ucap Sasya dengan rengekan yang dia buat-buat.


Sasya memang tipe wanita yang suka blak blakan dalam mengungkapkan perasaannya. Hal itu membuat Ken dan Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sa, itu kan udah takdir." ucap Nadia.


"Bener! Aku tu sama An udah kayak saudara sedarah, Sa. Gak mungkin lah ada hubungan cinta - cintaan kayak kalian. Lagian kalo kamu ketemunya sejak kecil, kamu juga di anggep adik sama An. Emang kamu mau?" Jelas Ken. Sasya menggelengkan kepalanya dengan cepet. Akhirnya mereka bertiga tertawa bersama-sama.


Tak terasa mereka sudah berada di cafe selama 3 jam. Matahari sudah menggeser pososonya diikuti oleh jarum-jarum di jam dinding yang sekarang menunjukkan pukul 5 sore.  Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. 


"Kapan-kapan kita kumpul lagi ya." Ucap Ken pada kedua teman barunya. Lalu ken memeluk Sasya dan Nadia secara bergantian.


"Pasti dong." Ucap Sasya membalas pelukan Ken.


"Kamu hati-hati ya Ken." Ucap Nadia.

__ADS_1


"Kalian juga ya." Ucap Ken sambil masuk ke dalam mobil. Lalu bereka berpisah.


__ADS_2