
Hari hari berlalu, ternyata cukup sulit bagi Rava. Setelah kepulangannya dari kota K, sudah hampir seminggu Rava mengurung dirinya dirumah. Nenek sangat kawatir melihat tingkah cucunya tersebut. Dia sudah menyuruh Hera untuk membujuk Rava, namun sama saja, tidak membuahkan hasil.
"Bagaimana Hera, apa kamu sudah mendapatkan informasi keberadaan Ken?" Tanya nenek. Selama ini nenek menyuruh tante Hera mencari Ken dengan bantuan orang-orang kepercayaan om Haris.
"Belum mi. Kepergian Ken seperti di telan bumi. Bahkan orang orang kita tidak bisa nemuin Ken." Jawab tante Hera. Nenek langsung membuang nafasnya dengan keras. Beliau semangkin kawatir dengan cucunya.
"Mi apa gak sebaiknya kita jodohin Rava saja. Siapa tahu dengan kehadiran wanita lain, Rava bisa move on dari Ken." Bujuk tante Hera. Dia ingin menjodohkan Rava dengan Jingga, karena selama ini tante sudah kenal dengan Jingga.
"Kamu benar Her. Kebetulan kemarin teman nenek menelvon ingin menjodohkan cucunya dengan Rava." Jawab nenek dengan penuh keyakinan.
"Mi, apa tidak sebaiknya kita jodohkan Rava dengan Jingga saja. Kita kan sudah cukup mengenal Jingga." Bujuk tante Hera.
"Mami tidak cukup percaya dengan Jingga." Jawab nenek. Karena beliau merasa Rava tidak cocok dengan Jingga. Mendengar jawaban maminya, tante Hera tidak bisa membantah lagi. Karena semua akan sia-sia.
"Mau kemana Rav?" Tanya nenek yang tiba-tiba melihat cucunya keluar dari kamar menuruni tangga. Rava langsung berjalan mendekati neneknya.
"Mau cari angin nek." Jawab Rava dengan wajah datar.
"Sini, nenek mau bicara sebentar." Pinta nenek, dan Rava langsung duduk di samping neneknya.
"Ada apa nek." Tanya Rava sedikit penasaran.
"Bagaimana jika kamu menikah dengan cucu teman nenek. Dia anaknya baik dan ramah. Siapa tahu kamu bisa melupakan Ken." Bujuk nenek.
'Melupakan Ken? gimana cara nya aku bisa lupa, setelah apa yang kubuat untuk dia.' batin Rava.
"Nek, nenek gak perlu cari wanita lain, nenek cukup carikan Ken untuk Rava." Tolak Rava dengan lembut.
"Tapi kita sudah mencari Ken dan tidak juga menemukannya. Nenek gak sanggup lihat kamu seperti ini terus." Bujuk nenek. Wajahnya terlihat muram melihat cucunya yang kehilangan semangat hidup.
"Rav, ini semua demi kebaikan kamu." Bujuk nenek.
"Jika kamu tidak mau dengan cucunya temen mami, bagaimana dengan Jingga? Dia udah naksir kamu sejak lama." Sambar tante Hera dengan semangat. Entah racun apa yang di beri Jingga hingga membuat tante Hera suka padanya.
"Ya sudah terserah nenek saja." Jawab Rava pasrah. Nenek Rava tersenyum mendengar jawaban cucunya. Namun tante Hera hanya bisa pasrah karena dia tidak bisa memaksa ponakan dan maminya.
Setelah perbincangan tersebut Rava keluar meninggalkan nenek dan tantenya. Rava memutuskan untuk berenang di kolam renang.
'Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk kembali' batin Rava.
'Jika saja aku dipertemukan lagi denganmu, aku gak akan buat kamu pergi lagi seperti ini.' Gumamnya pelan.
***
* Kediaman oma Ken (Paris)
"Hallo Audi. Apa kabar?" Sapa suara dari balik telvon.
__ADS_1
"Hey Yohan. Aku sehat. Bagaimana kabarmu?" Tanya wanita tua tersebut.
"Yah aku sehat. Bagaimana rencana perjodohan cucu kita?" Tanya nenek Rava.
"Yah tentu jadi dong. Tapi cucuku belum setuju. Aku akan coba membujuknya lagi. Bagaimana dengan cucumu?" Tanya oma Audi.
"Ya dia setuju. Dia anak yang penurut." Jawab nenek Rava dengan bangga.
"Wah dia adalah cucu menantu idaman. Aurel pasti bahagia bersamanya." Jawab Oma Audi dengan senyum mengembang dibibirnya.
"Semoga saja mereka berjodoh." Harap nenek Rava.
"Yohan bagaimana kalau kamu bawa cucumu kemari, supaya kita bisa mempertemukan cucu kita." Bujuk oma Audi.
"Tentu aku akan mengaturnya dengan cucuku." Jawab nenek Rava dengan senang hati.
"Aku menunggumu." Balas oma Audi.
Sambungan telvon pun terputus. Raut bahagia tergambar di wajah Oma Ken.
"Oma kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Ken yang memperhatikan omanya dengan curiga.
"Kita akan kedatangan tamu." Jawab oma penuh misterius.
"Siapa sih oma, cerita dong sama Aurel." Bujuk Ken penasaran. Ken yang tadinya ingin kekamar langsung membalikkan badannya mendekati Oma dan duduk di sampingnya.
"Hehhh.. Oma becanda ya. Hahaha bikin kaget aja" ucap Ken lalu tertawa karena tidak percaya.
"Oma serius sayang." Jawab oma dengan wajah serius.
Ken meringis sambil memalingkan wajahnya perlahan. 'Jadi oma beneran mau jodohin aku? Ya ampun yang bener aja.' Batin Ken. Namun dia masih merasa tidak percaya.
"Oma pokoknya Aurel gak mau di jodoh jodohin. Ya kalo kami beneran jodoh, kalo enggak gimana? Emang oma mau liat cucu oma yang paling cantik ini jadi janda?" Rengek Ken dengan sejuta alasannya.
"Aurel, oma sudah tua. Oma pengen lihat kamu menikah. Kalau kamu tidak mau oma jodohkan, ya sudah kamu kembali dengan mantan tunangan kamu. Lalu nikah sama dia." Bujuk oma setengah memaksa.
Mendengar permintaan omanya yang lebih tidak masuk akal itu membuat Ken membuang nafasnya dengan kasar. Entah apa lagi alasan yang bisa diberikan kepada omanya.
'Kalo aja oma tau kisah putusnya pertunanganku. Oma gak mungkin bilang gitu.' Batin Ken.
"Ya udah deh terserah oma aja." Jawab Ken lesu.
"Kok kamu jawabnya terpaksa gitu." Protes oma.
'Ya ampun oma, oma maksa loh ini, gimana aku gak jawabnya terpaksa.' batin Ken. Seketika dia memonyongkan bibirnya.
"Oma makasi banyak ya udah mau jodohin Aurel. Aurel seneng banget oma." Jawab Ken dengan akting tingkat dewanya.
__ADS_1
"Lebai kamu." ejek oma.
"Idih oma, tau aja bahasa lebai." canda Ken sambil tertawa mendengar kegaulan omanya.
'Dari pada kembali dengan Rava yang jelas-jelas sudah menghinaku, lebih baik aku pasrah aja deh di jodohin oma saja.' Gumam Ken dalam hati.
'Walaupun tidak ada jaminan akan langgeng.' Batin Ken yang pasrah.
Ken melangkahkan kakinya kembali ke kamar, niatnya untuk berjalan-jalan keluar rumah pudar saat mendengar kabar dari neneknya.
Dia meraih Hp yang ada di laci nakas dan mengaktifkan kembali Hpnya. Setelah melancarkan rencananya pada Rava, Ken langsung mematikan Hpnya. Bahkan dia memblokir semua informasi keberadaannya.
'Udah seminggu, kangen banget sama Vely.' Batin Ken.
"Hallo Ve." Sapa Ken dari panggilan telvonnya.
"KEENNNNNN... Kamu kemana aja? Nomer kamu kok gak aktif terus? Kamu dimana sekarang?' Teriak Vely dengan menghujani pertanyaan-pertanyaan pada Ken.
"Woy santai dong nanyaknya. Maen borongan aja." Jawab Ken santai.
"Iya iya cepetan jawab." Pinta Vely yang sudah tidak sabar dengan jawaban Ken.
"Aku di Paris sekarang. Hpku sengaja ku matikan, aku mau jalan jalan menghibur diri." Jawab Ken.
"Ken, kamu lagi gak ada masalah kan?" Tanya Vely penuh selidik. Dia merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu.
"Eh maymunah.. kamu pikir aku sumber masalah apa." Elak Ken. Dia menahan diri untuk tidak menceritakan kisah pedihnya.
"Ken, aku udah kenal kamu lama. Ibarat buku ni ya, aku tu udah tau jumlah lembarnya, isinya ples typonya. Jadi udah lah gak udah nutup-nutupin lagi." Jelas Vely panjang lebar.
"Lebay bingitssss buk." Jawab Ken.
"Ken tau gak, Rava nyariin kamu kesini." Ucap Vely. Nada bicaranya menjadi serius dan lembut.
"Dia kayak orang stres pas tau kamu gak ada." Lanjut Vely.
"Ha ha ngapain dia kesana? Aku cuma mau ngasih kejutan dia loh." Jelas Ken yang berusaha tertawa.
"Ken dia udah cerita semua sama aku. Dia nyesel karena udah salah paham." Bujuk Vely.
"Ve, kalo kamu ngerti perasaanku pasti kamu dukung aku." Ucap Ken. Wajahnya berubah menjadi muram.
"Iya aku selalu dukung kamu. Tapi sebagai sahabat, aku cuma mau ngasih saran. Apa gak sebaiknya kamu beri dia kesempatan. Yahhh.. Setidaknya biarkan dia minta maaf sama kamu." Bujuknya lagi.
"Enggak Ve, biarlah semua berlalu. Toh dia juga yang minta aku gak muncul lagi didepannya." jawab Ken.
'Seperti yang dia minta, aku gak akan pernah muncul lagi.' batin Ken.
__ADS_1