
Pagi ini dokter datang memeriksa keadaan Ken, karena keadaannya sudah membaik, ken di perbolehkan untuk pulang. Ken pulang dengan di antar oleh Rava. Sebelum ke rumah lama, Ken meminta Rava mengantarkannya ke rumah bunda Tama untuk mengambil kopernya.
* Rumah Bunda Tama
Ken turun dari dalam mobil bersama Rava. Rava langsung memencet bel yang terletak di samping pintu. Tidak menunggu lama, seorang pelayan membukakan pintu.
"Silakan masuk non, mas.. " sapa bik Nur. Ken langsung masuk diikuti dengan Rava.
"Bunda ada bik?" tanya Ken.
"Nyonya lagi keluar non." jawab bik Nur.
"Va,,, tunggu bentar ya, aku beresin baju-baju aku. Kamu duduk aja." pinta Ken langsung berjalan menaiki tangga. Bik Nur juga meninggalkanya lalu berjalan ke dapur.
"Diminum mas." bik Nur meletakkan jus jeruk dan potongan buah di depan Rava.
"Terima Kasih bik" ucap Rava sambil tersenyum tipis.
Didalam kamar Ken langsung bergegas mandi, karena badannya cukup gerah selama di rumah sakit. Dia mengenakan kaus hitam dan celana jeans berwarna putih. Setelah memoles wajahnya dengan riasan tipis, Ken langsung keluar menarik kopernya. Rava menghampiri Ken lalu menapai koper tersebut dari tangan Ken dan memasukkan ke bagasi mobil.
"Bik, Ken pamit dulu ya... Nanti kalo bunda udah pulang tolong sampein, Ken pulang ke rumah lama." Ucap Ken kepada bik Nur yang menghampirinya.
"Iya non, nanti bibi sampekkan. Non Ken hati-hati di jalan." Balas bik Nur.
"Makasi bik." Ken meningalkan bik Nur dan segera masuk ke mobil.
* Rumah Ken
Ditaman belakang rumah Ken, papa Ken duduk sambil menyeduh tehnya ditemani oleh seorang lelaki paru baya. Mereka berbincang-bincang bermacam hal, sesekali mereka tertawa dengan lelucon yang mereka buat sendiri. Tiba-tiba suara telvon papa Ken berbunyi menghentikan obrolan mereka.
__ADS_1
"Hallo pah... Ken udah keluar dari rumah sakit, sekarang lagi jalan kerumah." Ucap Ken dari balik telvon.
"Iya nak.. Papa tunggu kamu ya." Jawab papa Ken.
"Oke pah.. byeee.." lalu telvon terputus.
Didapur, beberapa asisten rumah tangga sedang menyiapkan makan siang. Ada beberapa menu yang mereka siapkan untuk menyambut kepulangan Ken dari rumah sakit. Sebagian hidangan sudah dihidangkan di meja makan dengan rapi.
***
Didepan rumah, terdengar suara bel berbunyi, salah satu pelayan berlari ke arah pintu lalu membukakan pintu.
"Mbak Ken ya? Silahkan masuk mbak." Ucap pelayan tersebut. Ken pun masuk dengan diikuti oleh Rava yang mengangkat Kopernya.
"Papa mana bik?" Tanya Ken.
"Va sini koper ku." Ucap Ken yang mengambil koper dari tangan Ken. "Duduk Va, anggep aja rumah sendiri." Lanjut Ken.
Rava masih asik memandangi foto Ken waktu kecil yang tergantung rapi di ruang tamu. Matanya berpindah dari satu foto ke foto yang lain. Seketika bibirnya membentuk lengkungan saat melihat foto-foto Ken. Mata Rava terus menelusuri foto tersebut dan matanya tertuju pada satu foto yang dia kenal. Bahkan mungkin sangat dia kenal.
"Rava..." panggil Ken mengagetkannya.
"Hemm... Kenapa?" Tanya Rava.
"Kok kenapa sih, ayo masuk." Ajak Ken untuk menemui papanya. Rava pun mengikuti langkah Ken menuju taman belakang rumah. Sesampainya dimeja makan, Ken kaget melihat begitu banyak hidangan di meja makan.
"Sudah sampai nak.." sapa papa sedikit mengagetkan Ken
"Papa..." Ken langsung memeluk papanya.
__ADS_1
"Nak, mari papa kenalkan sama sahabat papa." Ucap papa Ken sambil melepaskan pelukan anaknya dan memperkenalkan pada sahabatnya. Sahabat papa Ken langsung muncul dari belakang papa berjalan mendekati Ken.
"Papa...?" Ucap Rava terkejut melihat papanya. Papa Rava tersenyum melihat anaknya. Ken yang mendengar ucapan Rava langsung melihat ke arah Rava dan papanya secara bergantian. 'Papa sama anak sama aja, sama sama ganteng' batin Ken. Ken langsung menyalami papa Rava. Begitu juga dengan Rava yang ikut menyalami papanya dan om Romi
"Ayo duduk duduk, kita makan siang sama sama." Pinta papa Ken.
Mereka langsung duduk didepan meja makan. Ken duduk bersebelahan dengan Rava lalu diseberang mereka, papa Ken bersebelahan dengan om Haris. Suasana makan siang mereka cukup hening dan tegang bagi Rava dan Ken. Hanya ada suara sendok yang sesekali menendang piring.
Setelah selesai makan papa Ken mengajak semuanya berkumpul di ruang tamu. Kali ini Ken memilih duduk di sebelah papanya dan Rava duduk bersebelahan dengan papanya.
"Jadi sebenarnya kedatangan om kemari untuk membicarakan tentang perjodohan kalian yang sempat kami bahas dulu." ucap om Haris serius. "Setelah melihat keakraban kalian selama beberapa tahun terakhir, om kira kalian memang cocok untuk disatukan dalam ikatan pernikahan." Lanjutnya. "Rava ini memang lambat kalau urusan percintaan, jadi Om sendiri yang langsung meminta papamu untuk menjodohkan kalian." Tambah om Haris. Jantung Ken serasa menggema saat mendengar perkataan om Haris. Begitu pula dengan Rava, dia tidak menyangka papanya akan mengambil langkah mendahuluinya. 'Apa papa selama ini memata matiku?' tanya Rava dalam hati.
"Jadi maksud papa, temen papa yang dari Jerman itu om Haris pa?" tanya Len penasaran.
"Iya, Setelah papa mengetahui nak Rava selalu menjaga kamu, menjaga saat kamu sakit, papa percaya dan yakin bahwa nak Rava bisa menjaga kamu saat nanti papa gak disamping mu lagi." sambung papa Ken. Mendengar perkataan papanya, mata Ken berkaca-kaca.
"Pah... kok ngomong gitu si pa.." ucap Ken lalu merangkul tangan papanya.
"Nak Rava, bagaimana perasaanmu kepada anak saya?" Tanya papa Ken kepada Rava.
Rava langsung menatap Ken, untuk memastikan bagaimana perasaannya.
"Saya sangat menyayangi Ken om, saya akan menjaganya seperti yang om harapkan." ucap Rava dengan tegas dan penuh dengan keyakinan. Papa Ken dan Papa Rava tersenyum mendengar jawaban Rava. Tapi tidak dengan Ken, dia masih memandangi wajah Rava dengan lekat, perasaannya campur aduk antara percaya dan tidak percaya. Namun mengingat segala perlakuan Rava selama ini, membuatnya sedikit yakin kalau Rava menyimpan perasaan kepadanya.
"Bagaimana dengan nak Ken?" tanya om Haris kepada Ken.
Ken menundukkan kepalanya. Banyak hal yang dia pertimbangkan. Bagaimana dia harus menata ulang hatinya. Walaupun selama ini Rava bersikap manis seperti kakak, pacar, sahabat bahkan orang tua untuknya, tapi Ken tidak pernah terfikir tentang suami. 'Apa ini, sahabatku jadi suamiku? mirip FTV bangen si jalan hidup ku.' gumam Ken dalam hati. Ken mengangkat kepalanya melihat sang papa yang ada di sebelahnya lalu berpindah melihat Rava dengan wajahnya yang penuh kehangatan lalu ken melihat ke arah om Haris.
"Ya .. saya menerima perjodohan ini." ucap Kem dengan senyum tipis di bibirnya. Om Haris tersenyum mendengar jawaban putri sahabatnya. Begitu pula Rava yang sedari tadi gugup menunggu jawaban Ken, wajahnya langsung lega.
__ADS_1