
"Satu hal yang selalu ku ingat sampai sekarang. Sebelum ibu itu pergi. Dia bilang, 'Tolong jaga anak saya sampai saya datang.' Rava berhenti sejenak.
"Setelah ibu itu pergi, aku datang kesini
untuk mencari anaknya. Aku bingung mau mulai nyari dari mana waktu itu. Aku hampir kelilingin taman ini cuma buat ngasih cake ke orang yang ga aku kenal. Udah lama aku cari kesana dan kemari tapi aku ga nemu. Alu hampir pasrah tapi muka ibi itu ngingetin terus. Kerna capek akhirnya aku duduk di bangku itu. Walaupun duduk tapi mataku tetep aja liat kesana kemari. Dan akhirnya aku lihat anak itu duduk di bangku ini. Wajahnya keliatan sedih mungkin karena nunggu seseorang yang gak dateng-dateng." Rava melihat wajah Ken dalam dalam, Ken masih tidak bergeming. Namun fikirannya seakan kembali ke masa lalu saat dia duduk menunggu mamanya yang tak kunjung datang.
"Aku ingin menghampiri anak itu, tapi aku ragu. Jadi aku diam-diam perhatiin anak itu dari bangku itu." Ucap Rava sambil menunjuk bangku di samping kanan mereka yang jaraknya sekitar 4 meter.
"Setelah beberapa jam, aku baru berani hampiri anak itu. Kamu tahu, dia cantik banget kalau diliat dari deket. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia. "Bibir Rava seketika mengembangkan senyuman, wajahnya begitu cerah membayangkan gadis kecil itu. Melihat Rava yang tersenyum begitu bahagia, Ken mengerutkan bibirnya. 'Ngapain juga dia nyeritain cinta pertamanya sama aku. Pake senyum-senyum segala lagi. Gagal move on ni orang.' Batin Ken dalam hatinya.
Ken memakan cake coklat mini yang di pegangnya. Ada rasa sedikit cemburu di hati Ken saat mendengar cerita Rava, karena begitu manis nya cerita cinta Rava, tidak seperti cerita cintanya. 'Beruntung banget wanita itu.' Gumam Ken.
"Kamu mau liat foto dia gak?" Tanya Rava.
"Hah... ngapain?." Ucap Ken sedikit gugup.
"Kali aja kamu pengen kenal." Goda Rava.
"Gak lah.. Tapi kalo kamu maksa ya udah. mana sih fotonya. Apa dia lebih cantik dari aku?"
"Ya jelas dong.."
Rava mengambil dompetnya dari dalam saku celana. Dia mengambil sebuah foto. Terlihat gambar seorang gadis sedang senyum manis. Rava menunjukkan foto tersebut kepada Ken.
Ken melihat wajah yang tidak asing dalam foto tersebut. Matanya mulai berkaca-kaca menyadari gambar dirinya sendiri. Ken melihat ke arah Rava, dia melihat wajah Rava dengan penuh rasa tidak percaya.
"Rava.... " lirih Ken. Tak terasa air matanya mengalir dipipi. Dengan cepat Rava menghapus air mata yang mengalir di pipi Ken.
"Kamu mau denger cerita ku lagi?" Tanya Rava. Ken menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Saat itu kita niup lilin bareng. Itu pertama kalinya aku ngerayain ulang tahun bareng cewek cantik." Ken tertawa kecil mendengar cerita Rava.
"Tapi sayang, gak lama papa kamu dateng. Kamu tahu? Saat kamu pergi dengan papa kamu, Aku ngikutin kamu pergi sampai akhirnya kamu kerumah sakit. Jujur, aku kaget banget pas tau mama kamu kecelakaan." Wajah Rava berubah sendu.
Ken meraih tangan Rava dan menggenggamnya. Rava mengangkat kepalanya melihat Ken, di raihnya pipi Ken dengan lembut.
"Setelah mendengar kabar kepergian mama kamu, aku pergi ke rumah kalian. Aku juga ikut kepemakaman mamamu. Tapi aku gak berani nyapa kamu. Kamu keliatan syok banget waktu itu." Rava berhenti sejenak mengambil nafas.
"Beberapa hati setelah itu, aku dateng lagi kerumah kamu. Tapi kamu sudah tidak ada di sana. Pembantu rumah bilang, kalian pindah keluar kota, tapi mereka gak tau alamat rumah kamu." Lanjut Rava.
"Dua tahun aku nyari kamu. Hampir frustasi rasanya karna aku gak bisa temuin kamu. Aku meriksa nama kamu di semua perguruan tinggi negeri dan swasta, dan akhirnya aku nemuin kamu. Setelah aku nemuin kamu, aku mutusin untuk jaga kamu sesuai dengan pesan mamamu. Tapi karena aku jauh disini, akhirnya aku nyuruh salah satu orang papa untuk jagain kamu dari jauh." Rava bercerita dengan tenang sambil melihat wajah Ken.
"Va... Makasi ya, kamu udah nyari aku. Makasih juga kamu udah jagain aku selama ini. Sampek sampek aku gak tau ada yang ngikutin aku setiap hari. Kamu itu lelaki yang dikirim mama untukku." Ucap Ken lalu memeluk Rava. Rava membalas pelukan Ken dengan hangat.
"Va perasaan kok disini gak ada orang ya...?." tanya Ken sambil melepaskan pelukan Rava. Ken baru sadar saat melihat sekeliling mereka, semua wahana tetap bergerak, namun tidak ada satu orangpun yang menaiki wahana tersebut. Dia melihat penjual es krim, penjual harum manis, namun tidak seorangpun yang membeli.
Tiba-tiba ken berhenti tertawa dan langsung melihat ke arah Rava dengan serius. Tatapannya penuh tanda tanya.
"Va... jangan-jangan kamu nyewa tempat ini ya?" Tanya Ken serius.
"Ya gitu deh." Jawab Rava sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Haaahhh.... Gila kamu, bener-bener gila, sangat gila..." Kaget Ken sambil menggelengkan kepalanya seakan tak percaya.
"Aku kan pengen ngobrol berdua sama kamu." Jawab Rava dengan santainya.
"Ya ampun Va, kan gak harus nyewa tempat ini juga. Besok -besok jangan nyewa-nyewa lagi deh, kalo perlu beli sekalian tempatnya.." ucap Ken sambil meringis.
"Ini nih di kasih hati minta jiwa dan raga." Ucap Rava sambil mengacak-acak rambut Ken.
__ADS_1
"Minta jantung keles." Protes Ken.
"Va.. Aku mau es krim..." Rengek Ken.
Rava bangkit dari tempat duduknya, diulurkan tangannya ke hadapan Ken dan langsung di terima oleh Ken. Mereka berjalan mendekati penjual es krim dengan bergandengan tangan. Yah seperti padangan kekasih pada umumnya. Sesampainya mereka disana, penjual es krim tersebut langsung menyodorkan dua cup es krim kepada mereka.
Ken menikmati es krim yang ada di tangannya 'Baru kali ini makan es krim rasa cinta. Ma... makasi ya udah datengin cowok ganteng yang baik hati.' Gumam Ken dalam hati sambil tersenyum sendiri melihat wajah Rava. Mereka berjalan mengelilingi taman sambil menikmati es krim.
Tak terasa matahari sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kepergiannya. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, mereka sudah terlena dengan waktu, sampai sampai mereka lupa untuk makan siang.
"Kamu gak laper?" Tanya Rava yang masih menggandeng tangan Ken.
"Sedikit..." Jawab Ken singkat.
"Yuk kita pergi makan." Ajak Rava meninggalkan taman.
***
Akhirnya mereka beranjak meninggalkan taman. Rava mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan tidak begitu ramai, sehingga banyak pengemudi roda dua yang melaju agak cepat.
Rava melihat ke arah Ken yang dari tadi tak bersuara. Ternyata jiwanya sudah melayang entah kemana. 'Dia cantik kalau lagi tidur, apa lagi bangun tidur. Tante.. terima kasih sudah menitipkannya padaku.' gumam Rava sambil membelai rambur Ken.
Rava terus mengemudikan mobilnya. Tidak ada tanda tanda kesadaran dari Ken, sehingga dia tidak jadi memberhentikan mobilnya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hai readers .... jangan lupa tinggalkan jejak mu dengan cara like dan komentar ya .... Auhtor butuh saran dan motivasi kalian...
Terima kasih sudah baca...
__ADS_1