Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Mencarimu Part 2


__ADS_3

Rava kembali kerumah neneknya dengan tangan kosong. Nenek melihat kedatangan Rava dengan wajah kecewa, beliau langsung menghampiri cucunya.


"Bagaimana? Kamu sudah tahu dimana Ken?" Tanya nenek. Rava menggelengkan kepala lalu berjalan menuju sofa. Nenek mengikuti Rava dan  duduk disampingnya. Dipandanginya wajah Rava lelat-lekat.


'Cucuku kenapa kamu terlihat begitu muram. Aku tidak sanggup jika melihatnya murung, aku takut dia mengurung diri untuk kedua kalinya.' Batin nenek.


Saat Rava berumur 8 tahun, Mamanya pergi dari rumah meninggalkan dia dan papanya. Hal itu membuat Rava sedih dan marah sehingga dia mengurung diri di dalam kamar selama berminggu-minggu. Dia berharap dengan mengurung diri, mamanya akan pulang, tetapi ternyata tidak. Dia tidak pergi sekolah dan tidak bermain dengan teman-temannya. Nenek dan papanya sangat kawatir, namun mereka tidak bisa membujuk Rava.


Hingga pada suatu hari nenek menemukan Rava pingsan di dalam kamarnya. Rava terkena dehidrasi, sehingga dia dirawat dirumah sakit. Sejak itu nenek selalu memperhatikan Rava dengan ketat karena papanya sibuk mengembangkan perusahaan mereka.


"Rav, apa kamu tanya saja sama papamu dimana rumah keluarga Ken." Bujuk nenek yang tak ingin melihat cucunya sedih berlarut-larut.


"Itu sama aja akan ngasih tau papa kalau pertunangan kami batal nek. Papa pasti akan marah besar dengan kebodohanku." Jawab Rava.


"Aku tahu harus bertanya siapa nek." Ucap Rava sedikit semangat. Dia langsung hubungi seseorang.


"Datanglah kerumah saya." Pinta Rava lalu mengakhiri panggilan.


"Siapa Rav?" Tanya nenek penasaran.


"Teman nek." Jawab Rava sambil tersenyum.


Tiga puluh menit kemudian, Hendri sampai di kediaman nenek Rava.


"Ayo kita ke kita K." Ajak Rava yang melihat kedatangan Hendri.


"Pak Rava setidaknya ijinkan saya bernafas dulu." Pinta Hendri.


"Baiklah silahkan." jawab Rava dengan cepat.


***


Rava datang ke kota K untuk mengunjungi ruko Aliska bersama Hendri. Rava melihat suasana ruko dari balik kaca mobilnya. Dia hanya melihat semua pengunjung yang keluar masuk berjenis kelamin perempuan. Hanya ada beberapa laki-laki namun mereka bersama pasangannya masing-masing. Rava kembali melihat Hendri yang duduk di kursi kemudi. Dia seakan ragu untuk melangkahkan kakinya kesana.


"Hen, coba kamu masuk kesana." Perintah Rava.


"Kenapa harus saya pak?" Tanya Hendri yang enggan. Karena selama ini dia hanya memantau Ken dari jauh. Rava membuang nafasnya dengan kasar.


"Ayo kita kesana berdua." Ajak Rava memberanikan diri.


"Saya tidak mau dibilang homo pak." Jawab Hendri polos.

__ADS_1


"Emang kamu kira sama mau dibilang homo? Tapi mau sampai kapan kita nunggu disini, sampai jadi tugu?" Omel Rava.


"Oke pak." Jawab Hendri lalu keluar mobil diikuti oleh Rava.


Mereka berjalan memasuki ruko. Beberapa pengunjung dan karyawan ruko menatap mereka dengan senyum kagum. Rava yang mengenakan kaus oblong putih dan jeans donker terlihat cool sememtara Hendri mengenakan kemeja biru langit membuatnya terlihat keren.


Namun Rava dan Hendri malah menundukkan kepala mereka karena malu.


'Ahh.. benerkan dugaanku, pasti mereka mikir aku homo.' Gumam Rava dalam hati namun dia tetap melanjutkan langkahnya.


Mereka berhenti di meja informasi. Rava dan Hendri melihat sekelilingnya berharap bisa melihat Ken.


"Ada yang bisa dibantu kak?" Tanya salah satu karyawan wanita dengan ramah. Rava langsung menoleh dan tersenyum.


"Saya ingin bertemu dengan Ken." Jawab Rava.


"Maaf mas, disini tidak ada karyawan yang bernama Ken. Tapi kalau Niken ada mas." Jawab karyawan tersebut. Karena semua karyawan tidak mengenal nama Ken melainkan Aliska. Rava diam sejenak.


"Boleh saya ketemu dengan Niken?" Tanya Rava. Dia berfikir mungkin Ken akan memplesetkan namanya.


"Tunggu sebentar ya mas." Ucap karyawan itu lalu mengambil microfon. Rava menganggukkan kepalanya.


"Pemberitahuan kepada Niken, segera menuju ke meja informasi. Sekali lagi pemberitahuan kepada Niken, segera menuju ke meja informasi." Ucap wanita itu didepan microfon. Beberapa karyawan yang berada di dekatnya langsung tersenyum menahan tawa.


"Ada perlu apa mas mencari Niken?" Tanya wanita itu.


"Saya ingin bicara dengan Niken." Jaeab Rava santai.


"Saya sendiri mas." Ucapnya sambil menyodorkan nametag yang bertuliskan nama Niken tergantung di lehernya. Rava yang melihat hal tersebut langsung memijat dahinya lalu memalingkan wajah. Dia tidak mau memperlihatkan wajah malunya. Hendri langsung tersenyum sambil menahan tawa melihat hal tersebut.


"Bisa saya bertemu dengan Vely?" Tanya Hendri bergantian memulai aksinya.


"Ada perlu apa kak ketemu dengan mbak Vely?" Tanya Niken.


"Sampaikan saja Hendri mencarinya." Jawab Hendri percaya diri.


Niken langsung menghubungi Vely. Beberapa menit kemudian, Niken kembali mendekati kedua lelaki tersebut.


"Mari saya antar ke ruangan mbak Vely." Ajak Niken ramah.


Hendri langsung melihat Rava dan tersenyum penuh kemenangan. Sementara Rava hanya melihatnya dengan tatapan datar. Mereka berjalan mengikuti Niken menaiki tangga menuju lantai tiga.

__ADS_1


"Permisi mbak." Sapa Niken saat membuka pintu. Rava dan Hendri langsung masuk keruangan tersebut.


"Hendri, Rava, duduk-duduk. ada apa kemari?" Sapa Vely menyuruh tamunya duduk di sofa.


"Vely, apa kamu tahu dimana Ken?" Tanya Rava tanpa basa-basi.


"Aku udah beberapa kali menghubungi Ken, tapi nomernya gak aktif. Dia juga gak dateng ke nikahanku." Jawab Vely lesu.


"Apa kalian ada masalah?" Tanya Vely curiga. Dia dan Hendri melihat kearah Rava. Rava hanya diam dan menunduk tak ingin menjawab.


"Apa mbak tahu dimana rumah orang tua Ken?"  Tanya Hendri.


"Kamu gak tau rumah Ken? Jadi selama ini kerja kamu ngapain aja?" sambar Rava sinis. Vely bingung mendengar pertanyaan Rava.


Vely adalah kakak ipar Hendri yang menikah dengan kembarannya bernama Hery beberapa hari yang lalu. Namun Hendri merahasiakan statusnya saat memata-matai Ken. Sehingga Vely tidak tahu.


"Ken memang tidak pernah pulang kerumah orang tuanya. Dia lebih suka tinggal di rumahnya sendiri." ucap Vely datar dan Rava menganggukkan kepalanya paham.


"Ya sudah kita kerumah Ken saja." ajar Rava.


"Ken gak ada di rumah. Aku sudah cek ke rumahnya tapi dia gak ada." jawab Vely. Karena baru kemarin Vely melihat rumah yang di berikan Ken sebagai hadian pernikahannya. Kebetulah rumah tersebut berseberangan dengan rumah Ken.


"Ya sudah kita kerumah papanya saja." Ajak Vely langsung mengambil tasnya.


Mereka keluar dari ruangan menuju lantai satu. Benerapa karyawan yang melihat mereka langsung menyapa dengan ramah.


***


Mereka sampai di sebuah kawasan perumahan elit. Hendri menghentikan mobilnya di sebuah rumah sesui perintah Vely. Vely langsung turun dari mobil mendekati kantor satpam. Begitu juga Rava dan Hendri yang mengikutinya.


"Permisi pak, apa Ken ada dirumah?" tanya Vely dengan ramah.


"Non Ken sudah lama tidak pulang kesini neng." Jawab pak Tito satpam rumah papa Ken.


"Terima kasih Pak." jawab Vely lalu meninggalkan kantor satpam.


"Jadi kita harus kemana lagi?" Tanya Rava yang mulai muram. Rasa menyesalan mulai memenuhi fikirannya.


'Ken dimana lagi aku harus mencarimu? Kenapa kamu bener-bener pergi kaya gini. Aku salah udah minta kamu gak muncul lagi dihadapanku.' batin Rava dalam hatinya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡

__ADS_1


Hai readers semangat terus ya nunggu ceritaku up. Jangan lupa dukungannya dengan like, coment dan vote. Terima Kasih....


__ADS_2