
Didalam kamarnya, Ken sedang terjaga. Matanya terlihat sembab karena sisa sisa air mata. Sejak melihat Rava, Ken menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Kemunculan Rava secara tiba-tiba membuka lagi memori kelamnya. Entah sampai kapan hatinya menjadi batu. Bahkan sepatah katapun tak ingin dia dengar dari mulut Rava.
'Kenapa harus dia? Apa didunia ini tidak ada orang lain yang bisa dipertemukan dengan ku?' Gumam Ken.
Tiba-tiba suara deringan di perut Ken mulai berbunyi. Dia baru ingat kalau ternyata belum makan malam.
'Ah... Laperrrr... Kayaknya Rava udah gak ada di depan deh." Bisik Ken. Dia berjalan mengendap endap di balik pintu. Ditempelkannya telinganya ke pintu untuk mendengarkan suara dari balik ruangan.
Ken membuka pintu kamarnya. Dia berfikir Rava pasti sudah kembali ke kamarnya karena sedari tadi tidak mendengar suara Rava.
Ken terkejut melihat Rava yang masih setia menjaga pintu kamarnya.
"Ken... " Panggil Rava yang langsung berdiri menghampiri Ken. Ia tak kuasa menahan diri untuk memeluk Ken.
"Jangan sentuh aku." Ucap Ken sinis membuat Rava mengurungkan niatnya.
Ken berlalu meninggalkan Rava. Rava mengikuti langkah Ken. Entah kenapa kakinya terus mengikuti Ken.
"Kamu mau kemana Ken? Jangan pergi." Hadang Rava saat Ken ingin mengendarai mobilnya.
"Apaa? Jangan pergi? Bukannya dulu kamu pernah bilang 'Jangan muncul didepanmu lagi' Kamu lupa ?" Sindir Ken penuh penekanan.
Ken mengangkat tangannya, seketika itu pula dua orang pengawal menghampiri mereka dan menarik tangan Rava.
"Ken. Jangan pergi." Rava meronta melepaskan diri, namun tidak berhasil
Kini Ken tekah mengendarai mobilnya meninggalkan Rava.
***
Seandainya waktu bisa terulang kembali dan segala jejak keegoan mampu di hapuskan. Tidak akan ada air mata yang mengalir di pipi. Tidak akan ada penyesalan di akhir jalan. Seandainya hati bisa saling bicara seperti telepati. Mungkin, semua kesalah pahaman akan membenarkan dirinya sendiri.
Dan jika kata seandainya itu bisa menjadi nyata, pasti tidak akan ada kata seandainya dan seandainya lagi. Seperti kata seandainya yang sering diucapkan oleh orang orang putus asa.
Seperti lelaki itu yang sedari tadi terduduk di depan pintu. Kepalanya tersandar sedikit mendongak. Matanya tidak mampu terpejam. Dia hanya ingin melihat wanita yang tak ingin melihatnya. Dia hanya ingin memeluk wanita yang tidak sudi dipeluk olehnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Tepat 8 jam Rava menunggu Ken kembali dari tempat persembunyiannya. Namun tidak ada tanda tanda kepulangan Ken. Oma Ken dan neneknya berulang kali membujuknya untuk masuk, namun Rava terus saja menolak.
Rava berulang kali mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasakan kakinya yang mulai lelah berdiri. Kepala yang tak sanggup tegak hingga ia terus tertunduk. Seketika pendengarannya dipenuhi oleh gemuruh yang tidak jelas bunyinya.
Rava mengangkat kembali wajahnya. Matanya tertuju pada satu arah. Dia melihat cahaya yang menyilaukan mata hingga matanya menyipit. Saat itu pula ia melihat sosok yang ia rindukan. Ken berdiri tepat di depannya.
'Panas banget.' Gumam Ken.
"Omaaa... Nenekkk..." panggil Ken dengan panik. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Tidak mungkin dia menggeret Rava yang pingsan itu.
"Omaaaa Rava pingsan." Panggil Ken lagi.
Tidak berapa lama Oma dan nenek juga beberapa penjaga mendekati Ken. Nenek sangan syok dan histeris melihat cucunya yang tengah tergeletak di lantai.
Penjaga langsung membopong Rava ke kamar.
__ADS_1
"Cucuku kenapa kamu sayang." Lirih nenek Rava. Nenek Rava begitu panik melihat cucunya.
Begitu pula Ken terlihat gusar, dia benar benar kawatir dan merasa bersalah. Setelah menunggu selama 15 menit, seorang dokter masuk kekamar di antar oleh salah satu pelayan.
"Dokter Richard, kamu sudah tiba. Tolong periksa cucuku." Pinta oma Ken pada dokter tersebut. Dokter Richard adalah dokter pribadi keluarga oma Ken. Dia sudah di percaya sejak opa Ken masih hidup.
"Tidak perlu kawatir. Dia hanya kurang istirahat." Ucap dokter setelah memeriksa keadaan Rava.
Setelah memberikan beberapa obat, dokter langsung pamit meninggalkan kediaman oma Ken. Oma mengantarnya ke dapan pintu rumah mereka.
"Nek maafin Ken ya." Ucap Ken yang mendekati nenek Rava.
"Tidak papa Ken, ini adalah cara dia untuk menebus sakit hati kamu." Ucap nenek Rava langsung mengusap Rambut gelombang Ken.
"Sayang, Rava dan nek Yohan sudah menceritakan semuanya sama oma. Awalnya oma marah, tapi mendengar ucapan maaf Rava yang tulus, oma bisa memaafkannya. Oma harap kamu juga bisa memaafkannya dan memulai semuanya dari awal." Bujuk oma Ken. Ken memeluk omanya dengan penuh haru.
"Iya oma." Jawab Ken. Nenek Rava pun langsung memeluk erat Ken.
"Oma.. nek.. biar Ken yang rawat Rava ya." Pinta Ken. Dia merasa ini adalah kesalahan dia sehingga membuat Rava sakit. Oma dan nenek Rava kembali ke kamarnya.
Nenek Rava dan oma mengangguk bersamaan lalu meninggalkan Ken juga Rava.
Ken duduk di pinggir ranjangnya sambil melihat wajah Rava yang tengah terlelap begitu nyanyak. Dia masih terjaga, diraihnya tangan Rava.
"Kamu sakit karena aku. Kamu kok jadi kurusan sekarang? Apa aku terlalu menyiksamu?" Ucap Ken sedikit pelan. Ken masih mengamati wajah Rava.
***
'Berat banget kakiku.' Batin Rava yang berusaha mengangkat kakinya.
Rava bangkit dari posisi tidurnya. Dia melihat kaki Ken sudah menimpa kakinya. Namun kepalanya terletak diujung kasur. Jika dilihat dari atas, mereka persisi seperti jarum jam pukul tiga.
Rava tersenyum melihat Ken yang tidur dengan nyenyak. Diangkatnya kaki Ken perlahan. Lalu Rava berbaring mengikuti posisi Ken.
"Udah bangun?" Ucap Ken yang membuka sedikit matanya untuk melihat Rava. Dia merasa ada gerakan dan ternyata Rava sudah ada di sampingnya. Ken kembali memejamkan matanya. Setelah begadang, matanya tak sanggup ia buka lagi.
Rava langsung menarik tubuh Ken dan membenamkannya di dada. Tidak ada penolakan dari Ken. Dia menikmati kenyamanan di pelukan Rava.
'Tidur lah, ini seperti mimpi bagiku bisa memelukmu sekarang.' Bisik Rava. Mereka pun akhirnya terlelap lagi.
Di ruang makan, oma dan nenek sedang menikmati sarapan mereka.
"Audi, apa kita tidak membangunkan mereka? Aku masih kawatir dengan cucuku.' Tanya nenek Rava memulai pembicaraan.
"Biarlah mereka menyelesaikan urusannya. Cucumu juga pasti akan baik-baik saja." Jawab oma Ken dengan tenang.
"Jika memang memungkinkan kita langsung saja nikahkan mereka." Tambah oma Ken.
"Apa mereka akan setuju? Bagaimana kalau cucumu bersi keras menolak perjodohan ini." Tanya nenek Rava sedikit kawatir.
"Hahaha.. Tidak mungkin. Aurel memang keras kepala tapi dia juga mudah luluh jika terus di bujuk." Jelas oma Ken.
__ADS_1
"Yah... semoga saja begitu." Ucap nenek Rava sambil mengangguk.
***
Didalam kamar, Ken kembali membuka matanya. Dia merasa hangat di pelukan Rava.
"Va, kamu belum bangun?" Tanya Ken sambil menepuk pelan tubuh Rava.
"Sudah." Jawab Rava.
Rava langsung melepaskan pelukannya agar bisa melihat wajah Ken.
"Ken, maafkan aku." Ucap Rava sambil menatap wajah Ken.
"Kenapa dari sekian banyak kalimat kamu cuma bisa bilang 'maafan aku' sih." Ucap Ken sedikit kesal.
"Aku cinta kamu."
"Aku sayang kamu"
"Aku rindu kamu"
"Maukah kamu menikah denganku?" Begitu lah kalimat-kalimat yang diucapkan Rava.
"Aku gak cinta kamu"
"Aku gak sayang kamu"
"Aku juga gak rindu kamu" Jawab Ken dengan santainya.
Wajah Rava kembali muram mendengar jawaban Ken. Dia kehabisan cara untuk membujuk wanita keras kepala di depannya itu.
"Ken, ayo kita mulai semua dari awal lagi." Ucap Rava sambil menatap mata Ken. Begitu pula dengan Ken, pandangannya menembus jauh di mata Rava.
Kini lelaki yang dulu dia cintai, sudah kembali kepadanya. Tepat di depan matanya. Semua keputusan berada di tanganya. Akankah dia kembali menggandeng tangan Rava menuju kehidupan yang baru. Atau dia akan memilih mundur dan pergi jauh.
"Ken, kamu mau gak kita mulai dari awal lagi?" Tanya Rava lagi.
Ken pun menggelengkan kepalanya lalu wajahnya berubah manjadi datar. Rava menatap Ken dengan raut sedih.
"Va, sesuatu yang hancur tidak akan bisa kembali lagi. Kamu hanya punya dua pilihan mengganti dengan yang baru atau meratapi kehancurannya."
Rava menitikkan air mata mendengar ucapan itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa sementara hatinya jelas terasa sakitnya.
"Rava, kamu udah enakan nak?" Tanya nenek yang duduk di pinggir ranjangnya.
'Haahhh.... apa hanya mimpi? Padahal serasa nyata." gumam Rava sambil mengusap sudut matanya yang basah.
"Ken udah pulang nek?" tanya Rava dengan suara yang serak.
"Belum nak."
__ADS_1
'Ternyanya memang cuma mimpi.... huuhhhh mimpi yang panjang.'