Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Hari Pernikahan Part 2


__ADS_3

"Hery, kamu kok sendirian. Vely mana?" Tanya Ken pada sosok lelaki yang menghampiri mereka.


"Saya bukan Hery bu Ken. Saya Hendry, kembarannya Hery." jawab lelaki itu membuat Ken langsung tersipu malu.


"Maaf maaf." Kata Ken yang masih merasa malu.


"Keennnnn..." suara teriakan memanggil nama Ken.


"Vely.." sapa Ken sambil mengembangkan tangannya. Vely langsung memeluk Ken.


"Ya ampun sahabat ku akhirnya nikah juga." Ucap Vely sembari melepaskan pelukan Ken.


"Aku kira kamu gak dateng." Rengek Ken. Tiga lelaki yang tak lain adalah Rava, Hendry dan Hery hanya menggelengkan kepala mereka melihat aksi temu kangen Vely dan Ken.


"Tu kamu ngerasain kan gimana rasanya aku nunggu kamu, yang gak nongol-nongol pas nikahanku." Vely kembali mengomeli Ken saat mengingat resepsi pernikahannya.


"Iya iya.. maaf.. aku mau dateng, tapi kondisinya gak memungkinkan. Aku kan gak mau buat banjir pesta pernikahanmu." Ucap Ken sambil melirik Rava. Rava yang sadar dirinya dilirik Ken, langsung menunduk. Dia paham maksud dari kata 'membanjiri pesta' adalah tangisan dia.


"Ya ampun Her, aku tadi ngira Hendry ini kamu loh. Aku si jarang liat kalian pas lagi berdua, jadi aku gak tanda deh."lanjut Ken saat melihat Hery. Hery dan Hendry tersenyum namun Rava hanya diam saja. Diam-diam sepertinya Rava menyimpan cemburu karena Ken dekat dengan banyak laki-laki dulunya.


"Padahal saya sering lihat bu Ken loh." Ucap Hendry tanpa basa-basi.


"Haaa maksudnya?" Tanya Ken bingung.


"Eh sayang kamu gak laper? Gimana kalo kita ngobrolnya sambil makan aja." Rava langsung mengalihkan pembicaraan agar Hendry tidak terlalu lama bicara dengan Ken. Rava ingat bahwa Hendry pernah mengajaknya bersaing untuk mendapatkan Ken dulu, hal itu membuatnya sedikit cemburu.


"Oh oke.. yuk kita ke meja itu." Ajak Ken pada sahabatnya.


Mereka berlima duduk dalam satu meja. Ken duduk di tengah antara Tava dan Vely. Sementara Hendry duduk disamping Rava.


Para tamu sudah mulai memenuhi ruangan. Mereka sedang menikmati hidangan yang ada sambil mendengarkan melodi yang dibawakan oleh penyanyi di panggung.


Tiga orang pelayan mendatangi meja mereka lalu meletakkan beberapa hidangan kecil seperti cake, puding salad dan banyak macamnya. Salah seorang diantaranya menghidangkan minuman.


"Ken, perasaan ya dari loby sampek disini tu isinya pelayan semua. Ini hotel udah kayak istana kerajaan tau gak." Ucap Vely yang merasa heran.


"Itu semua karyawan hotel, mereka ngasih kejutan aku. Awalnya aku juga kaget pas sampek hotel, ada beberapa karyawan yang nyambut aku. Berasa di kerajaan sih memang." Jawab Ken sambil ketawa. Dia lanjut mengunyah beberapa potong buah.


***


"Hei Ken." Sapa Sasya yang datang menghampiri Ken.


Ken yang melihat Sasya langsung berdiri menghampiri Sasya yang juga bersama Andre dan Nadia.  Seperti biasa, ritual para wanita saat bertemu, saling cipika cipiki. Andre mendekati Ken, dan langsung memeluk Ken. Begitu pula Ken yang membalas pelukan Andre. Sontak saja Rava yang sedari tadi dibelakang Ken, menyipitkan matanya melihat Andre. Bagaimana tidak cemburu, istrinya di peluk lelaki lain. Sementara Sasya tidak begitu ambil pusing, karena dia sudah mengenal Ken dengan baik.


"Adikku sekarang udah besar." Ucap Andre lalu melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Enak aja adik. Aku tuh kakaknya." Bantah Ken.


"Eh bro, selamet ya." Ucap Andre lalu menepuk bahu Rava. Begitu juga Sasya dan Nadia yang menyalami Rava seraya memberi ucapan selamat.


"Kayaknya gak ada meja kosong, kalian duduk disini aja." Pinta Ken pada Andre, Sasya dan Nadia.


Ken memperkenalkan mereka lalu bergantian memperkenalkan Vely, Hery dan Hendry secara bergantian. Setelah itu dia pamit meninggalkan meja mereka untuk menemui beberapa tamu.


"Ken.." panggil seseorang dari samping Ken. Tentu saja Ken menghentikan langkahnya dan menoleh, begitu pula dengan Rava.  Rava sedikit terkejut, namun dia terlihat biasa saja.


"Wira.." sapa Ken.


"Selamat atas pernikahanmu Ken." Wira mengucapkan selamat sambil mengulurkan tangan.


"Terima kasih." Jawab Ken lalu menyambut tangan Wira.


"Va, ini Wira, dia direktur hotel ini." Ucap Ken memperkenalkan Wira. Wira langsung menyalami Rava.


"Kak Rava.." panggil seorang wanita yang tiba tiba datang menghampiri Rava,  Ken dan juga Wira. Wira pun segera pamid meninggalkan mereka.


"Kak Rava kok cepet banget si nikahnya. Katanya kakak mau nunggu aku." Rengek wanita itu sambil menggandeng tangan Rava.


Melihat hal itu tentu saja membuat Ken geram dan bertanya-tanya.


'Ni cewek siapa sih, gak menghargai aku banget. Woyyyy.... ada istrinya nih, enak aja main gandeng laki orang.' Teriak Ken dalam hati.


"Noura, kenalin ini istri kakak." Namun Naura tidak memperdulikannya.


Noura adalah cucu angkat nenek Rava. Sekarang usinya baru 23 tahun. Namun sejak SMA, dia sudah memimpikan menikah dengan Rava. Tentu saja, pernikahan ini membuat dia sedikit kesal, karena dia tidak bisa menikah dengan kakak pujaannya itu.


Tingkah Noura yang sangat manja itu, membuat Ken kesal. Apa lagi sepertinya Rava tidak keberatan di dekati adik angkatnya. Dia langsung meninggalkan Rava, Rava ingin mengejar Ken namun tangannya di tahan oleh Noura


"Kenapa sih, hari bahagia kok cemberut aja?" Tanya Nadia pada Ken yang tiba tiba duduk dengan teman-temannya.


"Itu tuh, bikin kesel aja." Jawab Ken sambil memonyongkan bibirnya menunjuk ke arah Rava.


"Siapa sih Ken?" Tanya Vely penasaran.


"Owwwhh.. itu Noura adik Rava. Emang gitu dia dari dulu. Sukanya lengket sama Rava terus." Sahut Nadia.


"Udah santai aja, ini kan hari perhikahanmu. Jangan cemberut  ah, jelek." Vely menenangkan Ken.


"Eh ni para cowok-cowok pada kemana?" Tanya Ken karna sedari tadi tidak melihat Andre, Hery dan Hendry.


"Nanti kamu juga bakal tahu." Jawab Sasya santai.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara ntanyian yang cukup merdu dari atas panggung. Semua tamu melihat ke arah panggung, begitu pula dengan Ken dan teman - temannya. Hendry menyanyikan lagu dengan penuh penghayatan bersama Andre yang memainkan piano dan Hery sebagai gitarisnya.


'Saat menjelang


Hari hari bahagiamu


Aku memilih diam dalam sepiku


Saat mereka tertawa diatas pedihku


Tentang cintaku yang telah pergi tinggalkanku


Aku tak peduli


Sungguh tak peduli


Inilah jalan hidupku


Ini aku kau genggam hatiku


Simpan didalam lubuk hatimu


Tak tersisa untuk diriku habis semua rasa didada


Selamat tinggal kisah tak berujung


Kini ku kan berhenti berharap


Perpisahan kali ini untukku


Akan menjadi kisah sedih yang tak berujung


Ini aku kau genggam hatiku


Simpan di dalam lubuk hatimu


Tak tersisa untuk diriku


Habis semua rasa di dada


Selamat tinggal kisah tak berujung


Kini ku kan berhenti berharap


Perpisahan kali ini untukku

__ADS_1


Akan menjadi kisah sedih yang tak berujung'


'Sedih Tak Berujung - Glenn Fredly'


__ADS_2