Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Sisi Lain


__ADS_3

Tiba-tiba sebuah mobil muncul di depan Ken menuju arah yang sama. Karena kecepatan mobil Ken agak kencang. Ken tidak bisa mengendalikannya dan langsung menabrak mobil tersebut dari belakang.


"Aaahhhhhh..." Teriak Ken.


"Bbraaakkkkk..." suara tabrakan mobil.


Mobil di depan ken terhempas beberapa meter ke trotoar. Jalanan tidak terlalu ramai, sehingga tidak terjadi kecelakaan berantai. Namun jalanan manjadi macet dengan insiden tersebut.


Beberapa orang yang berada didekat kejadian langsung menghampiri mereka. Seseorang keluar dari dalam mobil yang di tabrak Ken sambil memegang tengkuknya. Dia melihat belakang mobilnya yang sudah penyok. Lelaki itu berjalan mendekati mobil yang menabraknya dengan perasaan kesal.  Sementara Ken masih berada  didalam dengan memegangi kepalanya yang terbentur stir mobil.


"Tok..tok.." Lelaki itu mengetuk kaca mobil Ken. Ken langsung membuka kaca mobilnya.


"Kennnn...." Teriak Andre yang panik saat melihat Ken didalam mobil.


Ken hanya diam karena masih syok. Andre langsung membuka pintu mobil Ken. Dia membuka sabuk pengaman lalu  menarik tangan Ken dan memapahnya masuk ke dalam mobilnya. Suasana cukup ramai dengan kerumunan orang. Beberapa petugas polisi langsung mengamankannya.


Andre membawa Ken pulang ke kediamannya. Dia sesekali bertanya kepada Ken, namun Ken hanya diam tanpa jawaban.


Sesampainya di rumah, bunda Tama kaget melihat kedatangan anaknya bersama dengan Ken. Dia melihat wajah Ken yang muram, matanya sembab dan keningnya lebam.


"Kenapa ini?" Tanya bunda yang langsung menangkup wajah Ken. Ken langsung memeluk bunda dengan erat. Air matanya pun menetes menumpahi wajahnya


"Kamu kenapa sayang? Ayo kita duduk dulu." Ucap bunda lalu menuntun Ken duduk ke sofa.


"An coba jelasin ke bunda ada apa sebenarnya!" Pinta bunda yang masih mengelus rambut Ken yang memeluknya.


"Tadi kita kecelakaan bun, jadi An baru selesai makan siang dan mau balik ke kantor, tiba-tiba aja Ken nabrak mobil An dari belakang." Jelas Andre.


"Ya ampun." Ucap Bunda yang merasa ibah. Bunda mengangkat wajah Ken dan menghapus air matanya.


"Sayang, cerita sama bunda. Ada apa sebenernya?" Bujuk bunda.


Ken menarik nafasnya untuk mengumpulkan kekuatan. Dia mengangkat kepalanya dari bahu bunda.


"Pertunangan Ken batal bun." Jawab Ken sambil terisak.

__ADS_1


"Kenapa bisa batal?" Tanya bunda.


Ken menceritakan semua kejadian yang dia alami di rumah neneknya Rava. Sesekali ia kembali terisak mengingat perlakuan Rava. Bunda sangat kesal mendengar cerita tersebut. Begitu juga Andre, dia merasa marah dengan perlakuan Rava yang menurutnya tidak dewasa. Terlebih lagi dia begitu emosi melihat Ken menangis karena ulah Rava. Andre yang merasa sudah menjadi keluarga Ken, ikut terhina dengan perlakuan Rava dan keluarganya. Namun dia juga mengerti, keadaan Rava yang masih emosi.


Bunda Tama langsung mendekap Ken dalam pelukannya. Ken yang berada dalam pelukan bunda merasa nyaman. Dia bersyukur masih ada orang yang menyayangi dia di saat saat sulitnya.


"Sudah Ken, besok aku akan  hubungi Rava, kita akan jelasin semuanya supaya dia gak salah paham lagi." Bujuk Andre menenangkan Ken. Ken menganggukkan kepalanya.


"Sudah kamu istirahat sana di kamar, gak usah pulang kerumah. Kamu nginep disini saja." Pinta bunda Tama.


"Padahal hari ini Ken ada penerbangan ke Pekanbaru, tapi udah terlambat." Jawab Ken lesu.


"Mau ngapain balik kesana?" Tanya Andre.


"Vely lusa mau nikah. Jadi aku harus pulang." Jawab Ken.


"Ya udah nanti malam kita ketemu Rava, jadi besok pagi kamu bisa berangkat." Jelas Andre.


Ken masuk kedalam kamar yang biasa dia tempati saat nginap di rumah Andre.


***


'Kenapa harus kaya gini. Aku cinta sama kamu Ken. Tapi kenapa kamu hianatin aku. Apa aku  gak cukup buat kamu bahagia? Jadi ini sisi lain kamu. Kamu rendahan Ken. Bener-bener rendah." Teriak Rava dalam hatinya.


Perasaannya begitu kacau mengetahui orang yang dia cintai selama ini, tiba-tiba main belakang dengan banyak laki-laki di hotel. Dia tidak ingin mendengar penjelasan Ken, karena kepercayaannya sudah hilang. Dia merasa muak sehingga enggan mendengar suara Ken.


"Tokkk...Tokk.." ketukan pintu.


"Rava, boleh nenek masuk?" Ucap neneknya dari luar kamarnya. Rava tidak menjawab membuat nenek kawatir dan memutuskan untuk masuk.


Nenek terkejut melihat kamar Rava yang sudah menjadi gudang. Namun beliau tetap berjalan mendekati cucunya lalu duduk di pinggir kasur.


"Sayang, apa tidak sebaiknya kamu mendengar penjelasannya dulu. Itu hanya sebuah foto." Bujuk nenek dengan lembut sambil mengusap rambut Rava. Rava hanya diam membisu.


"Nenek tahu kamu sulit menerima penjelasannya karena bukti sudah di depan mata. Tapi jika foto itu salah dan wanita itu bukan wanita seperti itu. Kamu akan menyesal Rav." Bujuk nenek. Namun tetap saja tidak dihiraukan Rava.

__ADS_1


Beliau akhirnya meninggalkan cucunya. Ia tak mau membuat cucunya semangkin emosi. Karena Rava yang sedang emosi tidak bisa langsung dibujuk.


Rava keluar dari kamarnya menuju lantai satu. Dia melihat ke arah sofa, ternyata sudah tidak ada orang. Nenek masuk kedalam kamarnya setelah membujuk Rava. Sementara Jingga pamit pulang karena situasinya tidak pas untuk mendekati Rava. Tante Hera memutuskan untuk bersantai di kamarnya karena jingga pulang. Rava berjalan ke dapur lalu memanggil pembantu untuk membersihkan kamarnya.


"Dreeerrrttt.... dreeerrtttt..." suara Hp Rava tiba-tiba berbunyi. Rava melihat layar Hpnya lalu mengangkat panggilan tersebut.


"Bisa kita ketemu?" Tanya suara dari balik telvon.


"Hemmm." Jawab Rava dengan malas.


"Ku tunggu di Glory cafe jam 8." Ucap Andre. Telvon lalu terputus.


Rava melanjutkan langkahnya menuju kolam renang yang ada di samping rumah. Dia menceburkan dirinya kedalam kolam. Dia berharap semua kekacauan yang ada difikirannya bisa luntur terbawa air.


***


Malam hari disebuah cafe yang terletak di tengah kota J. Rava tiba tepat pukul 8, dia masuk kedalam cafe mencari-cari keberadaan Andre.  Rava langsung berjalan mendekati meja, dan terlihat sepasang insan sedang duduk menunggunya.


Rava langsung duduk di depan mereka.


"Mau ngomongin apa?" Tanya Rava dingin.


"Aku mau jelasin soal yang tadi pagi." Ucap Ken penuh harap.


"Cukup. Saya jijik mendengar suara anda." Ucap Rava sinis.


"Aku pikir kamu orang yang cukup dewasa. Sehingga aku membiarkan kamu mendekati Ken. Tapi ternyata aku salah." Ucap Andre dengan tegas.


"Aku memang tidak cukup dewasa. Tapi aku bisa membedakan mana perempuan yang baik dan mana perempuan murahan." Ucap Rava yang melihat ke arah Ken dengan tatapan sinis. Andre langsung berdiri dan menghadiahinya sebuah tonjokan di pipi kirinya.


"An jangan." Teriak Ken yang kaget melihat perlakuan Andre. Pengunjung cafe langsung menatap kearah mereka sambil berbisik-bisik.


Ken yang mendengar ucapan Rava hanya diam dan menatapnya dengan tatapan sulit di artikan. Air matanya tidak lagi menetes. Kata-kata Rava cukup untuk menjelaskan bahwa ini lah sisi lain Rava yang baru dia ketahui. Hatinya memang sakit, bahkan sangat sakit, namun perpisahan adalah keputusan yang tepat sebelum dia merasa lebih sakit lagi nantinya.


"An ayo kita pulang. Aku gak suka ngomong sama orang bodoh." Ucap Ken, tanpa melirik Rava ia langsung berjalan meninggalkan Rava. Andre pun menyusul langkah Ken meninggalkan Rava.

__ADS_1


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Hai readers.... Terima kasih sudah baca ceritaku.. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara ☆ LIKE ☆ COMENT ☆ RATE ☆ VOTE☆ jangan lupa yaaaa


__ADS_2