Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Kalau Boleh Jujur


__ADS_3

Didalam mobil, Ken hanya diam tanpa kata. Di wajahnya tergambar jelas raut sedih dan juga kecewa. Bagaimana tidak sedih, kisah cinta dan pertunangannya yang baru berumur jagung kini harus putus ditengah jalan. Kecewa tentu saja, karena orang yang dia anggap sebagai teman, sahabat, kakak, tunangan bahkan orang yang dia cintai ternyata tidak bisa mempercayainya.


"An berhenti sebentar ya." Pinta Ken dengan lirih saat melihat ke arah taman kota.


Andre langsung berbelok untuk memarkirkan mobilnya.


"Kamu tunggu disini ya. Jangan ngikutin aku." Pinta Ken lalu keluar dari mobil.


"Siapa juga yang mau ngikutin." Jawab


Andre yang hanya melihat Ken keluar dari mobilnya.


Ken melangkah memasuki taman kota. Taman cukup ramai dengan pengunjungnya, namun dia berjalan seperti orang yang kesepian. Langkahnya begitu santai, tatapannya menembus jauh kedepan namun tak memiliki tujuan. Dia hanya berjalan mengikuti lika liku jalanan taman. Langkah demi langkah tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya.


"Ken..!" Sapa seseorang yang berada di sampingnya. Ken menoleh ke arah asal suara. Andre yang sedari tadi mengikuti Ken langsung berhenti dan berpura-pura melihat-lihat suasana sekitarnya. Entah mengapa dia harus bersikap seperti itu. Seperti kakak yang membuntuti adiknya pacaran.


"Wira.." sapa Ken dengan senyum tipis yang di paksakan.


"Kamu sendirian?" Tanya Wira yang clingak clinguk melihat kanan kiri Ken.


"Aku sama temen, dia lagi di mobil. Kamu sama anak kamu?" Tanya Ken saat melihat anak kecil di gendongan Wira.


"Ini ponakan, anak kakak saya. Dia tadi rewel, jadi saya ajak kesini." Jelas Wira yang sedang menggendong anak kecil berusia sekitar 2 tahunan.


"Oww.. Saya duluan ya Wira. Temen saya lagi nungguin." Pamit Ken. Mengingat gambar mereka berdua menjadi salah satu foto yang membuat pertunangannya kandas. Ken tak ingin berlama-lama berada di dekat Wira. Entah kenapa hatinya menyuruh untuk berjaga jarak, atau mungin perasaannya saja yang masih sedikit trauma.


"Iya, iya.." Ucap Wira dengan ramah.


"Dah.. sayang, aunty duluan ya.." ucap Ken penuh senyuman dan melembutkan nada bicaranya.


"Dah.. aunty..." ucap Wira sambil melambaikan tangan ponakannya. Wira memandangi punggung Ken yang meninggalkannya.


'Kamu adalah wanita sederhana yang tidak pantas disederhanakan. Kalau boleh berkata jujur, aku mengaguminya lebih dari sekedar bawahan dengan atasannya.' Gumam Wira.


Andre yang  sedari tadinya berpura-pura tidak memperhatikan mereka, langsung menyusul Ken.


Ken sampai di mobil namun mobil terkunci. Dia mengintip kedalam mobil namun tidak mendapati Andre.


"Nyariin ya.." ejek Andre lalu membuka kunci mobilnya.

__ADS_1


"Dari mana sih?" Tanya Ken agak kesel.


"Nyari angin." Jawab Andre singkat.


"Ikut-ikutan aja." Ejek Ken.


" Biarin" Jawab Andre yang sengaja usil.


Mereka kembali masuk ke dalam mobil lalu menelusuri jalanan.


"Udah jangan dipikirin lagi. Nanti dia juga nyesel sendiri." Ucap Andre menenangkan Ken.


"An, aku tadinya udah jatuh cinta sama dia. Tapi setelah apa yang dia lakuin sekarang, aku jadi nyesel pernah cinta sama dia." Curhat Ken.


"Putus cinta itu wajar, mungkin kalian belum jodoh. Tapi jangan karena ini kamu terus mau bunuh diri ya." Ucap Andre yang waswas.


Karena banyak kejadian di internet mengatakan, salah satu faktor penyebab kematian adalah putus cinta. Walau bagaimana pun Andre sudah menganggap Ken seperti adiknya sendiri. Maka dari itu, melindungi Ken sudah menjadi tugasnya.


"Ya enggak lah. Iya kali aku bunuh diri gara-gara cowok bodoh kayak dia." Ucap Ken sambil menonyor kepala Andre.


Andre mengantarkan Ken kerumahnya atas permintaan Ken. Awalnya dia meminta Ken agak tidur di rumah Andre. Tapi ken menolak karena ingin menyiapkan segala keperluannya sebelum pergi.


***


"Temui saya sekarang di cafe Glory" Ucap Rava pada orang yang dia hubungi. Lalu dia memutuskan sambungan telvonnya.


Dia duduk menunggu seseorang dengan ditemani secangkir kopi. Tak berapa lama, seorang laki--laki menghampirinya dan duduk tepat di depannya. Dia terlihat masih seumuran dengan Rava.


"Ada apa bapak memanggil saya?" Ucap lelaki itu dengan sopan.


"Ceritakan tentang dia sedetail mungkin." Ucap Rava.


"Maksud bapak?" Tanya lelaki itu yang seakan bingung dengan maksud pertanyaan Rava.


"Apa yang kamu tahu tentang dia? Kamu sudah memata matai dia sejak lama kan?" Jelas Rava. Lelaki itu mengangguk dan mulai membayangkan sosok dalam fikirannya.


"Menurut saya dia wanita yang baik sederhana, mandiri, dan ramah." Ucap lelaki itu.


"Coba lebih spesifik." Rava tidak puas.

__ADS_1


"Apa tidak ada yang lain? Seperti hubungan dengan banyak laki-laki?" Tanya Rava yang seakan kurang puas dengan jawabannya. Lelaki didepannya langsung menggaruk dahinya yang tidak gatal.


"Setahu saya dia tidak pernah dekat dengan lelaki. Hanya saat tiga tahun lalu dia pernah berpacaran namun telah putus." Jawab lelaki itu.


"Yah saya sudah tahu itu." Jawab Rava.


'Apa karena dia pernah patah hati, sehingga dia main-main dengan banyak laki-laki.' Batik Rava.


"Pak mari kita bicara sesama laki laki." Tanya lelaki itu.


"Hemmm.. Katakan." Jawab Raka singkat.


"Bagi saya, dia adalah wanita langkah pak. Dia lebih milih tinggal sendiri di rumah kecil, padahal dia punya rumah besar dengan banyak pembantu dan pengawal. Dia orang yang ceria. Wanita yang cantik dalam kesederhanaannya. Dia adalah orang yang tinggi walau selalu merendah." tutur Lelaki itu.


"Apa maksud kamu dengan 'tinggi walau selalu merendah'?" Tanya Rava penasaran.


"Maksud saya dia punya segalanya tapi dia tidak sombong. Mungkin selama ini yang bapak tahu adalah keselamatan dan aktifitasnya..Tapi saya tahu semuanya pak bahakan kehidupannya."


"Mungkin bapak memiliki banyak pesaing untuk mendapatkannya."


"Bersaing untuk wanita seperti dia? Kamu ambil saja dia. Aku tidak perduli." Ucap Rava sinis.


'Kalau boleh jujur, aku masih memiliki sedikit rasa. Tapi kalau boleh meminta, aku tidak ingin bertemu lagi dengannya.' Gumam Rava. Dia langsung meninggalkan lelaki itu.


'Apa meksudnya 'wanita seperti dia'? Bahkan dia wanita yang sempurna. Jika saja tuhan memberiku kesempatan bersamanya. Ahhh... itu mustahil.' Batin Hendri. Dia adalah orang kepercayaan Rava yang ditugaskan untuk memantau Ken sejak dulu.


Kata orang "Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu." sepertinya kata-kata ini benar terjadi pada Hendri. Mengamati Ken dari jauh menumbuhkan rasa cinta dalam diam.


***


Pagi ini setelah berpamitan dengan bunda Tama, Ken pergi ke bandara dengan menggunakan taxy. Dia datang tiga jam lebih awal untuk melakukan chek in.


'Perjalanan panjang yang melelahkan. Setelah pertempuran hati dimulai, akan banyak bencana yang terjadi pada perasaan. Seperti rasa sakit yang mengundang air mata. Seandainya dia datang saat ini, aku pasti berfikir kembali untuk pergi. Dan kalau boleh jujur, aku sangat mencintainya.' gumam Ken dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Rasa yang tumbuh dari kata sahabat, lalu mendalam seperti keluarga. Kemudian menyatu dalam arti cinta. Kini semua hancur karena hilangnya kepercayaan. Namun cinta yang sudah ada, Bagaimana mungkin akan pudar begitu saja.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Hai readers yang sudah mampir dan membaca ceritaku.. Mohon tinggalkan like, coment dan votenya yaaa....

__ADS_1


__ADS_2