
Di luar ruangan, Rava mendengar sedikit kebisingan yang mengganggu telinganya. Rava bangkit dari duduknya menuju ke pintu. Ken hanya memperhatikan Rava sambil menyendokkan es krim ke mulutnya. Ketika pintu terbuka, seorang wanita langsung memeluk Rava.
"Rava... barani banget perempuan ini ngelarang aku masuk. Kamu harus pecat dia." Ucap wanita tersebut dengan rengekan. Rava tidak merespon.
"Maaf pak Rava, saya hanya meminta nona ini untuk menunggu sebentar karena masih ada tamu. Tetapi nona ini menolak." Jelas sekretaris Nadia. Rava mengangguk dan memberi isyarat pada Nadia untuk kembali.
Rava melepaskan pelukan wanita itu. Namun wanita itu berpindah menggandeng tangan Rava. Ken mulai menyipitkan matanya melihat kelakuan wanita itu. 'Dasar kates jingga, gatel banget sama tunangan orang.' Batin Ken. Ken enggan menghampiri mereka karna tidak ingin buang-buang energi.
Rava kembali masuk keruangannya menuju sofa, Jingga masih saja enggan melepaskan tangan Rava.
"Rava aku baru pulang dari Paris, kenapa kamu gak jemput aku?" Rengek Jingga.
"Maaf. Aku sibuk." Jawab Rava datar. Jingga mengerutkan bibirnya. Jingga yang menyadari keberadaan Ken langsung melepas tangan Rava. Rava duduk di samping Ken, sementara Jingga duduk di seberangnya.
"Kenalin ini tunanganku, Ken." Ucap Rava.
"Aku baru 3 tahun di Paris, tapi kamu sudah direbut orang." Ucap Jingga sambil melirik Ken.
"Suruh siapa kamu tinggalin, toh kamu pergi juga demi laki-laki lain." Ucap Ken asal.
"Maksud kamu apa? Jangan asal ngomong ya." Ucap Jingga penuh kekesalan.
"Owww.. anggap aja aku ngasal." Jawab Ken santai dan masih menikmati es krimnya.
"Ravaaa ...." Rengek Jingga, belum selesai bicara Ken langsung memotongnya.
"Va, Aku pulang ya udah sore juga. Lama-lama disini aku jadi merinding.... kayaknya kantormu ada penghuninya deh." Ucap Ken pada Rava.
"Bagus lah kamu pulang. Hati-hati dijalan ya." Ucap Jingga dengan senyum puas. Ken hanya tersenyum tipis melihat Jingga.
"Yuk aku anter." Ucap Rava yang langsung berdiri dan berjalan mendahului Ken dan Jingga.
"Kalau gitu aku duluan ya Jingga, kamu Hati-hati ya.. Soalnya aku tadi sempet nyium aroma aroma gitu. Tapi mungkin perasaan aku aja si." Ucap Ken dengan senyum jahat. Dia langsung meninggalkan Jingga dan mengejar Rava.
Jingga memperhatikan kepergian mereka lalu mengepalkan tangannya karena geram. 'Rava, kamu itu milikku.... Lihat saja nanti, aku pasti akan merebutmu.' Gumamnya pelan.
***
"Va, Jingga itu mantanmu ya?" Tanya Ken.
"Enggak, dia cucunya temen nenek." Jawab Rava yang masih serius mengemudikan mobilnya.
"Dia keliatannya suka sama kamu!" Ucap Ken.
"Aku memang selalu di sukain orang, jadi aku gak ambil pusing." Jawab Rava penuh percaya diri.
"Va, tiba-tiba aku pengen liat llaut." ajak Ken sambil memandangi Rava.
" Haaahh.. Mau ngapain?" Tanya Rava.
"Mau buang kamu. Biar kamu dimakan hiu. Nah berkurang deh penduduk narsis di bumi." Teriak Ken. Rava melirik Ken dan memiringkan bibirnya sebelah.
Mereka saling diam karena tidak ada topik yang ingin dibicarakan. Sebenarnya ada, tapi hanya tidak ingin membicarakannya. Karena jawaban tentang pertanyaan 'Siapa Jingga?' Sepertinya tidak akan Ken dapatkan dari Rava.
__ADS_1
***
Ken sedang menikmati makan malamnya di meja makan. Tentu hanya dia sendiri, karena sendiri sudah menjadi bagian hidupnya. Ken sudah terbiasa, walaupun kadang dia benar-benar merasa kesepian.
Setelah selesai makan, Ken masuk kedalam kamarnya. Dia duduk di sofa yang ada di kamarnya lalu menghidupkan laptopnya. Ken memeriksa beberapa file dengan serius.
Dreettt... dreeeetttt.. suara HP Ken berbunyi. Ken menggapai HPnya yang berada di meja.
'Hallo bun..' Ken menjawab telvon.
'Sayang kamu ngapain nak? Sudah makan belum? Kamu kok gak pernah main kerumah lagi?' Tanya bunda.
'Satu-satu dong bun nanyanya, Ken kan bingung mau jawab yang mana dulu.' Ken merengek manja.
'Iya iya...' jawab bunda.
'Ken lagi duduk aja bun, sambil baca-baca. Ken udah makan. Dan besok Ken main kerumah bunda.' Jawab Ken.
'Bener ya, bunda tunggu loh.' Ucap bunda.
'Iya... iya, bunda sehat kan?' Tanya Ken.
'Alhamdulillah sehat.' Jawab bunda. 'Ya udah sayang kamu lanjut ya baca-bacanya. Bunda mau istirahat dulu.' Lanjut bunda.
' Iya bun. Love you bun' ucap Ken.
'Love you yoo sayang.' Balas bunda sambil memutuskan panggilannya.
***
Malam berganti pagi, matahari mengambil posisinya. Perlahan sinarnya mengintip dari lubang-lubang pentilasi dan menggelitik mata Ken. Ken akhirnya bangun, dan dia merasakan badannya terasa sakit.
"Kenapa aku tidur disini sih" gerutu Ken sambil memijat bahunya. Ken bangkit ke arah kasur dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur. 'Ini baru tempat paling nyaman.' Ucap Ken sambil mengguling-gulingkan badannya. Ken bangun dari tidurnya lalu duduk. Dia ingat hari ini dia janji akan ke rumah bunda. Ken langsung bangkit ke kamar mandi dan bersiap-siap.
Para pelayan sedang menyusun beberapa menu sarapan di atas meja makan. Ken turun dengan gayanya seperti biasa, kaus oblong dan jeans. Setelah sarapan ken berangkat dengan mengendarai mobil yang ditinggalkan papanya.
***
Dirumah, bunda Tama sedang duduk di kursi taman sambil melihat-lihat majalah dan menikmati secangkir teh.
"Bundaaa...." Teriak Ken sambil berlari menghampiri bunda Tama.
"Kamu, bikin kaget bunda aja. Kalo jantung bunda copot gimana?" Ucap bunda Tama.
"Nanti Ken donorin jantung Ken buat bunda." Ucap Ken sambil meringis.
Dua kaum hawa tersebut menikmati semilir angin pagi dengan pemandangan kolam yang dihiasi bunga-bunga indah. Mereka berbincang-bincang dengan raut wajah yang ceria.
"Sayang, nanti malem An ngajak diner, kamu ikut ya."pinta bunda.
"Dimana bun? Emang ada acara apa?" Tanya Ken antusias.
"Di restauran XX jam 8. Bunda juga gak tau, tiba-tiba aja dia nyuruh bunda sama om dateng kesana." Jelas bunda.
__ADS_1
"Bun, Ken boleh ajak Rava gak?" Tanyak Ken.
"Boleh dong sayang, dia juga akan jadi keluarga kita." Ucap bunda sampil mengelus pundak Ken.
"Makasih bun." Ucap Ken sambil tersenyum senang.
Ken langsung mengambil HP di dalam tas kecinya. Lalu dia membuka kolom obrolan dengan Rava.
'Va, bunda Tama ngajak makan malem. Kamu bisa ikut gak?' Ken mengirim pesannya lalu meninggu balasan dari Rava.
'Maaf Ken, aku gak bisa. Ada urusan soalnya. Kamu nikmatin aja ya.'
'Oke deh.' Ada raut kecewa saat membaca pesan Rava tapi Ken mencoba untuk mengerti.
Ken pamit pulang dari rumah bunda Tama. Di tengah perjalanan Ken mampir ke sebuah butik dan membeli sebuah gaun.
***
Direstauran XX, bunda Tama dan om Putra sudah tiba dan duduk di meja yang sudah di pesan oleh Andre. Ken pun sampai di depan restauran, dia nampak anggun dan feminim dengan balutan gaun hijau botol selutut dengan lengan sesiku. Ken masuk diantar oleh seorang pelayan.
"Bunda.." panggil Ken langsung mencium pipi bunda dan menyalami on Putra. "An belum sampek bun?" tanya Ken lalu duduk di samping bunda.
"Tadi bunda telvon, katanya bentar lagi sampek." ucap bunda.
"Kamu sendiri Ken, mana tunanganmu?" tanya on Putra.
"Iya om, Rava gak bisa ikut." jawab Ken.
Tak berapa lama, akhirnya Andre sampai dengan membawa seorang wanita.
"Malem semua... " sapa Andre langsung mencium bundanya dan menyalami papanya. " bun, Pah... Kenalin ini Sasya. Pacar An...!" ucap Andre. Sasya mendekati bunda dan om Putra lalu menyalaminya. Sasya terlihat gugup, ya benar saja karna dia harus berhadapan dengan bos besarnya di kantor.
"Cantik An..." puji bunda membuat pipi Sasya memerah.
"Hai Sa...." sapa Ken.
"Ya ampun Ken, aku kira siapa. Kamu cantik banget aku sampek pangling loh." ucap Sasya lalu bercipika-cipiki dengan Ken. Andre menyuruh Sasya duduk. Sasya duduk di sebelah Ken dan Andre bersebelahan dengan papanya.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya bunda Tama.
"Udah bun, kemaren Sasya jenguk Ken pas dirumah sakit." jelas Ken. Bunda mengangguk paham.
Mereka segera menikmati hidangan yang sudah di pesan sebelumnya.
"Ken permisi ke toilet bentar ya." ucap Ken meninggalkan meja makan.
Ken berjalan menuju toilet. Setelah selesai dengan ritualnya, Ken kembali menuju mejanya. Tiba-tiba dia tak sengaja menabrak seorang pengunjung yang berjalan kearahnya karena dia jalan menunduk..
"Maaf, maaf .." ucap Ken lalu mengangkat kepalanya.
"Rava" ucap Ken pelan lalu melihat wanita di samping Rava yang ternyata adalah Jingga. Ken langsung melanjutkan langkahnya dengan wajah datar.
"Ken..." panggil Rava tapi tidak dihiraukan oleh Ken. Rava ingin mengejar Ken tapi tangannya di tahan oleh Jingga.
__ADS_1