
"Hei kebo.. banguunnn.." ucap Rava sambil menarik dan memencet hidung Ken. Ken yang susah bernapas langsung menggeliat dan membuka sedikit matanya.
"Apa sih... ganggu aja." Ucap Ken masih setengah sadar.
Rava langsung meninggalakan Ken yang masih mengumpulkan nyawanya di dalam mobil. Dia masuk kedalam villa dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Disisi lain, Ken yang mulai sadar melihat sekeliling villa dari dalam mobil. 'Hehh... villa siapa ni? Mewah banget yak' Tanya Ken pada dirinya sendiri. Ken keluar dari dalam mobil, dia clingak-clinguk seperti orang bingung lalu dia masuk kedalam villa.
"Va... kita di mana?" Tanya Ken lalu duduk di seberang Rava.
"Villa ku." Jawab Rava yang masih menutup matanya dengan lengan.
"Iya... di mana?" Tanya Ken mulai nyolot.
"Di Bandung" jawab Rava.
"HAAHHHH... Berarti aku udah tidur hampir 3 jam?" Kaget Ken.
"Yah gitu deh.. aku udah kayak bawak mayat tadi." Ejek Rava. Ken melihat Rava sengan sinis. "Udah sana mandi, abis tu kita keluar." Pinta Rava.
"Hello Bapak Rava. Gimana mau mandi, bapak kan sudah nyulik saya. Saya gak sempet bawak baju ganti. Lain kali kalau mau nyulik kasih tau dong, Jadi kan saya bisa persiapan." Bantah Ken dengan suara yang di lembut-lembutkan namun dengan mata disipitkan.
"Ibu Ken, alangkah baiknya jika ibu lihat dulu dengan mata kaki ibu." Ucap Rava yang memaksakan senyumnya melihat Ken. Ken langsung menaiki tangga.
"Kamar nomer dua yaa..." teriak Rava.
"Udah tauuuu... " Teriak Ken balik.
'Tau dari mana? Jelas jelas baru dibilang.' Gerutu Rava. Tak lama Rava pun menaiki tangga untuk bersih bersih.
***
__ADS_1
Ken masuk kedalam kamar yang di minta Rava. Di atas Kasur, terlihat sebuah paper bag dan sebuah Kotak. Ken membuka paper bag tersebut dan mengangkat isinya yang ternyata dalaman. "Hehhh.. daleman? Gila ni orang. Beliin aku daleman segala. Mana banyak banget lagi. Dasar mesum." Maki Ken saat melihat beberapa bra. Ken langsung meletakkan kembali kedalam paper bag. Ken beralih ke kotak yang ada disamping paper bag. 'Wah... bagus banget." Ucap Ken yang sedang memajang gaun dari kotak tersebut. Gaun itu berwarna hijau botol dengan lengan sesiku dan mengembang dari pinggang hingga lutut
Ken langsung mandi dan bersiap-siap. Dia sudah mengenakan gaun dan tentunya dalaman yang sudah disiapkan. Ternyata Rava sudah menyiapkan semua ukuran yang salah satunya adalah ukuran Ken. Ken hanya mengenakan make up seadanya. Yah... karena Ken tidak membawa alat make up dan hanya membawa bedak dan lipstik yang selalu ada di tasnya. Namun Ken tetap terlihat manis.
Ken turun dari kamarnya, karena tak mendapati Rava di ruang tamu. Ken langsung duduk menunggu Rava di sofa. Tak berapa lama Rava turun dengan setelan kemeja berwarna hijau botol dan jeans hitam. Rava melihat Ken yang tengah memainkan Hpnya.
"Ayok..." ajak Rava.
"Kita mau kemana?" Tanya Ken yang langsung menghampiri Rava.
"Jalan-jalan." Ucap Rava sambil menggenggam tangan Ken.
Rava mengajak Ken keluar menuju pintu belakang villa. Hanya berjalan beberapa meter Ken sudah bisa melihat pemandangan laut di depannya.
Rava menghentikan langkahnya begitu juga dengan Ken.
"Ada apa?" Tanya Ken.
"Kamu tutup mata ya." Pinta Rava yang langsung menutup mata Ken dengan telapak tangan kiri Rava. Sementara tangan kanannya masih menggenggam tangan Ken.
"Jangan bawel." Ucap Rava singkat.
Mereka terus berjalan dengan pelan karena Ken seperti melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Lalu Rava memberi aba-aba pada Ken untuk berhenti.
"Nah sekarang kamu boleh buka mata." Pinta Rava, lalu Ken perlahan membuka matanya.
Ken langsung membulatkan matanya dan menutup mulutnya. Dihadapannya terlihat lampu-lampu yang dihiasi dengan mawar merah berdiri tegak disisi kanan kiri jalan walaupun belum dinyalakan. Lalu sekitar 3 meter didepannya, terdapat meja makan yang dihiasi kain putih yang terjuntai indah dan dikelilingi entah berapa tangkai mawar merah yang tersusun begitu cantik. Dia melihat kearah Rava seakan tidak percaya. Dia tak bisa berkata-kata lagi dibuatnya.
"Ayo kita kesana." Ajak Rava. Ken pun menurutinya. Mereka berjalan menuju meja makan tersebut. Rava menarik kursi untuk Ken, Ken langsung duduk. Begitu pun Rava yang duduk di depan Ken.
"Coba kamu liat kesana." Pinta Rava yang menunjuk ke arah pantai.
__ADS_1
"Wahhhhh... sunset. Cantik banget" ucap Ken. "Va... ini kedua kalinya kamu ngasih aku kejutan." Ucap Ken yang melihat Rava.
"Ketiga kalinya pasti aku sukses buat kamu jantungan." Ucap Rava sambil tertawa, begitu juga Ken.
Ken dan Rava masih menyaksikan kepergian matahari dari tempat duduk mereka. Tiba-tiba datang tiga seorang pelayan membawa hidangan yang ditutup tudung saji.
"Kamu mau pilih yang mana?" Tanya Rava.
"Kenapa harus dipilih. Kan kita bisa makan semua." Ucap Ken bingung.
"Pilih aja." Ucap Rava singkat.
"Emmmm... aku pilih yang itu." Pilih Ken. Pelayan yang berdiri di tengah pun maju kedepan mendekati Ken lalu meletakkan hidangan tepat didepan Ken.
Tiba-tiba saja semua lampu menyala menerangi suasana yang tadinya mulai gelap. Terlihat lampu-lampu menerangi jalan yang mereka lewati tadi. Bunga-bunga pun ikut bersinar karena pantulan cahaya lampu yang sengaja dipasang. Ken membulatkan bibirnya, dia semangkin terpukau dengan kejutan demi kejutan yang dia terima.
Pelayan tersebut membuka tudung saji yang ada di hadapan Ken. Terlihat sebuah kotak tidak terlalu besar berwarna merah. Rava berjalan mendekati Ken. Dia lalu berlutut dihadapan Ken yang sudah memiringkan duduknya. Diraihnya kedua tangan Ken dengan lembut, matanya menatap dalam-dalam wajah Ken.
"Ken... Aku cinta kamu sejak kita pertama ketemu. Pesan mamamu membuatku semangkin ingin terus menjagamu. Aku ingin hubungan kita bukan hanya sekedar hubungan teman atau sahabat. Aku ingin kita menyatu dalam ikatan pernikahan. Pernikahan yang didasari cinta bukan perjodohan. Ken.. maukah kamu menikah denganku." Pernyataan cinta Rava.
"Va.. Kamu kan udah ngelamar aku." Ucap Ken dengan air mata yang tak terasa mengalir dipipinya.
"Anggap aja ini ungkapan dari lamaranku. Waktu itu aku bahkan gak bilang apa-apa ke kamu." Ucap Rava.
"Ravaaa.. Aku cinta kamu juga." Ucap Ken dengan air mata semangkin derasnya.
Rava berdiri lalu mengambil kotak merah yang ada didepan Ken. Rava menarik tangan Ken, hingga Ken ikut berdiri. Dia membuka kotak tersebut yang ternyata berisi sebuah kalung yang indah. Rava langsung mengenakan kalung tersebut ke leher Ken.
Rava menagkup wajah Ken yang masih berderai air mata haru. Dihapusnya air mata Ken dengan ibu jarinya. Dengan penuh keyakinan Rava mengecup kening Ken dengan lembut, lalu berpindah ke kedua matanya dan terakhir kecupan lembut di bibir Ken.
Perasaan Ken bercampur baur, rasa haru, bahagia, dan gugup bercampur menjadi satu. Dia tidak pernah sedekat ini dengan Rava. Dan dia juga tidak pernah membayangkan akan mengalami momen seperti ini. Sebuah lamaran yang sangat romantis seperti yang hanya ada di drama, kini juga dia rasakan.
__ADS_1
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hai readers... Terima kasih sudah baca.. Jangan lupa tinggalkan jejak mu dengan Like dan Komen ya ... Terima kasih...