Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Pamit


__ADS_3

"Aku tu capek, Pengen istirahat kali bukan pura-pura tidur." elak Ken yang sebenarnya malu karena ketahuan bohong.


Pasalnya sedari tadi Ken mencari ide untuk bisa melewatkan malam pertama mereka. Dia mondar mandir mempertimbangkan beberapa ide. Dan akhirnya pilihannya jatuh pada pura-pura tidur.


"Alasan aja kamu." Ucap Rava lalu merebahkan dirinya di samping Ken.


Rava menarik tubuh Ken kedalam pelukannya. Ken terkejut dibuatnya.


"Tidur lah, aku gak akan minta sebelum kamu siap." Ucap Rava sambil mengusap pipi Ken. Sementara Ken hanya tersenyum canggung.


Entah sejak kapan dia mulai merasa canggung di dekat Rava. Dia merasa perasaannya berubah setelah menikah dengan Rava. Padahal dulu saat mereka masih bersahabat, Ken merasa nyaman saat dipeluk Rava. Kini  setelah menikah, Ken malah merasa jantungnya menggebu gebu.


Malam semangkin larut, Rava dan Ken sudah tidak sadarkan diri setelah melewati hari yang cukup melelahkan. Yah.. mereka terlelap tanpa terjadi peristiwa apa-apa.


***


Pagi telah menyambut hari. Sinarnya mulai menerobos masuk kecelah-celah gedung. Ken mengerjapkan matanya, dilihatnya Rava yang masih terlelap sambil memeluknya. Perlahan Ken mengusap pipi Rava.


"Udah bangun?" Rava bersuara tanpa membuka matanya.


"Hee emmm." Jawab Ken lalu melonggarkan pelukan Rava karena ingin bangkit. Namun Rava malah mengeratkan pelukannya.


"Sebentar aja." Ucap Rava. Dia seperti tidak rela  Ken meninggalkannya walau secenti saja.  Ken pun menuruti keinginan Rava, hingga dia ikut terlelap kembali.


"Ken.. Ken... bangun." Panggil Rava sambil mengguncang badan Ken dengan pelan. Setelah hampir setengah jam, Ken tak kunjung bangun.


"Ken.. bangun." Panggil Rava. Lagi lagi Ken hanya menggeliat.


"Kalo kamu kayak gini, aku jadi pengen ngajak kamu buat baby deh." Goda Rava. Ken kaget dan langsung  membuka matanya lebar-lebar saat mendengar ucapan Rava. 


"Apaan sih Va." Ucap Ken sambil mengusap matanya.


"Cepetan mandi, aku udah laper ni." Jawab Rava.


 'Tadi aja aku mau bangun gak dibolehin. Sekarang malah di omelin.' Gerutu Ken dalam hati. Ken segera bangun dan melangkahkan kakinya kekamar mandi.


Lima belas menit kemudian Ken keluar dari kamar mandi. Dia sudah mengenakan blus panjang berwarna coklat susu dan rok putih diatas lutut. Namun rambutnya masih terbalut handuk putih karena basah.

__ADS_1


"Sayang sini duduk, kita sarapan dulu." Ajak Rava sambil menarik tangan Ken.


"Kamu udah pesen makanan." Ucap Ken yang melihat beberapa hidangan makanan di atas meja.


"Udah, aku kelaperan tadi." Jawab Rava sambil menuangkan nasi ke piring Ken.


"Va, biar aku aja." Pinta Ken.


"Sayang, boleh gak aku minta satu permintaan?" Tanya Rava yang seketika memasang wajah serius.


"Apa?" Tanya Ken. 'Tumben banget ni anak formal banget mintanya. Apa jangan jangan Rava mau minta buat baby ya? Ya ampun, aku kan belum siap.' Batin Ken.


"Panggil aku Mas." Ucap Rava sambil mengembangkan senyumnya.


'Ya ampun kirain mau minta apa! Baru beberapa jam nikah, otak ku udah ngeres aja.' Gumam Ken.


"Iya mas." Jawab Ken dengan lega.


"Makasih sayang." Ucap Rava dengan senang. Mereka lanjut menikmati sarapan mereka.


***


"Kita mau kerumah nenek." Jawab Rava sambil membukakan pintu untuk Ken. Begitu pula Ken yang masuk ke mobil.


Rava melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan cukup padat karena di ramaikan oleh pengendara-pengendara  lain. Ken melempar pandangannya keluar jendela. Dia melihat orang orang menghabiskan liburannya di kota ini. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk melewati hari libur.


Setelah hampir satu jam, akhirnya mereka sampai di rumah nenek Rava. 'Rumah ini, terakhir kali aku kesini, aku bahkan gak mau balik kesini lagi. Tapi siapa yang menyangka, aku datang lagi kesini dengan status yang beda.' Batin Ken.


"Sayang, ayo kita masuk." Ajak Rava. Mereka langsung menuju rumah nenek.


"Kalian sudah sampai." Sapa nenek yang langsung memeluk cucu kesayangannya.


"Iya nek."  Jawab Rava.


"Cucu mantuku." Sapa nenek sambil beralih memeluk Ken.


"Ayo duduk sayang." Ajak Nenek yang menarik tangan Ken untuk duduk di ruang tamu. Terlihat papa Rava sedang duduk disana.

__ADS_1


"Hei Rav, Ken, baru sampek ya." Sapa tante Hera yang membawa nampan berisi minuman.


'Orang begitu mudah berubah, bahkan tante Hera yang dulu memandang rendah aku, sekarang berubah jadi ramah banget.' Batin Ken.


"Nek, Pah, kami kesini mau pamit, Rava sama Ken ingin mandiri. Jadi kami mau tinggal di apartemen Rava." Ucap Rava dengan serius.


"Apa.. Kenapa cepat sekali? Kamu tau kan nenek gak bisa jauh dari kamu." Tanya nenek yang tidak ingin di tinggal cucunya.


"Tapi Rava udah nikah nek. Udah saatnya Rava mandiri untuk ngurus keluarga kecil Rava." Bujuk Rava.


"Tu kan nek, belum ada sehari nikah, istrinya udah ngehasut kak Rava buat ninggalin kita. Nanti sebulan dua bulan, gak tau deh gimana jadinya keluarga kita." Sambar Noura yang baru datang.


'Ni mulut abis makan apa sih, nyinyir amat. Pake jelek-jelekin aku lagi. Aku aja gak tahu apa apa.' Batin Ken dalam hati. Tapi dia tidak mau meladeni adik iparnya itu.


"Ini kemauan aku sendiri Ra." Jawab Rava.


Noura tidak menghiraukan ucapan Rava, dia masih saja menatap Ken dengan sinis.


"Sayang, walau disini kalian kan juga bisa belajar mandiri. Nenek juga tidak akan mencampuri urusan rumah tangga kalian." Nenek mulai lesu. Bagaimana tidak, cucu yang sudah dia rawat sejak kecil kini akan pergi meninggalkannya.


'Ternyata suamiku cucu kesayangan.' Batin Ken.


"Kak Rava harus dengerin nenek dong, kan nenek yang rawat kakak dari kecil." Omel Noura. Tante Hera langsung mencubit pelan lengan Noura untuk menghentikannya.


"Nek, Rava mohon." Bujuk Rava yang sudah kehabisan kata-kata.


"Mi, Rava kan sudah dewasa dan sudah menikah. Gak ada salahnya kalau dia belajar mandiri untuk menjaga istrinya." Papa Haris mulai angkat bicara.


"Kamu memang keras kepala. Ya sudah kalau itu keinginan kamu." Nenek pasrah.


Rava langsung tersenyum senang sambil menggenggam tangan Ken.


'Buguslah nenek ngijinin tinggal sendiri. Walaupun sebenernya aku gak masalah tinggal disini tapi kalau harus liat muka ni Aura Negatif  tiap hari siapa yang tahan.' Gumam Ken.


"Rava langsung memberi kode pada pembantu rumahnya. Beberapa menit kemudian dua orang pembantu menuruni tangga dengan membawa dua buah koper yang berisi barang-barang Rava.


Setelah melakukan adegan haru saat berpamitan dengan keluarganya, Rava dan Ken masuk kedalam mobil bersama koper-koper Rava. Ken melihat ada raut sedih yang tertinggal di wajah Rava, namun Ken bisa mengerti.

__ADS_1


__ADS_2