Lelaki Kiriman Mama

Lelaki Kiriman Mama
Hancur


__ADS_3

"Mas Rava, kamu pulang?" Tanya Ken dengan mata berbinar binar namun sedikit kaget. 


Dia merasa Rava ingin memberinya Kejutan, dengan merahasiakan kepulangannya. Namun dia sedikit kesal, padahal semalam Rava menelvonnya tapi tidak mengabarinya. 'Jahat banget si, padahal dia nelvon aku. bisa bisanya dia pulang tiba-tiba gitu tanpa ngabarin.' batin Ken.


Semua orang melihat ke arah Rava, tidak terkecuali Ken yang melihat raut wajah Rava sedikit berubah. Ken merasa sendu melihat wajah Rava yang sedikit tirus, matanya juga terlihat sangat lelah. 'Apa Rava kurang tidur ya selama di Paris? Pipinya juga tirus, dia pasti sibuk banget sampek gak sempet makan.' Batin Ken.


Rava berjalan mendekati mereka, lalu melemparkan sebuah amplop berwarna coklat tepat di hadapan Ken. Ken sontak terkejut melihat perlakuan Rava yang agak kasar. 'Kenapa nih, pake lempar-lempar segala. Gak bisa apa di kasih bagus-bagus.' batin Ken. Dia melihat amplop tersebut dan wajah Rava secara bergantian. Tentunya dia bingung mengenai isi dari amplop yang ada di hadapannya itu.


"Buka lah." Ucap tante Hera ketus.


Ken langsung mengambil amplop tersebut lalu membukanya. Dia melihat beberapa lembar foto gambar dirinya bersama seorang lelaki yang berbeda setiap foto.


"Aku bisa jelasin foto-foto ini." Ucap Ken dengan percaya diri.


Foto-foto tersebut sengaja diambil tanpa sepengetahuan Ken. Seperti saat dia bersama rekan bisnis papanya yang tak sengaja bertemu di loby hotel. Lalu foto nya bersama Riko yang memegang tangannya saat ingin meminta maaf di loby hotel. Ada juga fotonya yang sedang berbincang-bincang dengan Wira di depan hotel dan di butik.


"Jadi kamu mengakui bahwa itu foto kamu?" Jawab Rava dingin.


"Iya, Tapi..." ucap Ken yang ingin menjelaskan namun langsung di potong.


"Kamu ngaku pergi sama om om dan banyak laki-laki. Lalu apa lagi yang mau kamu jelaskan?  Bisa-bisanya aku percaya sama perempuan murahan yang haus uang kayak kamu." Ucap Rava dengan nada tinggi membuat semua orang hening tak berani berkutik. Karena ini kali pertama Rava mengeluarkan amarahnya.


Mendengar kata-kata Rava barusan membuat Ken terkejut sekaligus terhina. Tentu saja dadanya merasa sakit. Dia memang sudah biasa di anggap miskin, namun dihina seperti ini membutnya sakit. Apa lagi hinaan itu memang tidak pantas dia dapatkan. Ken tidak bisa menjelaskan apa-apa karena Rava sedang emosi. Dia tidak ingin membuatnya semangkin emosi. Ken hanya tertunduk menahan dadanya yang sesak. Berharap Rava mau mendengarkan penjelasannya. 


Sementara nenek Rava sedari tadi hanya memandangnya dengan tatapan datar dan penuh kekecewaan. Ken merasa terpojok pada situasi ini. Padahal dia berharap nenek mau membelanya, dia merharap ada satu orang saja meminta penjelasannya. Namun ternyata tidak ada.


Lain lagi dengan tante Hera dan Jingga, mereka melihat Ken dengan  senyuman sinis seakan sedang mengumpati Ken. 'Kamu akan hancur sekarang Ken.' Yah... begitu lah mungkin yang mereka fikirkan.


Dari tatapan mereka, Ken sudah menyangka ini adalah ulah tante Hera dan Jingga. Namun Ken tidak bisa asal menuduh tanpa bukti. Dia hanya bisa diam untuk sementara waktu.


"Jadi ini cara kamu hidup mandiri tanpa bantuan papamu? Mengincar laki-laki kaya. Tidur dan belanja sama mereka? Apa aku juga salah satu target kamu, Hahhh?" Bentak Rava lagi.

__ADS_1


Rava menjadi bringas setelah pulang dari Paris. Dia bukan seperti sosok yang di kenal selama ini. Rava yang lembut penuh humoris kini seketika berubah menjadi serigala yang haus darah dimata Ken. Kata-katanya terus saja mencabik cabik hatinya.


Ken masih tertunduk dengan tuduhan yang tidak pernah ia lakukan. Dia mengatur nafas dalam dalam untuk menahan air matanya agar tidak tumpah. Tetapi kata-kata Rava terlalu sakit untuk dia tahankan.


"Rava jangan asal ngomong kamu." Ucap Ken yang sudah tidak tahan lagi.


"Cuma liat foto yang gak bisa jelasih apa apa, kamu nuduh aku yang enggak enggak! Aku rasa kamu gak bodoh yang bisa langsung percaya cuma dengan liat foto ini." Lanjut Ken dengan lantang.


"Ceehhhhh..." tawa sinis Rava yang masih berdiri tegak di depan Ken.


"Bukannya bertahun-tahun kamu mata-matain aku? Harusnya kamu kenal siapa aku." Ucap Ken yang air matanya mulai pecah.


"Aku nyesel udah nurutin permintaan mama kamu yang gak masuk akal itu. Aku rasa kita cukup sampai disini. Jangan muncul di depanku lagi." Ucap Rava dengan suara sedikit Rendah. Lalu Rava meninggalkan semua orang yang masih terduduk di sofa.


"Rava... Untuk apa kamu punya banyak mata, tapi kamu sendiri buta." Teriak Ken sambil berdiri dari tempat duduknya.


Rava yang ingin menaiki tangga, langsung menghempaskan vas bunga yang terletak di atas meja dekat ujung tangga.


Sontak semua orang terkejut. Untung nenek Rava tidak menderita sakit jangtung.


"Saya rasa kamu sudah mengerti sekarang. Ini lah kenapa dari awal yang tidak suka dengan kamu. Perempuan seperti kamu memang tidak pantas dengan keponakan saya." Ucap tante Hera yang masih saja melihatnya dengan sinis.


Ken langsung menghapus air matanya yang sia-sia hanya untuk mendengar cacian Rava dan keluarganya.


"Silahkan pergi dari sini perempuan murahan." Usir Jingga.


"Sepertinya panggilan Perempuan Murahan itu lebih cocok di kamu." Jawab Ken dengan sinis.


"Nek terima kasih untuk undangannya. Hidangan kali ini cukup memuaskan." Ucap Ken dengan senyum terpaksa.


Ken langsung meninggalkan istana penyihir itu dengan mengendarai mobilnya. Seketika tangisnya pecah di dalam mobil. Ken meratapi dirinya yang di hina habis-habisan oleh sahabat sekaligus orang yang kini dia cintai.

__ADS_1


'Kata orang,  setelah pertunangan akan banyak cobaan-cobaan yang akan menghalangi kita. Apa ini termasuk cobaanku selebum menikah? Tapi ini bukan cobaan, ini adalah kegagalan.' Batin Ken yang semangkin sedih dibuatnya.


"Rava bodoh. Kenapa harus ada orang bodoh kayak kamu. Kamu bahkan gak mau denger aku. Hikk.....hikkkk....." Teriak Ken yang membuat tangisnya semangkin pecah.


'Sekarang kita sudah selesai. Hancur sudah pertunangan dan pertemanan kita. Pertunangan yang hanya berjalan beberapa bulan. juga pertemanan yang sudah bertahun tahun. Hancur karena sebuah foto. Aku pastikan, aku tidak akan muncul lagi di depanmu seperti yang kamu mau.' Gumam Ken.


"Mama aku rinduu..." Teriak Ken.


Ken melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Dia merasakan benar benar sendirian sekarang, sama seperti tiga tahun lalu saat Riko menghianatinya.


'Biarlah aku hancur bersama kisah kisah ku yang rumit ini. Aku sudah tak punya kekuatan lagi sekarang.' Batin Ken.


Tiba-tiba sebuah mobil meluncur di depan mobil Ken menuju arah yang sama. Karena kecepatan mobil Ken agak kencang. Ken langsung menabraknya dari belakang.


"Bbraaakkkkk..." suara tabrakan mobil Ken.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Hai readers, terima kasih sudah mampir!


Jangan lupa tinggalkan:


▪Like


▪Coment


▪Rate


▪Vote


Dukungan kalian adalah semangat bagi author. Selamat menunggu episode selanjutnya..

__ADS_1


__ADS_2