
Hari ini Rava dan neneknya akan berangkat ke Paris. Seperti yang sudah di rencanakan oleh nenek dengan sahabatnya. Mereka akan mempertemukan cucu mereka. Segala bujuk rayu dan ancaman-ancaman dikerahkan. Setelah lima hari, akhirnya Rava menyetujuinya. Tante Hera tidak ikut serta karena harus mengurus perusahaan menggantikan Rava. Sementara papanya sengaja tidak mereka diberi tahu.
'Semoga saja perjodohan ini mampu membuatku melupakan Ken. Ken maafkan aku.' Bisik Rava dalam hati.
***
Ditempat lain, Ken sedang duduk di sofa dengan mengotak-atik Hpnya. Sementara oma sedari tadi sibuk memantau para pelayan untuk membersihkan kedua kamar tamu.
"Aurel kenapa kamu santai-santai ? Besok tamu kita akan datang." Ucap oma mendekati cucunya.
"Oma, kenapa kita harus repot-repot. Oma gak akan bawa orang asing ke rumah kita kan?" Tanya Ken lalu mengangkat kepalanya melihat ke arah oma.
"Apa maksud kamu orang asing? Mereka sahabat oma dan calon suami kamu." Jelas oma.
Walaupun tamu mereka adalah calon suami Ken, tepat saja Ken menganggapnya sebagai orang asing.
"Tapi oma, kenapa mereka harus tinggal disini? Kenapa gak di hotel aja, kita kan punya hotel oma." Bantah Ken. Dia merasa tidak suka jika ada orang lain tinggal satu atap dengannya.
"Aurel, mana mungkin oma menyambut kedatangan sahabat oma seperti itu. Itu tidak sopan sayang." Bujuk omanya.
"Terserah oma deh." Jawab Ken cemberut.
Oma Ken menggelengkan kepalanya. Beliau merasa heran, entah sejak kapan cucu kesayangannya itu berubah jadi keras kepala. Beliau kembali meninggalkan Ken.
***
Setelah lama menempun perjalanan udara, akhirnya Rava dan neneknya sampai di bandara. Mereka keluar dari bandara dan langsung di sambut oleh seseorang. Rava dan neneknya pun masuk ke mobil yang sengaja di minta untuk menjemput mereka.
Selama perjalanan Rava tidak berkata apa-apa. Dia hanya diam menikmati perjalanan dengan perasaan terpaksa. Setelah beberapa menit akhirnya mereka tiba di rumah sahabat nenek Rava yang tak lain adalah oma Ken. Supir membawa mobil yang mereka kendarai ke halaman rumah.
Terlihat seorang wanita berlari kecil menuju mobilnya yang tak jauh dari mobil yang di kendarai Rava.
"Ken?" Bisik Rava saat melihat seorang wanita memasuki mobil sport merah didepannya. Ken pergi berlalu dengan mobil mewahnya itu tanpa memperhatikan Rava yang telah sampai di halaman karena tertutup oleh supir yang membukakan pintu.
'Apa itu dia? Kenapa dia disini? Aghh ga mungkin itu Ken. Mungkin aku terlalu banyak Ken.' Pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul di fikiran Rava.
"Heiii Yohaaaann." Teriak Oma Ken lalu mendekati nenek Rava dan memeluknya.
"Aku baik Audi seperti yang kamu lihat." Jawab Nenek Rava.
"Apa ini cucumu?" Tanya oma Ken saat melihat anak muda tampan di samping sahabatnya.
"Halo nek, saya Rava." Sapa Rava sambil mencium punggung tangan sahabat neneknya.
__ADS_1
"Panggil oma sayang. Kamu tampan sekali. Aurel pasti suka denganmu." Puji Oma Ken.
"Terima kasih oma." Jawab Rava dengan ramah.
"Ayo kita masuk dulu." Ajak oma pada tamu jauhnya tersebut.
Rava dan neneknya pun masuk dan duduk di sofa setelah di persilahkan.
"Audi dimana cucumu? Kenapa aku tidak melihatnya dari tadi." Tanya nenek Rava. Karena sedari tadi dia tidak melihat cucu temannya menyambut kedatangan mereka.
"Cucuku sedang keluar sebentar. Mungkin sebentar lagi dia pulang." Jawab oma Ken.
Rava langsung melihat oma dengan penuh selidik.
"Apa dia yang keluar dengan mobil merah tadi?" Tanya Rava penasaran. Nenek Rava hanya diam karena tidak melihat wajah wanita yang di maksud Rava.
"Iya. Kamu sudah melihatnya?" Tanya oma dengan senang.
"Hanya sekilas oma." Jawab Rava singkat.
"Itu foto Aurel, lihat dia cantik kan." Goda oma saat menunjukkan foto berukuran besar yang tergantung di dinding.
Rava terkejut melihat foto tersebut. Gambar wanita yang sangat dia cintai tergantung rapi. Senyumnya yang mengembang seakan memberikan energi baru untuk Rava. Begitu pula dengan nenek Rava, namun ada kecemasan tersediri yang menggelitik hati mereka berdua.
'Inikah yang dinamakan jodoh? Kemanapun berlari pasti bertemu juga.' Gumam Rava dalam hati.
"Oma bisa kah pernikahan kami di percepat?" Tanya Rava dengan wajah serius. Dia seolah tak ingin membuang waktu lagi.
"Oww... Tentu saja. Melihat kamu semangat oma jadi senang." Jawab oma dengan sedikit kaget.
"Apa kalian sudah saling kenal?" Tanya oma penasaran.
"Yah oma, dia adalah orang yang selalu saya kagumi." Jawab Rava penuh percaya diri.
Nenek Rava hanya tersenyun, beliau terlihat bahagia namun ada rasa sedih juga. Beliau senang melihat cucunya yang sudah memiliki semangat hidup. Namun juga sedih jika nanti akhirnya mereka tak berjodoh.
Setelah berbincang cukup lama, oma menyuruh sahabatnya dan Rava istirahat di kamar.
"Oma Aurel pulang." Sapa Ken setengah berlari sambil menenteng kantung plastik. Matanya melihat sekeliling rumah namun tidak mendapati omanya. 'Kata oma tamunya udah sampek, tapi kok gak ada orang.' Batin Ken. Ken tidak mau ambil pusing, Dia langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
Ken terkejut melihat seorang lelaki tengah berdiri di dalam kamarnya.
"Maaf kamu siapa? Kamu tamunya oma ya? kamu pasti salah kamar. Kamar kamu di lantai bawah." Ucap Ken dengan sopan.
__ADS_1
"Suara ini, suara yang ku rindukan." Gumamnya.
Lelaki yang tadinya membelakangi Ken, kini berbalik melihat Ken.
"Rava" bisik Ken. Dia mematung karena terkejut melihat sosok Rava berada di dalam kamarnya. Dadanya seperti dilempar sesuatu yang berat. Ken keluar dari kamarnya, namun Rava dengan sigap menarik tangan Ken.
"Ken dengerin aku dulu. Aku minta maaf." Sambil menggenggam tangan Ken, Rava meminta maaf dengan sungguh sungguh.
"Setelah apa yang anda katakan tentang saya, apa mungkin saya memaafkan Anda. Maaf saya buakan orang yang pemaaf." tegas Ken yang membuat Rava langsung memeluknya dengan erat.
"Lepasin aku." Ken berusaha melepaskan pelukan Rava namun tidak berhasil.
"Ken, aku tau di dalam hatimu masih ada aku. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi." bujuk Rava.
Ken hanya bungkam, hatinya bergejolak namun bibirnya menolak bicara. Hati yang sudah dia tata untuk melupakan Rava kini hancur dihadapan Rava. Jika harus jujur, tidak mudah baginya melupakan Rava. Perasaannya terlalu sakit untuk sekedar diselesaikan dengan kata maaf. Terlalu rumit untuk menerika semua penjelasan.
Karena pada dasarnya, hati yang sudah nyaman dalam zona pertemanan harus di renovasi menjadi zona percintaan dan akhirnya hancur karna kepercayaan. Jika harus menata ulang kembali, zona apa yang pantas memenuhi?
"Ken, maaf. Maafkan aku yang bodoh ini. Aku tau sakit hati kamu. Cuma aku yang ngerti kamu. Maaf kalau saat itu aku ga percaya kamu."
'Rava, mungkin saya bisa memaafkan kamu. Tapi untuk kalimat 'cuma kamu yang ngerti aku' itu salah. Kamu gak ngerti aku sama sekali. Kalau memang kamu ngerti aku. Kita ga akan kayak gini sekarang.' Ken membantah pada dirinya sendiri. Kata kata itu tidak bisa dia ucapkan.
"Kamu ingetkan waktu kita sama sama. Banyak banget kenangan yang ga semestinya kita lupakan gitu aja. Yang paling penting adalah mama kamu minta aku jagain kamu. Kamu itu tanggung jawabku."
"Rava okey saya sudah maafkan kamu. Jadi tolong lepaskan saya. kamu bisa keluar dari sini dan kita batalkan perjodohan ini." ucap Ken.
"Enggak Ken, aku mau kamu. Aku ga akan lepasin kamu, ga akan."
"Lepas Rava." Ucap Ken yang bersusah payah melepaskan pelukan Rava.
"Tolong maaf kan aku." Bisik Rava tepat di depan telinga Ken.
Hanya kata maaf yang bisa terucap di bibir Rava. Tidak ada yang lain. Kini Ken hanya diam tanpa penolakan. Hatinya masih belum luluh dengan kata-kata Rava.
Setelah beberapa menit, Rava mulai merenggangkan pelukannya. Ken pun tidak menyia nyiakan hal tersebut. Dia langsung melepaskan pelukannya lalu mendorong Rava keluar kamarnya.
"Ken buka pintunya." Teriak Rava sambil mengetuk pintu kamar Ken.
"Biar oma yang bujuk ya." Ucap oma yang tadinya menghampiri Rava.
"Aurel, boleh oma masuk sayang?" Tanya oma dari balik pintu.
"Enggak oma, Aurel pengen sendiri." Tolak Ken.
__ADS_1
"Sayang kamu jangan seperti ini. Kesalah pahaman itu wajar. Rava juga sudah menyesal." Bujuk oma lagi. Namun tidak ada jawaban dari Ken. Oma Ken melihat Rava dan mengusap bahunya seolah menyemangati Rava. Rava hanya tersenyum tipis dan tetap menunggu Ken dari balik pintu.