
Setelah selesai makan malam, Ken pulang ke rumah dengan mengendarai mobilnya. Kejadian di restaurant masih saja mengusik fikirannya. Mengingat wanita itu merangkul tangan Rava membuat dadanya sedikit sakit. Dan hal yang paling membuatnya kesal adalah Rava menolak pergi dengannya tapi malah pergi dengan Jingga.
Ken menghentikan mobilnya di sebuah taman kota, dia duduk di salah satu bangku taman. Sekedar melihat orang-orang yang sedang berlalu lalang membuatnya merasa tidak sendirian. Dia tersenyum melihat orang-orang tersenyum. Dia tertawa melihat orang-orang tertawa. Begitulah cara dia menghibur dirinya sendiri. Sedikit mencuri kebahagian orang lain mungkit tidak masalah, yang penting orang itu tidak merasa kehilangan kebahagiaannya.
Setelah hatinya tertata kembali, Ken memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Didepan gerbang rumahnya, Ken melihat sebuah mobil sport berwarna hitam tengah terparkir menghalangi jalan masuk. Dia kenal dengan pemilik mobil tersebut. Ken menekan tombol remote, pintu gerbang perlahan terbuka. Mobil tersebut masuk ke halaman rumah Ken. Begitu juga Ken mengikutinya dari belakang menuju garasi.
"Ken... " panggil Rava saat melihat Ken berjalan ke pintu. Ken menoleh, lalu melihat kearah Rava dengan Wajah yang masih saja terlihat datar.
"Aku minta maaf, aku bisa jelasin." Ucap Rava dengan wajah penuh harap.
"Sebaiknya kamu pulang. Udah malem, kamu harus istirahat." Ucap Ken dengan senyum yang di paksakan. Ken langsung masuk kedalam rumahnya meninggalkan Rava. Namun Rava tetap mengikuti Ken.
"Aku tau kamu marah, makanya aku mau jelasin. Aku gak akan pulang sebelum kamu dengerin penjelasanku." Bujuk Rava.
"Aku bahkan gak punya alasan untuk marah." Ucap Ken. Dia menundukan kepalanya seakan meratapi hatinya yang sakit.
Rava meraih tangan Ken lalu mengajaknya duduk. Dia masih menggenggam tangan Ken sembari mengumpulkan kata-kata penjelasannya.
"Sore tadi aku pergi kerumah sakit menemani nenek cek up. Aku nganter nenek pulang, lalu Jingga datang bersama tante Hera. Waktu aku mau pulang, tante nyuruh aku nganter Jingga, karena Jingga gak bawa mobil. Jadi aku nganter dia." Jelas Rava yang masih megang lembut tangan kiri Ken.
"Nah .. pas dijalan dia ngajak mampir sebentar, katanya dia belum makan dari siang. Ya udah aku ajak makan. Takutnya dia pingsan, malah tambah repot lagi urusannya." Lanjut Rava.
Ken mengangkat kepalanya, dia melihat wajah Rava. Ada rasa bersalah terlukis di matanya.
"Va, aku gak papa kok. Maaf ya aku salah paham sama kamu." Ucap Ken dengan senyum bersalah.
"Kamu gak salah, aku yang salah karna gak ngasih tahu kamu dari awal." Ucap Rava.
Setelah keduanya berbaikan, Rava pamit pulang.
"Aku pulang ya, udah malem." Pamit Rava. Ken hanya menganggukkan kepalanya lalu mencium tangan Rava.
"Kamu istirahat." Ucap Rava sambil mengecup kening Ken.
"Kamu hati-hati di jalan." Ucap Ken yang masih kaget karena belum terbiasa dengan kecupan tiba-tiba dari Rava.
'Cinta datang memang tanpa permisi, tapi bahagia dan sakit adalah pertanda kita sudah jatuh cinta. Bahagia bila bersama dan sakit bila melihatnya dengan yang lain.'
__ADS_1
Kali ini tanpa disadari Ken mulai jatuh cinta dengan Rava. Berada didekat Rava menciptakan kenyamanan tersendiri di hati Ken. Melihat Rava dengan wanita lain, ada sedikit perih dalam hatinya. Yah begitulah cara kerja cinta.
***
'Dreeettttt... dreeeettttt..... ' suara Hp Ken berbunyi.
Ken meraba-raba kasur untuk mencari keberadaan Hpnya.
'Hallo...' sapa Ken dengan suara berat khas bangun tidur.
'Aku di depan gerbang rumah kamu.' Ucap suara di balik telvon.
'APAAAA...' teriak Ken lalu melihat kearah Hpnya. 'Hahhh... jam 10' gumam Ken.
'Hallo... Ken.' Panggil suara dari balik televon.
'Oke bentar ya....' Jawab Ken yang buru-buru bangkit dari tempat tidurnya.
Ken berjalan keluar kamarnya dengan rambut yang sudah dia ikat namun masih sedikit berantakan. Sampai di teras, Ken memencet remote pagarnya. Terlihat sebuah mobil masuk kehalaman rumahnya.
Rava melihat Ken yang mengenakan kaus oblong dengan celana pendek, langsung menelan salivanya. Dia mengalihkan pandangannya ke sekitar rumah Ken.
"Ayo masuk dulu." Ucap Ken. Mereka masuk kerumah Ken.
"Kamu duduk disini dulu ya. Aku mandi bentar." Ucap Ken langsung berlari ke kamarnya.
Rava duduk disofa sambil memainkan Hpnya. Tak lama seorang pelayan datang mengantarkan teh dan potongan buah.
"Makasi bik." Ucap Rava. Bik Lela tersenyum lalu kembali ke dapur.
Didalam Kamarnya, Ken masih mencaci dirinya sendiri. 'Kok aku bisa lupa sih, begok banget. Kenapa coba alarm ini ku matikan.' Gerutunya. Ken langsung mandi dan bersiap-siap. Dia mengenakan blus lengan panjang berwarna coklat susu dan rok putih selutut agar selaras dengan Rava yang mengenakan kemeja putih dan celana berwarna coklat susu. Setelah memoles wajahnya, Ken turun dengan tas kecil yang dia gantungkan dibahunya.
"Yuk berangkat.." ajak Ken.
"Sarapan dulu sana." Ucap Rava yang asik melihat siaran kartoon.
"Gak usah nanti kamu kelamaan nunggu aku." Tolak Ken.
__ADS_1
"Ya udah, kita gak pergi." Ucap Rava santai.
"Oke... fine...." ucap Ken pasrah, dia langsung berjalan ke meja makan. "Kamu gak ikut sarapan?" Tanya Ken.
"Enggak. Udah sarapan di rumah." Ucap Rava.
"Siapa tau laper lagi gara-gara nungguin aku." Ucap Ken asal. Rava hanya diam memperhatikan kartoon yang dia tonton.
Setelah Ken selesai sarapan, mereka langsung berangkat.
"Kita mau kemana si sebenernya?" Tanya Ken.
"Mau ketemu Tayo." Jawab Rava yang masih fokus mengemudi.
"Kapan-kapan kita ketemu Mr. Crab yuk." Bujuk Ken dengan penuh senyuman.
"Males, jauh." Jawab Rava singkat. Ken langsung mengerutkan bibirnya.
"Selama aku cerita nanti, kamu jangan banyak nanya ya. Kamu cukup dengerin aku aja." ucap Rava.
"Emang kamu mau cerita apa sih?" Ken penasaran. Namun Rava hanya tersenyum.
Setelah perjalanan 45 menit, akhirnya mereka berhenti disebuah toko cake. Rava dan Ken turun dari mobil. Ken masih bingung, mengapa mereka berhenti di sini.
"Kamu tunggu disini ya." Pinta Rava pada Ken agar tetap berdiri di depan toko tepatnya sekitar 5 langkah didepan pintu masuk. Ken menurutinya lalu Rava masuk ke dalam toko. Tak lama Rava keluar membawa sebuah cake coklat mini. Dia berjalan mendekati Ken.
"Sepuluh tahun lalu aku kesini, mau beli kue ulang tahun untukku sendiri. Dia keliatan gelisah sambil nelvon seseorang, aku ga tau siapa. Tiba-tiba aja ibu itu hampirin aku disini, tepat di tempat kamu berdiri. Dia keliatam panik banget. Dia ngasih aku kue ulang tahun." Rava bercerita dengan serius sambil memberikan cake yang dia beli kepada Ken. Ken menerimanya dengan ekspresi bingung. Karena ia tidak paham dengan cerita Rava dan apa hubingannya dengan dia.
"Lalu Ibu itu minta tolong aku untuk ngasih kue ulang tahun itu ke seseorang. Setelah memberikan sebuah foto, Ibu itu segera pergi. Kayaknya dia buru-buru." Rava berhenti sejenak mengambil nafas. Rava meraih tangan Ken mengajaknya masuk ke dalam mobil.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka tanpa sepatah kata pun selama 15 menit perjalanan. Mereka berhenti di sebuah taman hiburan. Lalu Rava mengajak Ken masuk sambil memegang tangannya. Mereka duduk di sebuah kursi besi.
"Satu hal yang ku ingat sampai sekarang. Sebelum ibu itu pergi. Ibu itu bilang, 'Tolong jagakan anak saya sampai saya datang.' Lanjut Rava.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hai para pembaca setiaku atau kamu yang tak sengaja mampir. Mohon tinggalkan like, dan komentarnya ya. Author butuh kritik dan saran kalian.... Jika tidak keberatan vote juga yaaa....
__ADS_1